Skip to content

Kenikmatan dengan suami orang lain

image

Aku baru saja selesai mandi saat HP-ku berdering. Dari nada deringnya dapat kuketahui kalau dering itu dari nomor telepon salah seorang klienku. Dengan dalam keadaan masih telanjang bulat aku bergegas keluar dari kamar mandi, yang langsung tembus ke kamarku, kamar mandiku memang terletak di dalam kamar.
Sambil mengeringkan badanku dengan handuk, aku menerima telepon dari rumah Pak Budi, seorang klienku.
“Hallo..! Selamat sore”, sapaku setelah menekan tombol.
“Hallo..! Sore Dok..!” balas suara anak kecil di seberang sana. Aku segera bisa mengenali suara di seberang sana, ini adalah suara Andi putra semata wayang Pak Budi.
“Hai..! Andi ya? Ada apa Ndi?” tanyaku.
“Dok! Carla baru saja melahirkan, cepet dong ke rumah”, pinta Andi kekanak-kanakan. Andi memang baru berusia 6 tahun, dan Carla yang dimaksud adalah nama anjingnya yang berjenis mini pincher, bentuknya seperti anjing doberman namun kecil sekali oleh karena itu disebut mini pincher. “Lahir berapa anaknya Ndi?” tanyaku lagi. “Ndak tau Dok! Papa yang tungguin sekarang, dokter ke sini
dong!” cerocos Andi lagi.
“Baiklah aku langsung ke sana sekarang, tunggu aja ya”
sahutku.
“Terima kasih Dok! Daah..!” sambung Andi sambil menutup
telepon tanpa menunggu jawaban dariku lagi.
Selesai berbicara dengan Andi melalui telepon, aku pun segera
mengenakan pakaian. Aku memakai hem longgar kotak-kotak
warna merah maroon yang serasi warnanya dengan rok miniku
yang juga berwarna merah maroon. Selesai berpakaian aku
bergegas menuju ke rumah Pak Budi di kawasan elite
Margorejo Indah.
Sesampai di rumah Pak Budi ternyata Andi sudah
menungguku di halaman rumahnya bersama seorang baby
sitter. Satpam langsung membuka pintu pagar
mempersilakanku untuk langsung masuk. Rumah Pak budi
memang cukup besar seperti rumah-rumah lainnya di sekitar
perumahan Margorejo Indah, halamannya juga luas. Kuparkir
mobilku di depan garasi di samping mobil mewah milik Pak
Budi, kontras sekali dengan mobilku yang butut keluaran
tahun 90-an.
Begitu turun dari mobil, Andi langsung menggandeng
tanganku mengajakku masuk. Kami masuk lewat garasi yang
langsung tembus ke dapur yang letaknya bersebelahan dengan
ruang makan. Di samping ruang makan ada pintu menuju
halaman belakang. Di salah satu pojok dekat kamar pembantu,
di situlah rupanya tempat yang telah disediakan untuk Carla
melakukan proses kelahiran. Pak Budi tampak sedang
berjongkok di dekat box tempat Carla melahirkan.
“Sore Pak Budi” sapaku.
“Ee.. Lia..! Sore.., aduh maaf sudah bikin repot”, sambut Pak
Budi ramah.
“Ini si Andi yang bingung terus sejak tadi” tambah Pak Budi.
“Sudah lahir berapa ekor Pak?” tanyaku pada Pak Budi.
“Sudah dua ekor dan keduanya betina, sepertinya masih ada
lagi di dalam” jelas Pak Budi padaku.
“Ayo gantian, sekarang ahlinya sudah datang dan aku akan
mandi dulu” Imbuh Pak Budi sambil mempersilakanku
menempati posisinya.
Aku mendekat ke box tempat Carla melahirkan bayi-bayinya
yang mungil, sementara itu Pak Budi naik ke lantai dua
rumahnya, mungkin bersiap-siap untuk mandi. Aku ditemani
Andi tetap menunggui Carla yang tampaknya sudah mulai
gelisah lagi, pertanda anaknya yang ketiga akan lahir.
Saking asyiknya aku menunggui bayi ketiga Carla lahir, rupanya
aku tidak sadar bahwa posisiku sedang berjongkok saat itu
hingga otomatis pahaku bagian belakang terbuka lebar karena
rok miniku bawahannya memang sangat lebar. Memang rok
seperti ini biasanya dipakai oleh para cheerleader hingga
dengan sendirinya kalau dilihat dari depan arahku berjongkok,
semua isi dalam rok miniku dapat terlihat dengan jelas oleh
Andi yang duduk di lantai tepat di hadapanku.
Rupa-rupanya si kecil ini sejak tadi telah tertegun memandang
isi rok miniku. Aku memang memakai CD, namun CD-ku sangat
mini, terbuat dari renda yang ukurannya hanya selebar jari
melingkar di pinggangku, selebihnya juga berupa renda yang
ukurannya sama tersambung dari belakang pinggangku, turun
ke bawah melalui lipatan pantat melingkari selangkanganku.
Hanya bagian depannya saja ada penutup yang ukurannya tak
lebih dari seukuran dua jari berbentuk hati menutupi bagian
depan liang vaginaku, sehingga CD warna merah yang
kukenakan ini tidak mampu menutupi bulu kemaluanku yang
menyeruak keluar dari celah-celah lipatannya. Rupanya bulu-
bulu kemaluanku inilah yang menarik perhatian Andi.
“Dok! Itu kok ada rambutnya?” tanya Andi keheranan sambil
menuding ke arah pangkal pahaku.
Aku cukup terkejut dan langsung mengubah posisiku. Kini aku
berlutut di depan box. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan
Andi, untung saja bersamaan dengan itu dari arah belakang
saat kutengok ternyata Pak Budi datang menghampiri kami.
Pak Budi rupanya sudah selesai mandi. Saat ini dia memakai
celana pendek longgar dan T Shirt. Namun tiba-tiba Andi
berkata pada ayahnya..
“Pa! Bu dokter sininya ada rambutnya” lapor Andi pada Pak
Budi sambil menunjuk ke arah selangkangannya sendiri.
Mukaku langsung memerah karena jengah, untung saja Pak
Andi cukup bijak dan langsung menegur Andi.
“Hush, tidak boleh ngomong begitu”. Andi rupanya masih
belum mengerti mengapa papanya melarangnya bertanya. Tak
lama kemudian Bu Lusi istri Pak Budi muncul dan menyapaku..
“Hey Nat! Sudah lama?” sapa Bu Lusi, Bu Lusi memang biasa
menyapaku “Nat”, kalau Pak Budi lebih suka menyapaku “Lia”,
tidak masalah bagiku.
“Ooh..! Selamat sore Bu!” sahutku pada sapaan Bu Lusi.
“Eeh..! Nat! Kamu di sini dulu ya, nanti makan di sini sekalian
saja, kita makan malam sama-sama, aku sekarang mau ngantar
Andi ke ulang tahun temannya sebentar, kita tidak akan lama
kok, paling cuma kasih kado sebentar terus langsung pulang”
demikian jelas Bu Lusi padaku, rupanya Bu Lusi akan pergi
mengantar Andi yang memang sejak tadi tampak sudah selesai
mandi.
Akhirnya Bu Lusi pergi mengajak Andi yang didampingi baby
sitternya. Tinggallah aku di rumah besar itu bersama Pak Budi
dan beberapa pembantunya, namun saat ini pembantu Pak
Andi sedang sibuk di halaman rumah depan, ada yang
menyapu halaman, ada yang menyiram taman dan yang satu
lagi sedang membersihkan ruang tamu. Ini kuketahui saat aku
datang tadi.
Kini tinggallah aku berdua dengan Pak Budi di teras halaman
belakang yang cukup luas, untung Pak Budi tidak lama berdiri
di dekatku. Pak Budi duduk di sofa teras belakang, yang
letaknya di belakangku, jadi aku memunggunginya tapi
jaraknya agak jauh, karena posisinya yang menghadap ke
arahku maka saat aku sedikit membungkuk sewaktu
membantu proses kelahiran Carla, tanpa kusadari bagian
belakang rok miniku sedikit terangkat.
Karena rok yang kukenakan mini sekali maka begitu terangkat
sedikit bentuk pantatku dapat terlihat dengan jelas oleh Pak
Budi yang duduknya memang agak jauh dariku, namun posisi
ini justru lebih menguntungkan baginya. Dengan jelas sekali
Pak Budi memperhatikan lekuk belahan pantat dan pahaku
bagian atas yang mulus itu. Pemandangan ini rupanya cukup
membuat Pak Budi horny hingga dia sudah tidak tahan lagi,
kemudian berdiri dan berjalan mendekatiku.
“Lia..! Tadi yang dimaksud Andi rambut apa toh?” Tanya Pak
Budi pura-pura ingin tahu. Aku sedikit terkejut dengan
pertanyaannya.
“Aaah..! Pak Budi ini kok ikutan tanya yang bukan-bukan?”
sahutku tersipu malu.
Pak Budi ikut berjongkok di sampingku, tidak lama kemudian
kedua tangannya meraih lenganku dan mengangkatku berdiri,
kami pun berdiri berhadap-hadapan. Seketika itu juga Pak Budi
langsung menciumku. Aku berusaha mengelak, namun Pak
Budi lebih agresif memeluk sambil melumat bibirku.
Usia Pak Budi sekitar 35 tahun, wajahnya lumayan ganteng,
badannya tegap dan gagah. Lumatannya membuatku horny,
terlebih saat tangannya mulai menyusup ke dalam rok miniku,
tangannya mengelus bagian depan pahaku hingga membuatku
terangsang dan sedikit tak berdaya.
Akhirnya aku pun mulai berani membalas lumatan bibirnya.
Kami berpagutan sambil berdiri, sementara tangan Pak Budi
menyusup semakin ke atas pahaku, kurasakan jari-jari
tangannya mulai menyentuh ujung CD-ku. Aku merasakan
sebuah rangsangan yang cukup dahsyat, terlebih saat jari-jari
tangan Pak Budi mulai menjelajah di selangkanganku. Vaginaku
diremas-remas dari luar CD-ku, bibirnya tetap tidak berhenti
melumat bibirku, lidahnya dijulurkan ke dalam mulutku, aku
pun membalas dengan menghisapnya, demikian pula
sebaliknya, kujulurkan lidahku ke dalam mulut Pak Budi dan
Pak Budi langsung melumat dan menghisap lidahku.
Merasa tempat kami saat ini kurang aman dan bisa tiba-tiba
kepergok oleh pembantunya, maka Pak Budi membisiki
telingaku sambil mengajakku masuk ke dalam. Pak Budi
rupanya juga tahu kalau posisiku saat ini sudah tidak mungkin
lagi menolak, karena aku sudah benar-benar terangsang
olehnya hingga ujung CD-ku juga sudah lembab oleh elusan
jari-jarinya. Maka aku pun mengikuti Pak Budi dari belakang
saat ia masuk menuju ruang keluarga dan kami menyelinap ke
sebuah kamar tidur yang biasa mereka pakai kalau ada tamu
atau kerabat yang datang menginap.
Setelah menutup dan mengunci pintu dari dalam, Pak Budi
langsung menciumku kembali sambil merebahkan tubuhku ke
tempat tidur. Kakiku masih terjuntai ke bawah sehingga
posisiku yang telentang begini membuat bagian depan rok
miniku terangkat sampai pangkal paha.
Tangan Pak Budi langsung mengelus selangkanganku yang
tersembul keluar, jari tangannya segera disusupkan ke dalam
CD-ku melalui ujung lipatannya. Ujung jari Pak Budi langsung
dapat menyentuh bibir vaginaku dengan mudahnya. Dielus
dan digesek-gesekkannya bibir vaginaku dengan jarinya,
sementara jari telunjuknya mengorek-ngorek klitorisku.
Tangan kirinya mulai membuka kancing hem-ku satu persatu
hingga buah dadaku langsung terpampang dengan jelas karena
aku tidak memakai BH. Seperti kisahku terdahulu, aku memang
sejak kecil tidak suka dan tidak terbiasa mengenakan BH
hingga hingga kini usiaku sudah 28 tahun, aku tetap tidak
pernah memakai BH, jadi tak heranlah kalau aku juga tidak
tahu berapa besar ukuran payudaraku.
Yang jelas payudaraku tidak terlalu besar bentuknya, namun
sangat indah dan berwarna sedikit merah muda agak
kecoklatan di puting dan sekitarnya. Kini payudaraku pun
sudah mulai mengeras, dan giliran mulut Pak Budi turun
mengulum kedua payudaraku secara bergantian. Dihisapnya
puting susuku sambil memainkan ujung lidahnya di ujung
puting susuku.
Tangan kanan Pak Budi mencari dan melepas pengait rok
miniku dan kubiarkan saja bahkan kuangkat sedikit
pinggangku agar dia lebih mudah melepas pengait rok-ku,
kemudian ditarik dan dilemparkannya begitu saja ke lantai.
Langsung saja sisa penutup alat vitalku ditariknya ke bawah,
kakiku pun membantu melepas CD yang kukenakan.
Serta merta Pak budi langsung saja membenamkan wajahnya
di selangkanganku sambil tangannya membuka kedua pahaku
lebar-lebar. Posisinya sekarang berjongkok di tepian tempat
tidur dan wajahnya berada tepat di pangkal pahaku, bibirnya
mengulum bibir kemaluanku dengan lembut, lidahnya
dijulurkannya di antara lipatan bibir vaginaku.
“Ayo masukin dong Pak!” pintaku pada Pak Budi.
Mungkin karena Pak Budi juga tak ingin ketahuan istrinya yang
mungkin saja tiba-tiba pulang, maka ia pun begegas melepas
celananya. Batang kemaluannya yang tidak terlalu besar,
ukurannya biasa saja, langsung ditancapkannya ke dalam liang
vaginaku.
Kami bermain tidak terlalu lama karena takut istrinya tiba-tiba
muncul, namun kami merasakan orgasme secara bersama-
sama saat itu. Sungguh sangat berkesan sekali kejadian itu.
Enak juga ML sambil curi-curi karena takut ketahuan.
E N D

Nikmatnya ngewe dubur

image

Ini cerita gue pertama kali gue melakukan “Anal sex”,
hubungan sex lewat Anus (dubur), ternyata
lebih enak…..dari pada lubang yang di depan..
Sebut saja nama gue Doddy , kebetulan gue
punya hobby “ngebreak” Suatu kali gue ngobrol
sama yang namanya Tia (sebut aje gitu) sampai
akhirnya gue janjian ketemu sama dia di
Restoran. Orangnya sih kalau dari tampang
biasa aja,umurnya baru 24 tahun tapi yang
membuat gue tertarik, cara dia berpakaian, dia
pakai celana jin’s ketat di tambah t-shirt yang
ngepres jadi itu tonjolan sigunung kembar,
bikin mata laki laki melotot..waktu gue salaman
tanganya hangat, halus putih terus ada sedikit
bulu bulu lembut, diotak gue kepikir gimana ya
kalau orang ini bugil? pasti lebat punya bulu
bawahnya, ternyata kalau lagi tersenyum..Cakep
juga ya..terus do’i duduk disamping gue, tapi
ni cewek duduknya rapet banget padahal
sebelah sana masih lega (kebetulan…deh) dan
bau parfumnya bikin gue napsu aje….akhirnya
ya gue sering banget jalan sama do’i padahal
kita masing masing sudah punya pacar dan
do’i juga punya cowok makanya kita sering
diam diam kencan ketemu setelah pulang
kantor .
Selama ini gue kalau kencan cuma duduk
sambil cerita sana sini, Suatu ketika waktu gue
kencan sama do’i, cerita gue agak kearah porno
dan do’i kayaknya interest banget sama cerita
gue, kan gue waktu cerita posisi duduknya
rapet banget sampai muka dia deket banget
sama muka gue, akhirnya gue juga yang napsu,
gue Cium aja pipinya, eh dia diem aja malah
tersenyum, terus die bilang : “kalau mau cium,
jangan sampingnya… tengahnya
dong” (kebetulan pikir gue) ya udah gue beri
bibirnya yang mungil itu. nggak tahu dia
sengaja apa kagak, tangannya megang peler gue
yang lagi tiduran dalam celana, “eh sorry ya
mas nggak sengaja” katanya sambil
menundukkan kepala karena malu , terus gue
jawab”nggak apa apa kok git…asal jangan lama
lama”. Emang kenapa, kalau megang yang
lama..? tanya Tia, terus gue bilang “nanti
bangun”, eh diluar dugaan dia bilang “liat
boleh nggak, kalau lagi bangun..”, “boleh aja “
jawab gue sambil senyum.
Hari hari berikutnya jadwal kencan gue makin
lebih sering, sampai suatu ketika ada
kesempatan gue jalan sama Tia pas malem
minggu. Gue ajak ke Puncak terus ngobrol aja
di Riung Gunung, terus dia bilang sama gue “
Mas kita cari villa yuk, disini dingin
banget” (Wah dalam hati gue…ni die yang gue
tunggu). Cuma gue sok alim gue bilang “ya Tia
mending kita pulang aja, sebab kalau kita
nginap besok pulang pagi Tia di marahin sama
papa dan mama”, dia jawab ah tenang aja nanti
Tia yang Atur…(Siplah). akhhirnya kita jalan cari
villa sampai malem tapi dapat juga. Di villa itu
do’i, gue cium abis abisan sampai gue ngaceng
banget, tiba tiba dia bangun terus dia lepasin
celana Jin’snya sambil ngomong “Ah enakan
gini, bebas”, terus naik ke ranjang lagi sambil
tarik selimut tebal (buat basa basi keliatannya).
Gue buka juga celana jin’s gue, sementara
diluar hujan mulai turun, Wah anget juga
pelukan sama Tia, lanjutin lagi acara cium
mencium, sambil gue coba raba dia punya
buah dada yang lumayan Montok (34B lebih
kali), tapi Tia tidak berontak malahan dia bantu
tangan gue ngeremes teteknya yang kenyal dan
mulai mengeras, gue bisikin ” Git….bh nya
buka aja ya..dia cuma jawab “Kaitannya
dibelakang mas” sambil membelakangi gue,
tanpa ragu lagi buka semua kancing bajunya
terus bh juga gue copot, sekarang sama sama
tinggal pakai celana dalem aja, akhirnya
selimut penutup gue singkap aja ,wah bodinya
putih banget dia jadi malu tapi buru buru gue
dekap terus gue jilatin dia punya puting,
rupanya dia mulai napsu juga, terus dia bilang
“Mas ini digesekin dong kebawah” dia
ngomong sambil pegang peler gue yang
ngaceng keras dari tadi. ya gue turutin (emang
mau gue sih) sampai lama juga, nggesekin
peler gue di memeknya Tia dia sempat orgasme
2 kali, terus dia bi lang “Capek..ya mas, mau
gantian saya yang diatas ?.” terus gue bilang “ya
nanti ya… kita santai dulu”.
Diluar dugaan gue, waktu gue lagi santai sambil
ngerokok, sementara Tia tiduran di dada gue
tiba tiba tangan dia ngerogoh masuk ke celana
dalam gue, terus dikeluarin peler gue yang lagi
ngaceng itu lewat samping bawah celana dalam
gue, terus dia kocok pelan pelan, “gede juga ya
mas..?” gue jawab “Ach.. masak sih” .. Tadinya
gue pikir cuma mau dimainin doang, kagak
taunya di isap juga (kaget juga gue, kagak
nyangka), tapi gue pura pura kagak tau,
akhirnya gue nggak mau kalah, gue bangun atur
posisi gue tiduran diantara kedua pahanya
sambil gue ciumin dia punya memek walaupun
masih pakai celana dalem, nggak lama
kemudian gue tarik celana dalamnya pelan
pelan, Tia juga membantu dengan mengangat
pantatnya, pelan pelan celana dalamnya gue
tarik sampai mulai keliatan rambut jembutnya,
yang tebal dan hitam pekat serta garis belahan
memeknya yang rapat Itu , gue belai dia punya
jembut terus gue buka memeknya yang rapat
itu, kelihatan bagian dalam masih kecil sekali
lubangnya dan masih pink warnaya, gue jilatin
bagian bibir memeknya, ujung lidah gue
mainin klitorisnya, membuat Tia mendesah
halus, sambil memejamkan matanya.
Waktu gue rubah posisi 69, tanpa diminta dia
isap peler gue, sekali lagi gue jilatin
memeknya, terus gue kulum klitorisnya,
sampai dia berhenti isap gue punya peler dan
badannya meregang, pinggulnya diangkat
keatas sambil mendesah “akhhhh….mas Tia
nggak tahan nich….ochhhh” matanya merem
sambil merintih dia buka lebar lebar kedua
belah pahanya, posisinya bikin gue makin
napsu. Akhirnya gue pindah posisi siap
tempur, gue tempelin peler gue ke memeknya,
tapi buru buru dia cegah sambil dia pegangin
peler gue yang udah keras sambil bilang “Mas
jangan dimasukin…., Tia masih perawan kalau
mas nggak percaya liat aja, gue penasaran gue
nyalain lampu disamping ranjang, gue buka
belahan memeknya bener juga, lubangnya kecil
banget, cuma bisa masukin pentol korek api
kali. terus dia bilang “ya kan mas,.swer saya
belum pernah melakukan senggama, cowok Tia
cuma berani cium bibir doang..” akhirnya gue
jadi lemes juga dan duduk disamping Tia,
rupanya dia bisa baca kekecewaan gue, terus
dia tanya “mas marah ya..?” gue jawab
“nggak” ,terus dia bilang “pokoknya Tia akan
bantu mas Doddy sampai bisa keluar juga” ,
ucap Tia sambil menggegam peler gue yang
masih ngaceng itu.
Terus gue tanya lagi “git..apa kamu pernah
lakukan kayak sekarang sama cowok selain
saya…?. Dia bilang belum pernah, dan ini baru
pertama kali, hanya saja dia sering lihat film BF
dan majalah porno dirumah temen sekerja tapi
belum pernah lakukan, terus aku tanyain “kalau
nafsu kamu muncul gimana tuh..? tanpa basa
basi dia bilang “paling Tia onani, saya mas
kalau onani bisa bisa seminggu 3X lho mas” .
Gue tanya caranya gimana…git, terus dia bilang
“gampangkan ya…kunci kamar matiin lampu
berbugil ria sambil taroin guling atau sudutnya
bantal di selangkangan terus di gesek gesek,
sampai terasa keluar baru tidur, mas Tia kalau
lagi nafsu bisa sampai 4,5 kali keluar,
udahannya kadang ketiduran karena kecapean
sambil bugil, terus kalau bangun pagi kadang
sekali atau 2x lagi” ,terus gue bilang “wah gede
juga napsu kamu git..
Dia hanya senyum sambil terus coba “coliin”
gue punya peler, terus lagi lagi dia hisap dan
jilat pala peler sampai biji gue dikulum juga,
dia nungging diatas gue dengan posisi 69 gitu
jelas betul gue liat pantatnya yang putih serta
lubang duburnya kecoklatan, bulu jembutnya
Tia. maka gue coba mainin aja itilnya, jari jari
gue sementara jari tengah gue gue masukin
dikit dikit ke liang duburnya, cukup lama juga
sampai memeknya basah betul, sampai Tia
kelojotan. Do’i bilang “mas kok lama bener sih,
nggak keluar keluar..”. Gue diam aje, akhirnya
gue bilang “gini deh Tia, gimana kalau
dimasukin lewat dubur aja dari pada kamu
capek..?. Mulanya dia menolak takut rusak dan
sakit tapi gue jelaskan sampai akhir dia bilang
“ya deh mas, tapi coba dulu ya, tapi nanti kalau
sakit buru buru cabut ya…?.
Beres kata gue sambil rubah posisi, gue suruh
dia basahin peler gue pake ludah do’i sampai
peler gue basah betul. Peler gue yang masih
basah oleh ludahnya Tia itu gue coba arahin ke
liang duburnya Tia dan Tia ambil posisi
nungging palanya dibantal sambil kedua
tangannya kebelakang membantu membuka
belahan pantatnya, sehingga jelas terlihat
lubang duburnya, gue coba kasih ludah gue di
permukaan duburnya, sambil coba masukin
pala peler keliang dubur Tia. Mulanya memang
susah masuknya, sempit betul tapi gue
pegangin batang peler gue sampai pala peler
gue keras terus gue dorong dengan ludah
sebagai pelicin, masuk juga pala peler gue, do’i
meringis kesakitan terus gue berhenti tapi
posisi pala peler gue masih dalam dubur, gue
membungkuk dada gue rapet ke punggung Tia,
tangan gue berusaha mainin itilnya Tia “aduh
mas sakit tapi enak ohhh..mas… pssst ahhhh”
rintihan Tia bikin gue makin napsu aja, baca
cerita anal lainay di ceritaserudewasa.info
sambil gue tekan terus pelan tapi pasti sampai
susah betul dan macet pas sampai batas leher
peler, gue bilang sama dia “Wah git kalau ada
minyak pelicin enak nih git..,terus Tia sambil
menyeringai bilang “di tas Tia ada hand body,
bisa nggak mas…?” ,ya di coba deh sambil
mencabut kembali pala peler gue.
Tia bangun di ambil hand body, dia tuangin ke
tangannya terus olesin pakai tapak tangan
kepeler gue sampai pangkal sekalian kantung
biji gue, sisanya dia olesin ke lubang
duburnya, usaha di coba lagi dan ternyata
lebih enak, sampai peler gue masuk abis, dan
gue ayun pelan pelan……enak banget gue
sampai nggak tahan akhirnya air mani gue
muncrat juga dalem duburnya Tia, terus
rasanya gue keluar banyak banget, itu nggak
lama setelah Tia dalam kondisi orgasme juga,
makanya waktu Tia orgasme itu, lubang
duburnya ngepres banget, akhirnya gue lemes
dan tiduran dalam posisi nyamping dari
belakang tapi peler gue tetap gue biarin aja
dalam duburnya, nggak lama kemudian gue
cabut “aduh ngilu tapi enak” terus tidurlah
dalam keadaan telanjang bulat berdua, nggak
terasa matahari udah nongol.
Sore hari sebelum check out sekali lagi,
dikamar mandi, waktu kita saling nyabunin, dia
tau peler gue ngaceng lagi “Mas bangun lagi
tuh” lalu saya bilang,” masukin lagi ya….sayang
ya.?, Tia tersenyum sambil membalikan tubuh,
badannya membungkuk tangannya pegangan
bak mandi, sementara peler gue yang masih
basah sama sabun mencari sasaran lubang
dubur, dapat dan saya dorong masuk blesss,
Tia menyeringai “Ohhhh”, permainan di ulang
kembali dengan berbagai posisi, tetapi tetap si
peler ke lubang dubur. perbuatan ini akhirnya
sering gue lakukan, karena si Tia juga
mendapatkan kepuasan sendiri sampai kalau
dia lagi kangen tapi nggak ketemu, dia onani
sambil jarinya dimasukin ke dubur.akhirnya
kita masing masing merit, dan bubar. ternyata
ngewek lewat dubur itu lebih Assssoy….tapi
ingat kawan kalau sudah masuk dubur jangan
masukin ke memek lagi, itu berbahaya kata
“nenek” eh,salah kata dokter. jadi pilih mana..?
snip atau snap…..yang enak dua duanya.

Adegan live show ngentot

image

pagi setelah aku mendapat tlp dari
seorang teman ku sebut saja dia”A”,dia mengabarkan
bahwa bulan ini dia nengajak bertemu karena ada masalah yang harus dii selesaikan,biasa
dia adalah sohipku karena keretakan rumah tangga yang sering menderunya aku sebagai sarana pelepas penat untuk curhat.Teman ku adalah cewek berumur 24 tahun,ortunya yang sangat diktator
menyebabkan dia kawin muda.Singkat cerita akhirnya aku menolak ajakan bertemu sebab aku ada acara untuk holiday ke surabaya,aku bilang ke dia”lain kali saja,akhirnya aku sepakat dengan tidak mengecewakan dia aku sengaja janji setelah pulang dari surabaya nanti aku pasti menemuinya.Apa kabar sobat ceritadewasaseks.com perkenalkan dulu Namaku Doni, aku tinggal di kota K. Tanggal 22 Mei 1999 yang lalu aku pergi ke
Surabaya untuk liburan, sambil refreshinglah. Setelah
berputar-putar sebentar, sorenya aku menuju rumah temanku yang sudah sangat akrab di kawasan DK. Keluarganya sudah sangat akrab dengan keluargaku, sudah seperti satu keluarga sejak aku lahir. Di rumah ini ada Mas Zani yang umurnya 22 tahun, adiknya (cewek, masih SMU), sepupunya (cewek sudah sekitar 23 tahun), dan tentu saja kedua orang tua mereka. Hari itu biasa saja, tidak ada something spesial yang terjadi.
Keesokan harinya, Mas Zani mengajakku pergi makan dan jalan-jalan di mall. Eh.., ternyata dia mengajak ceweknya.Ternyata ceweknya ini kost cuma sekitar 300 meter dari rumah Mas Zani. Namanya Yeni tapi panggilannya Yeyen. Anaknya cakep juga, masih kuliah, umurnya 21 tahun. Kulitnya putih kekuningan meskipun keturunan Jawa tulen, tingginya sekitar 164 cm, beratnya 46 kg, tapi pinggulnya cukup besar, bodinya asyik juga, dan payudaranya lebih besar dari rata-rata cewek
Indonesia. So, dengan mobil Panther itu Mas Zani dan Yeyen duduk berdua di depan sedangkan aku yang duduk di bagian tengah dicuekin oleh mereka. Kami berputar-putar di
Tunjungan Plaza, makan di sebuah restoran sea food sampai
kenyang lalu kembali lagi ke tempat kos Yeyen.
Lalu setelah mobil diparkir, kami bertiga masuk ke tempat
kosnya dan langsung masuk kamarnya. Hmm.., sempat terpikir
olehku, sebenarnya itu tempat kos cewek atau cowok, soalnya
ada beberapa ciban (banci) yang nongkrong di situ. Di dalam
kamar Yeyen, aku disetelin sebuah VCD porno, sambil diberi
coklat Silver Queen, sementara Mas Zani dan Yeyen
bermesraan berdua, berciuman dan bercumbu. Ah.., aku juga
sempat berkenalan dengan adik Yeyen yang bernama Lenny,
yang mondar-mandir keluar masuk kamar.
Lenny bertubuh lebih pendek dari Yeyen, lebih coklat kulitnya,
dan bodinya lebih langsing, cuma sayangnya payudara dan
pantatnya juga lebih “tidak menantang” dibandingkan Yeyen.
Cuma yang lebih disayangkan lagi Lenny seorang perokok
berat dan hari itu dia sedang sakit tenggorokan. Setelah selesai
menyetel VCD-nya sampai 45 menit non-stop, Aku matikan TV
dan playernya. Eh, tiba-tiba Mas Zani nyeletuk, “Don.., kasih
waktu 5 menit, dong..?”
Aku sudah mulai merasakan gelagat kurang baik dari pasangan
itu. Tapi ya terpaksa, aku melenggang keluar kamar, tapi baru
sampai di pintu, aku lihat di ruang tamu banyak ciban yang lagi
ngobrol dengan Lenny sambil merokok. kemudian akupun
kembali ke kamar Yeyen.
Lalu aku berkata, “Ah tidak usah dech, aku di sini saja, lagi
tidak mood ngobrol sama orang-orang itu. Lakuin saja deh,
aku tidak ngeliat”.
Terus terang saja Mas Zani kaget, “Heh! Kon ‘jik cilik ngono
kok..” (kamu itu masih kecil gitu kok).
Kesel juga aku dibilang masih kecil. Lalu aku berusaha
meyakinkan mereka, “Jangan kuatir lah.., aku sudah biasa kok
ngeliatin ginian..”
Akhirnya setelah beberapa perdebatan ringan dan berkat
kelihaianku berdiplomasi mereka mengijinkan juga aku untuk
di dalam kamar saja, tapi dengan syarat aku tidak boleh
macam-macam apalagi melaporkan ke orang tuanya. Setelah
pintu kukunci, aku cuma bersandar saja di pintu dengan
perasaan gembira.
Mas Zani lalu tidur telentang di ranjang, lalu Yeyen mulai
jongkok di atasnya dan menciumi wajah Mas Zani, sedangkan
Mas Zani cuma diam saja, matanya merem, tangannya
mengusap-usap punggung Yeyen. Sesekali Yeyen melihat ke
arahku, mungkin memeriksa apakah aku mulai terangsang, dan
memang benar aku terangsang. Dan juga melihat gerakan Yeyen
yang kelihatannya sudah “professional” dan ciuman-
ciumannya yang ganas seperti di film BF, sepertinya Yeyen ini
bukan pertama kalinya making love. Yeyen mulai menciumi
Mas Zani langsung ke mulutnya, dan beberapa kali mereka
bersilat lidah dan terlihat jelas karena jarakku dan jarak mereka
berdua cuma sekitar 3 meter.
“Hmmhh.., hmmhh..”, mereka berciuman sambil mendesah-
desah, membuatku yang sejak tadi sudah tegang memikirkan
hal yang tidak-tidak jadi semakin tegang saja. Setelah puas
melumat bibir dan lidah Mas Zani, Yeyen mulai bergerak ke
bawah, menciumi dagunya, lalu lehernya. Mas Zani ketika itu
mengenakan T-Shirt yang di bagian kerahnya cuma ada dua
kancing, so karena Mas Zani terlalu besar badannya (gemuk)
maka Yeyen cuma menyingkapkannya dari bawah lalu
menciumi dadanya yang montok dan putih. Mas Zani ini
memang WNI Keturunan Cina.
“Hmmhh.., aduh Yen nikmat Yen..”, begitu rintihan Mas Zani.
Yeyen menciuminya kadang cepat, lalu lambat, cepat lagi,
memang sepertinya begitu style anak yang satu ini. Sedangkan
aku semakin tidak tahan saja, kepingin juga dadaku diciumin
oleh cewek, uhh.., tapi aku masih menahan diri dan terus
menempel pada pintu.
“Ihh.., hmmh.., hh.., ihh..”, Mas Zani terus mendesah
sementara Yeyen mulai menciumi perutnya, lalu pusarnya,
sesekali Mas Zani berteriak kecil kegelian. Karena aku sangat
terangsang, aku mulai meraba-raba diriku sendiri. “Sialan!”
pikirku, “Ngapain juga gitu ahh..
Akhirnya Yeyen mulai membuka risleting Mas Zani, pertamanya
pelan sekali, namun tiba-tiba “wrett” ditarik dengan cepat
sekali sehingga Mas Zani kaget, matanya terbuka sebentar, lalu
tersenyum dan merem kembali, sedangkan kedua tangannya
mengelus-elus rambut Yeyen. Yeyen langsung memegang-
megang kemaluan Mas Zani dan digosok-gosok dengan
tangannya dari luar, “Ahh.., hh.., Hmmhmh.., Ohh Yenn..”, Mas
Zani cuma bisa mendesah. Lalu setelah puas menggosoknya
dari luar, dia mulai menyingkap celana dalam Mas Zani dan
tersembullah kemaluan Mas Zani yang sudah tegang keluar
dari sarangnya.
“Nylupp!”, Kemaluan Mas Zani langsung dikulum oleh Yeyen.
Stylenya masih seperti tadi, kadang pelan, lalu cepat, kadang
pelan, lalu cepat, bikin kaget saja ini anak main seksnya.
Sementara Mas Zani sibuk meremas-remas rambut Yeyen
saking enaknya, aku yang tidak kuasa menahan nafsu sibuk
meremas-remas kemaluanku sendiri sambil tetap bersadar di
pintu. Ahh.., aku benar-benar merasa serba salah waktu itu,
dan mereka tidak mengacuhkanku sama sekali. Dasar.., Yang
membuataku nyaris tertawa karena kemaluan Mas Zani yang
sepertinya keseretan gara-gara Yeyen tidak melepaskan celana
dalam Mas Zani terlalu ke bawah, jadi seperti tercekik dech.
“Ehmm.., Ehmm..” Mungkin sekitar 5 menit Yeyen mengulum
kemaluan Mas Zani, ternyata selama itu juga dia belum keluar
sama sekali, Yeyen bilang, “Zan.., sekarang giliran kamu yach?”
Mas Zani cuma tersenyum, lalu dia bangkit sambil melepaskan
celana panjang dan celana dalamnya, sedangkan Yeyen
sekarang yang ganti tiduran, lalu memejamkan mata.
Sedangkan aku benar-benar kebingungan dan tidak tahu mau
berbuat apa, aku benar-benar pingin buka baju dan join
dengan mereka tapi ahh.., kacau sekali pikiranku ketika itu.
Mas Zani mulai melakukan persis apa yang dia lakukan ke
Yeyen sebelumnya. Nyaris persis sama, aku sampai heran apa
memang sudah janjian ya mereka. Mas Zani mulai mencium
bibir Yeyen, cuma Mas Zani menciumnya dengan stabil, pelan
terus, berbeda dengan Yeyen yang style seksnya aku akui
lumayan unik. “Hmmh.., mymmynm..”, Sayang Mas Zani
sepertinya tidak profesional, cara menciumnya walau pelan,
terlalu tergesa menuju ke bawah. Yeyen mencoba melepaskan
t-shirt Mas Zani, lalu Mas Zani langsung melepasnya dan
meletakkan di sebelahnya. Mas Zanipun mulai menciumi leher
Yeyen. Sementara tangannya meraba-raba payudara Yeyen
yang aduhai, “Hmhmhhm.., Hmhmhmh..” Mereka berdua terus
mendesah keenakan. Aduh, pemandangan yang cukup
menggelikan sekaligus menggairahkan itu benar-benar
membuatku kewalahan pada diriku sendiri, diam-diam aku
mulai melepaskan t-shirt yang kupakai dan menggerayangi
tubuhku sendiri.
Mas Zani mulai tidak sabar dan langsung mencopoti kancing
demi kancing yang ada di kemeja yang dikenakan Yeyen.
Tersembullah payudara Yeyen yang begitu aduhai, putih mulus
sekali seperti payudara Chinese, Yeyen segera mengangkat
punggungnya, lalu Mas Zani mencopot kancing BH-nya yang
berwarna krem. Wah.., payudara Yeyen benar-benar besar dan
menggairahkan dengan puting susunya yang tebal dan
berwarna coklat tua. “Ahh.., Hmm.., Hmm..”, Mereka berdua
saling melenguh setiap kali Mas Zani memainkan lidahnya di
atas payudara dan puting susu Yeyen.
“Hmmh.., Hmhh..”, Setelah puas melumat puting susu Yeyen
bergantian, Mas Zani akhirnya menjilati perut Yeyen dan ingin
melepaskan roknya. Yeyen mengangkat pantatnya, lalu Mas
Zani membuka risleting roknya dan pelan-pelan melepaskan
rok yang dipakai Yeyen. Setelah sampai di lutut, Mas Zani
berhenti dan langsung menciumi kemaluan Yeyen yang masih
tertutup celana dalam itu dengan cepat dan ganas.
“ Ahh.., Ahh..”, Yeyen mengerang dan mendesah keras
keenakan. Aku yang sejak tadi terangsang menjadi semakin
terangsang mendengar desahan Yeyen yang sangat
menggairahkan, membuatku tidak tahan dan mulai memegangi
kemaluanku sendiri, menggesek-gesekkannya dengan
tanganku.
Akhirnya Mas Zani melepaskan celana dalam Yeyen dan
langsung menciumi kemaluannya dengan ganas sekali. Rambut
di kemaluan Yeyen cukup tipis, sehingga memudahkan Mas
Zani menjilatinya sepuasnya. Sesekali kudengar “Slurrp..,
slurrp..”, sepertinya Mas Zani suka sekali menyedot kemaluan
Yeyen. “Ahh.., Zan.., Ahh.., Zan.., Enak Zan..”, desahan Yeyen
semakin keras saja karena merasa nikmat, seakan tidak peduli
kalau terdengar orang di luar.
Tidak berapa lama kemudian, Mas Zani berhenti lalu bertanya,
“Yen, boleh sekarang?” Sambil tetap merem, Yeyen cuma
tersenyum dan mengangguk.
“ Pelan-pelan yach..”, bisik Yeyen mesra. Kemudian Mas Zani
memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Yeyen, “Uh.., uhh..,
Ahh..”, Sedikit kesulitan yang mereka hadapi, sekarang Mas
Zani sudah mulai asyik menggesek-gesekkan penisnya dalam
vagina Yeyen.
“ Ahh.., ahh.., aduh.., ahh..”, Mereka berdua saling mendesah
sambil terus melanjutkan permainannya. Yeyen masih tetap
dengan stylenya, kadang menarikan pinggulnya pelan-pelan,
lalu cepat, pelan lagi.
“ Ahh.., Ahh.., Ahh..”, Mas Zani memaju-mundurkan badannya
pelan-pelan sedangkan Yeyen asyik menggoyang-goyangkan
pinggulnya dengan tempo yang tidak beraturan. Aku jadi
semakin tidak tahan melihat apa yang mereka lakukan, aku
segera berjalan menuju kamar mandi, langsung kulepas celana
panjang dan celana dalamku dan kugesek-gesek kemaluanku
sendiri cepat-cepat.
“Ahh.., Hmmh.., Ahh..”, Aku mendesah-desah kecil dengan apa
yang kulakukan terhadap diriku sendiri. Lalu.., “aahh..”, Aku
orgasme, spermaku semuanya terjatuh di lantai kamar mandi.
Tubuhku rasanya nikmat sekali beberapa saat, lalu terasa
lemas dan sepertinya aku merasa bersalah telah
melakukannya. Aku segera menyiram ceceran sperma di lantai
kamar mandi, melepas seluruh bajuku dan mandi.
Setelah segar, aku hampir tidak percaya waktu keluar ternyata
mereka masih saja bermesraan bersetubuh. Aku langsung
berjalan keluar kamar, sedangkan mereka tidak
menghiraukanku sama sekali, benar-benar gila..!
Di luar, aku duduk-duduk saja di ruang tamu sambil ngobrol
dengan Lenny dan teman-temannya yang kebetulan ciban
semua. Mereka menawariku rokok tapi aku tolak. Setelah
beberapa menit melakukan percakapan yang membosankan
dan bikin mual, aku cuek saja dan asyik melihat TV, sambil
menunggu Mas Zani dan Yeyen selesai melakukan aktivitasnya.
Menit demi menit berlalu, gila.., lama sekali.
Sekitar satu jam kemudian, muncullah mereka berdua dari
pintu kamar Yeyen.
“ Gilaa..”, pikirku, lama sekali mereka begituan. Mas Zani dan
Yeyen tersenyum geli pertama kali melihatku, mungkin mereka
menganggap tingkahku di dalam kamar tadi lucu, lalu Mas Zani
bertanya.
“ Don, kamu mau ikut renang?”.
“Mau sich.., tapi aku tidak bawa celana renang tuch..”, jawabku
agak kecewa.
“ Tidak pa-pa kok, ntar kita bisa pinjam celana renang di sana..”.
Ya sudah, akhirnya jadi dech.., Setelah berpamitan, Mas Zani
dan aku pulang. Di rumah kami langsung mempersiapkan
segala kebutuhan renangnya.
Jam menunjukkan sekitar pukul 16.30, kami bersiap pergi. Tepat
waktu Mas Zani hendak menyalakan mobil, ada suara teriakan.
Ternyata sepupu Mas Zani, “Mobilnya mau dibawa papanya
lho..”, katanya.
“Sial!” gerutu Mas Zani. Terus akhirnya Mas Zani telepon taksi,
beberapa menit kemudian datang, lalu kami ke tempat kos
Yeyen dulu untuk menjemput Yeyen. Eh, ternyata tidak hanya
Yeyen yang ikut, tapi adiknya, Lenny, diajak serta.
Aku tanya pada Lenny, “Lho, kok kamu ikut, katanya sakit
tenggorokan. Nanti ikut renang?”.
“Iya dong.., tidak Papa, nemenin Yeyen nich..” jawabnya
enteng. Wah, nekat juga ini anak, pikirku.
Taksi kami langsung meluncur ke Graha Residen, di sana ada
kolam renangnya yang cukup besar dan ramai, termasuk para
turis. Yeyen, Lenny, dan aku yang belum bisa berenang cuma
berputar-putar saja di pinggiran, sedangkan Mas Zani
berkelana ke sana ke mari dengan bebasnya.
Waktu ada kesempatan, aku tanya pada Mas Zani soal Yeyen.
Ternyata dia baru kenal Yeyen dua minggu, dan pertemuan
pertamanya di kolam renang. Seminggu kemudian mereka
langsung pacaran, lalu besoknya mereka melakukan hubungan
badan. Mas Zani baru pertama kali itu bersenggama,
sedangkan Yeyen sepertinya sudah berkali-kali, soalnya kata
Mas Zani, Yeyen sudah tidak perawan lagi.
Mas Zani juga bilang, “Kata Yeyen tuh si Lenny masih perawan,
dianya agak menyesal juga pacaran sama Yeyen, bukan sama
Lenny yang masih perawan”.
Aku sempat ngobrol juga sama Lenny, yang sepertinya cuma
bersandar saja di pinggiran. Sekitar jam 19.00 kami selesai
renang dalam keadaan menggigil kedinginan, lalu setelah itu memanggil taksi Zebra, karena entah kenapa, Graha Residen hanya menyediakan taksi Zebra. Tidak kuduga, ternyata taksinya lama sekali datangnya, kami ngobrol-ngobrol lama juga. Mas Zani asyik ngobrol dengan Yeyen, sedangkan Lenny
yang kelihatannya dicuekin mulai kuajak ngobrol.ternyata Lenny ini masih SMU kelas 2. Selain suka rokok,katanya dia juga suka minuman keras. Hmm, aku jadi mikir
apakah dia juga suka obat-obatan dan.., free seks. Tapi aku tidak

Kontol perkasa kuli bangunan

image

cerita Dewasa yang akan saya sajikan kali ini di
ceritadewasaseks adalah mengenai indahnya seks bersama
dengan beberapa orang memebuat perasaanku lain dari pada
lain.Biasanya di entot satu orang rasa gairah yang terpancar
dalam hubungan diranjang biasa-biasa aja’tidak ada tantangan
sama sekali,kali ini beda sekali Rasanya ada rekasi yang begitu
menggoda dari seorang lelaki perkasa.Bikin memekku yang
dientot oleh para kuli bangunan. jadi begini ceritanya, Sang
surya sudah mulai tengelam,langitpun mulai gelap.Sore yang
penuh ceria dan menyenangkan,Seperti biasa aktifitasku yang
tak pernah aku lewatkan adalah pergi tennis dengan
temanku.Maklum Ini merupakan hobby ku dari kecil yang
tidak pernah absen ku lakukan.Aku ditemani vernaa,dia
merupakan teman tennis ku sebaya dengan ku.Setelah pulang
main dari tennis aku mengantarkann verna ke rumah,tapi
keadaan yang membuatku sangat jengkel,sepanjang jalan
menuju rumah verna selalu macet.Jarak yang biasa bisa
ditempuh 10 menit,kalau sore hari bisa-bisa  30 menit mungkin
karena sore hari banyak pekerja yang mau pulang kerumah
masing-masing.Akhirnya,, tiba juga setelah 20 menit aku
mengendarai mobil,Tampaknya rumah verna sedang ada
banyak orang”akupun bertanya”verna?rumah kamu ada apa
sih kok banyak lalu lalang angkat-angkat bahan bangunan?
Oh.itu itu para kuli bangunan yang sedangmerenofasi
rumahku,rencana mamaku sich katanya mau dibuat kolam
renang dan tempat untuk santai atau sejenis taman gitu dech
kayaknya”saut verna.Kedua gadis itu akhirnya turun dari
mobil,Luar biasa semua orang bangunan yang berada dirumah
itu matanya terbelalak tajam menatap kedua gadis cantik itu,ya
dibarengi dengan keringat yang masih basah di dada mereka
membuat lelaki disitu menelan ludah.Siapa yang tidak tergiur
melihatnya balutan busana tennis dengan rok pendek,Uh,,
paha yang benar-benar mulus dan bokong semok yang begitu
menggoda.Dengan muka yang sopan dan wajah yang ramah
mereka menyapa semua kuli dengan ucapan”selamat
sore”,sontak mereka juga menjawab”sore nona manis.Lankah
mereka pun menuju ke sebuah ruang tamu,seperti biasa aku
mesti disuruh mampir sebentar oleh ibunya virna walau hanya
menyedu secangkir kopi.
Setengah jam pertama kami lewati dengan ngerumpi tentang
masalah kuliah, cowok, dan seks sambil menikmati snack dan
menonton TV. Lalu Mama Verna keluar dari kamarnya dengan
dandanan rapi menandakan dia akan keluar rumah.
“ Ver, Mama titip bayarannya tukang-tukang itu ke kamu ya,
Mama sekarang mau ke arisan,” katanya seraya menyerahkan
amplop pada Verna.
“Yah Mama jangan lama-lama, ntar kalau Citra pulang, Verna
sendirian dong, kan takut,” ujarnya dengan manja (waktu itu
papanya sedang di luar kota, adik laki-lakinya, Very sudah 2
tahun kuliah di US dan pembantunya, Mbok Par masih mudik).
Akhirnya kami ditinggal berdua di rumah Verna yang besar itu.
Aku sih sebenarnya sudah mau pulang dan mandi sehabis
bermain tenis, tapi Verna masih menahanku untuk
menemaninya. Sebagai sobat dekat terpaksa deh aku
menurutinya, lagian aku kan tidak bawa mobil. Di halaman
depan tampak para tukang itu sudah beres-beres, ada pula
yang sudah membersihkan badan di kamar mandi belakang.
Melihat mereka sudah bersih-bersih, akupun jadi kepingin
menyegarkan badanku yang sudah tidak nyaman ini. Akupun
mengajak Verna mandi bareng, tapi dia menyuruhku mandi
saja duluan di kamar mandi di kamarnya, nanti dia akan
menyusul sesudah para tukang selesai dan membayar uang
titipan Mamanya pada mereka, sekalian menghabiskan
rokoknya yang tinggal setengah. Akupun meninggalkannya dia
yang sedang menonton TV di ruang tengah menuju ke
kamarnya. Di kamar mandi aku langsung menanggalkan
pakaianku lalu kuputar kran shower yang langsung
mengucurkan airnya mengguyur tubuh bugilku. Air hangat
memberiku kesegaran kembali setelah seharian berkeringat
karena olahraga, rasa nyaman itu kuekspresikan dengan
bersenandung kecil sambil menggosokkan sabun ke sekujur
tubuhku. 15 menit kemudian aku sudah selesai mandi,
kukeringkan tubuhku lalu kulilitkan handuk di tubuhku. Aku
sudah beres, tapi anehnya Verna kok belum muncul juga,
bahkan pintu kamarpun tidak terdengar dibuka, padahal dia
bilang sebentar saja.
Aku ingin meminjam bajunya, karena bajuku sudah kotor dan
bau keringat, maka aku harus bilang dulu padanya.
“ Ver..Ver, sudah belum, saya mau pinjam baju kamu nih!!,”
teriakku dari kamar.
Tidak terdengar jawaban dari seruanku itu, ada apa ya pikirku,
apakah dia sedang di luar meninjau para tukang jadi suaraku
tidak terdengar? Waktu aku lagi bingung sendirian begitu
terdengarlah pintu diketuk.
“ Nah, ini dia baru datang,” kataku dalam hati.
Akupun menuju ke pintu dan membukanya sambil berkata
“ Huuh.. lama banget sih Ver, lagian ngapain pake ngetok..!!,”
rasa kaget memotong kata-kataku begitu melihat beberapa
orang pria sudah berdiri diambang pintu. Dua diantaranya
langsung menangkap lenganku dan yang sebelah kanan
membekap mulutku dengan tangannya yang besar.
Belum hilang rasa kagetku mereka dengan sigap menyeretku
kembali ke dalam kamar. Aku mulai dapat mengenali wajah-
wajah mereka, ternyata mereka adalah para kuli bangunan di
bawah tadi, semuanya ada 4 orang.
“ Apa-apaan ini, lepasin saya.. tolong..!!,” teriakku dengan
meronta-ronta.
Tapi salah seorang dari mereka yang lengannya bertato dengan
tenangnya berkata, “Teriak aja sepuasnya neng, di rumah ini
sudah nggak bakal ada yang denger kok.”
Mendengar itu dalam pikiranku langsung terbesit ‘Verna’, ya
mana dia, jangan-jangan terjadi hal yang tidak diinginkan
padanya sehingga aku pun makin meronta dan menjerit
memanggil namanya. Tak lama kemudian masuklah Verna,
tangannya memegang sebuah handycam Sony model terbaru.
Sejenak aku merasa lega karena dia baik-baik saja, tapi
perasaanku lalu menjadi aneh melihat Verna menyeringai
seram.
“Ver.. apa-apaan nih, mau ngapain sih kamu?,” tanyaku
padanya.
Tanpa mempedulikan pertanyaanku, dia berkata pada para kuli
bangunan itu,
“ Nah, bapak-bapak kenalin ini temen saya Citra namanya, dia
seneng banget dientot, apalagi kalau dikeroyok, jadi silakan
dinikmati tanpa malu-malu, gratis kok!,”
Dia juga memperkenalkan para kuli itu padaku satu-persatu.
Yang lengannya bertato adalah mandornya bernama Imron,
usianya sekitar 40-an, dia dipanggil bos oleh teman-temannya.
Di sebelah kiriku yang berambut gondrong sebahu dan kurus
tinggi bernama Kirno, usianya sekitar 30-an. Yang berbadan
paling besar diantara mereka sedang memegangi lengan
kananku bernama Tarman, sebaya dengan Imron, sedangkan
yang paling muda kira-kira 25-an bernama Dodo, wajahnya
paling jelek diantara mereka dengan bibir agak monyong dan
mata besar. Keempatnya berbicara dengan logat daerah
Madura.
“Gila kamu Ver.. lepasin saya ah, edan ini sih!,” aku berontak
tapi dalam hatiku aku justru ingin melanjutkan kegilaan ini.
“ Tenang Ci, ini baru namanya surprise, sekali-kali coba produk
kampung dong,” katanya menirukan ucapanku waktu
mengerjainya di vila dulu. Habis berkata bibirnya dengan cepat
memagut bibirku, kami berciuman beberapa detik sebelum dia
menarik lepas mulutnya yang bersamaan dengan
menghentakkan handuk yang melilit tubuhku. Mereka
bersorak kegirangan melihat tubuh bugilku, mereka sudah
tidak sabar lagi untuk menikmatiku
“ Wah.. nih tetek montok banget, bikin gemes aja!,” seru si
Tarman sambil meremas payudara kananku.
“ Ini jembut nggak pernah dicukur yah lebat banget!,” timpal si
Kirno yang mengelusi kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu
lebat itu, dengan terus mengelus Kirno lalu merundukkan
kepalanya untuk melumat payudaraku yang kiri. Sementara di
belakangku, si Dodo berjongkok dan asyik menciumi pantatku
yang sekal, tangannya yang tadinya cuma merabai paha mulus
dan bongkahan pantatku mulai menyusup ke belahan
pantatku dan mencucuk-cucukkan jarinya di sana.
Di hadapanku Pak Imron melepaskan pakaiannya, kulihat
tubuhnya cukup berisi tapi perutnya agak berlemak, penisnya
sudah mengacung tegak karena nafsunya. Dia meraba-raba
kemaluanku, si Kirno yang sebelumnya menguasai daerah itu
bersikap mengalah, dia melepaskan tangannya dari sana agar
mandornya itu lebih leluasa. Wajahnya mendekati wajahku, dia
menghirup bau harum dari tubuhku.
“ Hhmmhh.. si non ini sudah wangi, cantik lagi!,” pujinya sambil
membelai wajahku.
“ Iya bos, emang di sini juga wangi loh!,” timpal si Dodo di
tengah aktivitasnya menciumi daerah pantatku.
Diperlakukan seperti itu bulu kudukku merinding, sentuhan-
sentuhan nakal pada bagian-bagian terlarangku membuatku
serasa hilang kendali. Gerak tubuhku seolah-olah mau
berontak namun walau dilepas sekalipun saya tidak akan
berusaha melarikan diri karena tanggung sudah terangsang
berat. Merasa sudah menaklukkanku, kedua kuli di samping
melonggarkan pegangannya pada lenganku.
Adegan panas ini terus direkam Verna dengan handycamnya
sambil menyoraki kami.
“ Aahh.. jangan.. Ver, jangan disyuting.. ngghh.. matiin handy..
hhmmhh..!!,” kata-kataku terpotong oleh Pak Imron yang
melumat bibirku dengan bernafsu. Aku yang sudah horny
membalas ciumannya dengan penuh gairah.
“ Acchh.. ahhkk.. cckk” bunyi mulut dan lidah kami beradu. Aku
makin menggeliat kegelian ketika si Kirno menaikkan lenganku
dan menciumi ketiakku yang tak berbulu.
“ Ayo Ci, gaya kamu ok banget, pasti lebih heboh dari bokepnya
Itenas nih,” Verna menyemangati sambil mencari sudut-sudut
pengambilan gambar yang bagus. Dia fokuskan kameranya
ketika aku sedang diciumi Pak Imron, saat bersilat lidah hingga
liur kami menetes-netes. Badanku bergetar sepeti kesetrum
dan tanpa sadar kubuka kedua pahaku lebih lebar sehingga
membuka lahan lebih luas bagi lidah Dodo bermain main di
lubang anusku, juga jari-jari yang mengocok-ngocok vaginaku,
aku tidak dapat melihat jelas lagi jari-jari siapa yang mengelus
ataupun keluar-masuk di sana saking hanyutnya dalam birahi.
Mereka menggiring dan mendudukkanku di tepi ranjang. Kirno
dan Tarman mulai melepas pakaian mereka, sedangkan Dodo
entah sejak kapan dia melepaskan pakaiannya, karena begitu
kulihat dia sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kini mereka
berempat yang sudah bugil berdiri mengerubungiku dengan
keempat senjatanya ditodongkan di depan wajahku. Aku
sempat terperangah melihat penis mereka yang sudah
mengeras itu, semuanya hitam dan besar, rata-rata berukuran
17-20cm.
“ Ayo non, tinggal pilih mau yang mana duluan,” kata Pak
Imron.
Aku meraih penis Pak Tarman yang paling panjang, kubelai dan
kujilati sekujur permukaannya termasuk pelirnya, kemudian
kumasukkan ke mulut dan kuemut-emut.
“ Heh, jangan cuma si Tarman aja dong non, saya kan juga mau
nih,” tegur si Kirno seraya menarik tanganku dan
menempelkannya pada penisnya .
“ Iya nih, saya juga,” sambung si Dodo menarik tanganku yang
lain.
“Mmhh.. eenngg..!,” gumamku saat menyepong Pak Tarman
sambil kedua tanganku menggenggam dan mengocok penis
Dodo dan Kirno. Sambil menikmati penis-penis itu, mendadak
kurasakan kakiku direnggangkan dan ada sesuatu di bawah
sana. Oh, ternyata Pak Imron berjongkok di hadapan
selangakanku. Tangannya membelai paha mulusku dan
berhenti di vaginaku dimana dia membuka bibirnya lalu
mendekatkan wajahnya kesana. Kurasakan lidahnya mulai
menyentuh dinding vaginaku dan menari-nari disana. Sungguh
luar biasa kenikmatan itu, aku pun semakin liar, aku membuka
pahaku lebih lebar agar Pak Imron lebih leluasa menikmati
vaginaku. Hal itu juga berpengaruh pada kocokan dan
kulumanku yang makin intens terhadap ketiga pria yang
sedang kulayani penisnya. Mereka mengerang-ngerang
merasakan nikmatnya pelayanan mulutku secara bergantian.
Saking sibuknya aku sampai tidak tahu lagi tangan-tangan
siapa saja yang tak henti-hentinya menggerayangi payudaraku.
Setelah cukup dengan pemanasan, mereka membaringkan
tubuhku di tengah ranjang. Pak Imron langsung mengambil
posisi diantara kedua pahaku siap untuk memasukkan
penisnya kepadaku, tanpa ba-bi-bu lagi dia mulai
menancapkan miliknya padaku. Ukurannya sih tidak sebesar
milik Pak Tarman, tapi diameternya cukup lebar sesuai bentuk
tubuhnya sehingga vaginaku terkuak lebar-lebar dan agak
perih. Verna mendekatkan kameranya pada daerah itu saat
proses penetrasi yang membuatku merintih-rintih. Pak Imron
mulai menghentak-hentakkan pinggulnya, mulanya pelan tapi
semakin lama goyangannya semakin kencang membuat
tubuhku tersentak-sentak. Teman-temannya juga tidak tinggal
diam, mereka menjilati, mengulum, dan menggerayangi sekujur
tubuhku. Si Dodo sedang asyik menjilat dan mengeyot
payudaraku, terkadang dia juga menggigit putingku. Pak
Tarman menggelikitik telingaku dengan lidahnya sambil
tangannya meremasi payudaraku yang satunya. Sementara
tangan kananku sedang mengocok penis si Kirno. Pokoknya
bener-bener rame rasanya deh, ya geli, ya nikmat, ya perih,
semua bercampur jadi satu.
Aku mengerang-ngerang sambil mengomeli Verna yang terus
merekamku
“ Awww.. awas kamu Ver ntar.. saya.. aahh.. liat aja.. oohh..
ntar!,”
“Yaah, kamu masa kalah sama Indah Ci, dia aja sudah ada
bokepnya, sekarang saya juga mo bikin yang kamu nih,”
ujarnya dengan santai “Hmm.. judulnya apa yah, Citra cewek
A*****, wah pasti seru deh!”
Kini sampailah aku pada saat yang menentukan, tubuhku
mengejang hebat sampai menekuk ke atas disusul dengan
mengucurnya cairan cintaku seperti pipis. Si Kirno juga jadi
ikut mengerang karena genggamanku pada penisnya jadi
mengencang dan kocokanku makin bersemangat. Pak Imron
sendiri belum memperlihatkan tanda-tanda akan klimaks, kini
dia malah membalikkan tubuhku dalam posisi dogy tanpa
melepas penisnya. Dia melanjutkan genjotannya dari belakang.
Waktu aku masih lemas dan kepalaku tertunduk, tiba-tiba si
Dodo menarik rambutku dan penisnya sudah mengacung di
depan wajahku. Akupun melakukan apa yang harus kulakukan,
benda itu kumasukkan dalam mulutku. Kumulai dengan
mengitari kepalanya yang seperti jamur itu dengan lidahku,
serta menyapukan ujung lidahku di lubang kencingnya,
selanjutnya kumasukkan benda itu lebih dalam lagi ke mulut
dan kukulum dengan nikmatnya. Tentu saja hal ini membuat si
Dodo blingsatan keenakan, penisnya ditekan makin dalam
sampai menyentuh kerongkonganku, bukan cuma itu dia juga
memaju-mundurkan penisnya sehingga aku agak kelabakan.
Setiap kali Pak Imron menghujamkan penisnya penis Dodo
semakin masuk ke mulutku sampai wajahku terbenam di
selangkangannya, begitupun sebaliknya ketika Dodo
menyentakkan penisnya di mulutku, penis Pak Imron semakin
melesak ke dalamku. Pak Tarman yang menunggu giliran
berlutut di sampingku sambil meremas payudaraku yang
menggantung. Pak Imron mendekati puncak, dia mencengkam
pinggulku erat-erat sambil melenguh nikmat, genjotannya
semakin cepat sampai akhirnya menyemburkan cairan putih
pekat di rahimku.
Sesudah Pak Imron mencabut penisnya, si Dodo mengambil
alih posisinya. Namun sebelum sempat memulai, si Kirno
menyela:
“ Kamu dari bawah aja Do, masak dari tadi aku ngerasain
tangannya aja sih, aku pengen ininya nih!,” katanya sambil
mencucukkan jarinya ke anusku sehingga aku menjerit kecil.
Merekapun sepakat, akhirnya aku menaiki penis si Dodo yang
berbaring telentang, benda itu masuk dengan lancarnya karena
vaginaku sudah licin oleh cairan kewanitaanku ditambah lagi
mani Pak Imron yang banyak itu. Kemudian dari belakang
Kirno mendorong punggungku ke depan sehingga pinggulku
terangkat. Aku merintih-rintih ketika penisnya melakukan
penetrasi pada anusku.
“ Uuhh.. waduhh.. sempit banget nih lubang!,” desahnya
menikmati sempitnya anusku.
Kedua penis ini mulai berpacu keluar-masuk vagina dan
anusku seperti mesin. Dodo yang berada dibawah menciumi
leher depanku dan meninggalkan bekas merah.
“Ooohh.. aahh.. eenngghh,” suara lirih keluar dari mulutku
setiap kali kedua penis itu menekan kedua liang senggamaku
dengan kuat.
Disebelahku kulihat Verna sudah mulai dikerjai Pak Imron dan
Tarman yang sudah tidak sabar karena penisnya belum
kebagian jatah lubang dari tadi. Verna terus mensyutingku
walaupun tangan-tangan jahil itu terus menggerayanginya,
sesekali dia mendesah. Tangan Pak Tarman menyusup lewat
bawah rok tenisnya dan kaos putihnya sudah disingkap oleh
Pak Imron. Dengan cekatan, Pak Imron membuka kait BH-nya
menyebabkan BH yang melingkar di dadanya itu jatuh, dan
terlihatlah buah dada montok Verna dengan puting
kemerahan yang mencuat. Pak Tarman langsung melumat yang
sebelah kiri sambil tangannya menggosok-gosok kemaluannya
dari luar, yang sebelah kiri diremas Pak Imron sambil
menciumi lehernya. Ikat rambut Verna ditariknya hingga
rambut indahnya tergerai sampai punggung.
“ Aaahh.. jangan sekarang Pak.. sshh,” desah Verna dengan
suara bergetar.
Pak Imron mengambil handycam dari tangan Verna dan
meletakkannya di rak kecil pada ujung ranjang, diaturnya
sedemikian rupa agar alat itu menangkap gambar kami semua.
Desahan Verna makin seru saat jari-jari Pak Tarman keluar
masuk vaginanya lewat samping celana dalamnya. Kedua
payudaranya menjadi bulan-bulanan mereka berdua,
keduanya dengan gemas meremas, menjilat, mengulum, juga
memain-mainkan putingnya, seperti yang pernah kukatakan,
payudara Verna memang paling menggemaskan diantara kami
berempat. Pak Imron duduk berselonjor dengan bersandar
pada ujung ranjang, disuruhnya Verna melakukan oral seks.
Tanpa disuruh lagi Verna pun menunduk hingga pantatnya
nungging. Digenggamnya penis yang hitam berurat itu, dikocok
sejenak lalu dimasukkan ke mulutnya. Dari belakang, Pak
Tarman menarik lepas celana dalamnya, lalu dia sendiri mulai
menjilati kemaluan Verna yang sudah becek, posisi Verna yang
menungging membuatnya sangat leluasa menjelajahi
kemaluannya sampai anusnya dengan lidah. Mereka
melakukan oral seks berantai.
Pak Imron memegang handycam dan mengarahkannya pada
Verna yang sedang mengulum penisnya, terkadang alat itu juga
diarahkan padaku yang sedang disenggamai Kirno dan Dodo.
Sudah cukup lama aku bertahan dalam posisi ini, payudaraku
rasanya panas dan memerah karena terus dikenyot dan
diremas Dodo yang di bawahku, lalu Dodo menarik wajahku,
bibir mungilku bertemu mulutnya yang monyong, lidahnya
bermain liar dalam mulutku, wajahku juga dijilati sampai basah
oleh ludahnya. Si Kirno yang sedang menyodomiku tangannya
bergerilya mengelusi punggung dan pantatku. Mungkin karena
sempitnya, Kirno orgasme duluan, dia mengerang dan
mempercepat genjotannya hingga akhirnya dia melepas
penisnya lalu buru-buru pindah ke depan untuk menyiramkan
spermanya di wajahku. Pak Imron mendekatkan handycam itu
saat sperma Kirno muncrat membasahi wajahku. Wajahku
basah bukan saja oleh keringat, juga oleh ludah Dodo dan
sperma Kirno yang kental dan banyak itu. Si Dodo bilang aku
jadi lebih cantik dan menggairahkan dengan kondisi demikian,
maka aku biarkan saja wajahku belepotan seperti itu, bahkan
kujilati cairan yang menempel di pinggiran mulutku.
Lepas dari Kirno, aku masih harus bergumul dengan Dodo
dalam posisi woman on top. Aku menggoyangkan pinggulku
dengan liar diatas penisnya, aku makin terangsang melihat
ekspresi kenikmatan di wajahnya, dia meringis dan mengerang,
terutama saat aku membuat gerakan meliuk yang membuat
penisnya seolah-olah dipelintir. Kamar ini bertambah gaduh
dengan desahan Verna yang sedang disodoki Pak Tarman dari
belakang, dari depannya Pak Imron menopang tubuhnya
sambil menyusu dari payudaranya. Si Kirno yang sedang
beristirahat diserahi tugas mensyuting adegan kami dengan
handycam itu. Gila memang, kalau dilihat sekilas seperti
sedang terjadi perkosaan massal di rumah ini, karena kalau
dilihat dari fisik, mereka kasar dan hitam, selain itu mereka
cuma kuli bangunan. Sedangkan tubuh kami terawat dan putih
mulus bak pualam dengan wajah yang sedap dipandang
karena kami dari golongan borju dan terpelajar. Pasti mereka
ibarat kejatuhan bintang berkesempatan menikmati tubuh
mulus kami.
Tidak sampai 10 menit setelah Kirno melepaskanku, tubuhku
pun mulai mengejang dan kugoyangkan tubuhku lebih gencar.
Akhirnya akupun kembali mencapai orgasme bersamaan
dengan Dodo. Tubuhku ambruk telentang, si Dodo
menyiramkan spermanya bukan hanya di wajahku, tapi juga di
leher dan dadaku.
“ Hei.. sialan lu, aku belum ngentot sama tuh cewek, udah lu
mandiin pakai peju lu,” tegur Pak Tarman yang sedang
menggenjot Verna dalam logat daerah yang kental.
“ Huehehe.. tenang dong bos, suruh aja si non ini yang
bersihin,” jawab Dodo sambil menarik kepala Verna mendekati
wajahku, “Ayo non, minum tuh peju!”
Tanpa merasa jijik, Verna yang sudah setengah sadar itu mulai
menjilati wajahku yang basah, lidahnya terus menyapu cairan
putih itu hingga mulut kami bertemu. Beberapa saat kami
berpagutan lalu lidah Verna merambat turun lagi, ke leher dan
payudara, selain menjilati ceceran spema, dia juga mengulum
buah dadaku, putingku digigitnya pelan dan diemut. Sebuah
tangan lain mendarat di payudaraku yang satu. Aku melihat si
Kirno sudah berlutut di sebelahku mengarahkan handycam ke
arah kami.
Aku merasakan kedua pahaku dibuka, lalu kemaluanku yang
sudah basah dilap dengan tisu. Si Dodo telah memposisikan
kepalanya diantara pangkal pahaku dan lidahnya mulai
menjilati pahaku. Diperlakukan demikian aku jadi kegelian
sehingga paha mulusku makin mengapit kepala si Dodo.
Lidahnya semakin mengarah ke vaginaku dan badanku
menggeliat diiringi desahan ketika lidahnya yang basah itu
bersentuhan dengan bibir vaginaku lalu menyapunya dengan
jilatan panjang menyusuri belahannya. Lidah itu juga
memasuki vaginaku lebih dalam lagi menyentuh klitorisku.
Ooohh.. aku serasa terbang tinggi dengan perlakuan mereka,
belum lagi si Kirno yang terus memilin-milin putingku dan
Verna yang menjilati tubuhku. Dalam waktu singkat
selangkanganku mulai basah lagi. Dodo mengisap vaginaku
dalam-dalam sehingga mulutnya terlihat semakin monyong
saja, sesekali dia mengapitkan klitorisku dengan bibirnya. Aku
mengerang keras, kakiku mengapit erat kepalanya
melampiaskan perasaan yang tak terlukiskan itu.
Aku mendengar Pak Tarman menjerit tertahan, tubuhnya
mengejang dan genjotannya terhadap Verna makin kencang,
ranjang ini semakin bergetar karenanya. Verna sendiri tidak
kalah serunya, dia menjerit-jerit seperti hewan mau disembelih
karena payudaranya yang montok itu digerayangi dengan
brutal oleh Pak Tarman, selain itu agaknya dia pun sudah mau
orgasme. Akhirnya jeritan panjang mereka membahana di
kamar ini, mereka mengejang hebat selama beberapa saat.
Keringat di wajah Verna menetes-netes di dada dan perutku
dan dia jatuhkan kepalanya di perutku setelah Pak Tarman
melepasnya. Pak Imron yang menunggu giliran mencicipi
Verna langsung meraih tubuhnya yang masih lemas itu dan
dinaikkan ke pangkuannya dengan posisi membelakangi.
Tangannya yang kekar itu membentangkan lebar-lebar paha
Verna dan menurunkannya hingga penis yang terarah ke
vagina Verna tertancap. Penis itu melesak masuk disertai
lelehan sperma Pak Tarman yang tertampung di rongga itu.
Sejenak kemudian tubuh Verna sudah naik turun di pangkuan
Pak Imron.
Puas menjilati vaginaku, kini si Dodo membalik tubuhku dalam
posisi doggy. Penisnya diarahkan ke vaginaku dan dengan
sekali hentakkan masuklah penis itu ke dalamku. Dodo
memompakan penisnya padaku dengan cepat sekali sampai
aku kesulitan mengambil nafas, kenikmatan yang luar biasa ini
kuekspresikan dengan erangan dan geliat tubuhku. Kemudian
Pak Tarman yang sudah pulih menarik kepalaku yang
tertunduk lantas menjejali mulutku dengan penisnya. Jadilah
aku disenggamai dari dua arah, selain itu payudaraku pun
tidak lepas dari tangan-tangan kasar mereka, putingku
dipencet, ditarik, dan dipelintir. Selama 15 menit diigempur
dari belakang-depan akhirnya aku tidak tahan lagi, lolongan
panjang keluar dari mulutku bersamaan dengan Verna yang
juga telah orgasme di pangkuan Pak Imron, tak sampai 5 menit
Dodo juga menyemburkan maninya di dalam rahimku.
Pak Tarman menggantikan posisi Dodo, aku dibaringkan
menyamping dan diangkatnya kaki kananku ke bahunya. Dia
mendorong penisnya ke vaginaku, oucchh.. rasanya sedikit
nyeri karena ukurannya yang besar itu aku sampai merintih
dan meremas kain sprei, padahal itu belum masuk
sepenuhnya. Beberapa kali dia melakukan gerakan tarik-
dorong untuk melicinkan jalan masuk bagi penisnya, hingga
dorongan yang kesekian kali akhirnya benda itu masuk
seluruhnya.
“ Aakkhh.. sakit Pak.. aduh,” aku mengerang kesakitan karena
dia melakukannya dengan agak paksa.
Dia berhenti sejenak untuk membiarkanku beradaptasi, baru
kemudian dia mulai menggenjotku, frekuensinya terasa
semakin meningkat sedikit demi sedikit. Urat-urat penisnya
terasa sekali bergesekan dengan dinding vaginaku. Aku
dibuatnya mengerang-ngerang tak karuan, mataku menatap
kosong ke arah handycam yang sekarang sudah berpindah ke
tangan Pak Imron.
Verna kini sedang digumuli oleh Kirno dalam posisi yang sama
dan saling berhadapan denganku. Kuraih tangannya sehingga
telapak tangan kami saling genggam. Kucoba berbicara
dengannya dengan nafas tersenggal-senggal,
“ Ahh.. Ver, yang ini.. ngghh.. gede.. amat”
“Iyah.. yang ini juga.. ahh.. gila.. nyodoknya mantap!” jawabnya
Kemudian aku merasa sebuah lidah menggelitik telingaku,
ternyata itu si Dodo, tangannya tidak tinggal diam ikut
bergerilya di payudaraku. Bulu kudukku merinding ketika
lidahnya menyapu telak tengkuk dan belakang telingaku yang
cukup sensitif. Pak Tarman menyodokku demikian keras
sambil tangannya meremasi pantatku, untung saja aku sudah
terbiasa dengan permainan kasar seperti ini, kalau tidak tentu
aku sudah pingsan sejak tadi.
Tiba-tiba Verna mendesah lebih panjang dan menggenggam
tanganku lebih erat, tubuhnya bergetar hebat, nampaknya dia
mau orgasme.
“ Iyah.. terus mas.. ahh.. ahh.. Ci.. gua keluar.. akkhh!” desahnya
bersamaan dengan tubuhnya menegang selama beberapa saat
lalu melemas kembali.
Ternyata Kirno masih belum selesai dengan Verna, kini dia
telentangkan tubuhnya, kaos tenisnya yang tersingkap
dilepaskan dan dilemparnya, maka yang tersisa di tubuh Verna
tinggal rok tenis yang mini, seuntai kalung di lehernya, dan
sebuah arloji ‘Guess’ di lengannya. Kemudian dia menaiki dada
Verna dan menyelipkan penisnya diantara kedua gunung itu
dan mengocoknya dengan himpitan daging kenyal itu. Tak
lama spermanya berhamburan ke wajah dan dada Verna, lalu
Kirno mengusap sperma di dadanya sampai merata sehingga
payudara Verna jadi basah dan berkilauan oleh sperma. Si
Dodo yang sebelumnya menggerayangiku sekarang sudah
pindah ke selangkangan Verna dimana dia memasukkan dua
jari untuk mengobok-obok vaginanya dan mengelus-elus paha
dan pantatnya.
Aku tinggal melayani Pak Tarman seorang saja, tapi tenaganya
seperti tiga orang, bagaimana tidak sudah tiga kali aku dengan
dia ganti posisi tapi masih saja belum menunjukkan tanda-
tanda sudahan, padahal badanku sudah basah kuyup baik
oleh keringat maupun sperma, suaraku juga sudah mau habis
untuk mengerang. Sekarang dia sedang genjot aku dengan
posisi selangkangan terangkat ke atas dan dia menyodokiku
dari atas dengan setengah berdiri. Belasan menit dalam posisi
ini barulah dia mencabut penisnya dan badanku langsung
ambruk ke ranjang. Belum sempat aku mengatur nafas, dia
sudah menempelkan penisnya ke bibirku dan menyuruhku
membuka mulut, cairan putih kental langsung menyembur ke
wajahku, tapi karena semprotannya kuat cairan itu bukan
cuma muncrat ke mulut, tapi juga hidung, pipi, dan sekujur
wajahku. Yang masuk mulut langsung kutelan agar tidak terlalu
berasa karena baunya cukup menyengat.
Verna masih sibuk menggoyang-goyangkan tubuhnya diatas
penis Dodo, kedua tangannya menggenggam penis Pak Imron
dan Kirno yang masing-masing berdiri di sebelah kiri dan
kanannya. Secara bergantian dia mengocok dan menjilati
penis-penis di genggamannya itu. Kedua pria itu dalam waktu
hampir bersamaan menyemburkan spermanya ke tubuh
Verna. Seperti shower, cairan putih itu menyemprot dengan
derasnya membasahi muka, rambut, leher dan dada Verna.
Mereka nampak puas sekali melihat keadaan temanku seperti
itu, Pak Imron yang memegang handycam mendekatkan benda
itu ke arahnya.
“ Mandi peju, tengah malam.. aahh..!” demikian senandung Pak
Tarman menirukan irama sebuah lagu dangdut saat
mengomentari adegan itu.
Setelah orang terakhir yaitu si Dodo orgasme, kami semua
terbaring di ranjang spring bed itu. Kamar ini hening sejenak,
yang terdengar hanya deru nafas terengah-engah. Verna
telentang di atas badan Dodo, wajahnya nampak lelah dengan
tubuh bersimbah peluh dan sperma, namun tangannya masih
dapat menggosok-gosokkan sperma di tubuhnya serta
menjilati yang menempel di jarinya.
Pak Tarman yang pulih paling awal, melepaskan dekapannya
padaku dan berjalan ke kamar mandi, sebentar saja dia sudah
keluar dengan muka basah lalu memunguti bajunya. Ketika kuli
lainnya pun mulai beres-beres untuk pulang. Mereka
mengomentari bahwa kami hebat dan berterima kasih diberi
kesempatan menikmati ‘hidangan’ seperti ini dengan gratis.
Verna memakai kembali bajunya untuk mengantar mereka ke
pintu gerbang. Mereka berpamitan padaku dengan mencium
atau meremas organ-organ kewanitaanku. Verna baru kembali
ke sini 15 menit kemudian karena katanya dia diperkosa lagi di
taman sebelum mereka pulang. Terpaksa deh aku harus mandi
lagi, habis badanku jadi keringatan dan lengket lagi sih. Kami
berendam bersama di bathtub Verna yang indah sambil
menonton ‘film porno’ yang kami bintangi sendiri melalui
handycam itu. Lumayan juga hasilnya meskipun kadang
gambarnya goyang karena yang men-syuting ikut
berpartisipasi. Rekaman itu kami transfer menjadi VCD hanya
untuk koleksi pribadi geng kami. Kami sempat beradegan
sesama wanita sebentar di bathtub karena terangsang dengan
rekaman itu.
Malam itu aku menginap di rumah Verna karena sudah
kemalaman dan juga lelah. Kami terlebih dulu mengganti sprei
yang bekas bersenggama itu dengan yang baru agar enak tidur.
Pagi harinya setelah sarapan dan pamitan pada mamanya
Verna, kami menuju ke halaman depan dan naik ke mobil. Di
sana kami berpapasan dengan keempat tukang bangunan yang
senyum-senyum ke arah kami, kami pun membalas tersenyum,
lalu Verna mulai menjalankan mobil. Kami keluar dari
rumahnya dengan kenangan gila dan mengasyikkan. Beberapa
hari ke depan sampai pembangunan selesai, mereka beberapa
kali memperkosa Verna kalau ada waktu dan kesempatan,
kadang kalau sedang tidak mood Verna keluar rumah sampai
jam kerja mereka berakhir.

Buah perselingkuhan

image

biar saja semua angin kebohongan itu berlalu
sejalan bertambahnya usiaku,Jika ku hanya
berusaha dalam satu cinta tak bertepi ini mungkin aku kan
tiba dalam sebuah pelabuhan
sejati.Hingga pada Tahun yang begitu surpresnya aku dipertemukn dengan
sosok wanita dambaan pengisi senyapnya dan pengobat lelah
yang tak pernah ada henti karena selalu di bekerja dan
bekerja.KIsah cinta yang lumayan singkat,ku tembah dia jadi
calon istriku Alahmudlilah dia mau menerima dengan segela
kekurangan dan sekecil kelebihanku,tapi aku berjajnji dalam
ikatan cinta suci bahwa aku hanya mencintainya,bila aku
mencintai selain dia berarti itu hanya nafsu belaka.Inilah kisah
perjalan dalam bumi yang menantang ini yAku sudah menikah,
berusia sekitar 30th dengan tinggi 175 dan berat 67kg. Namaku
Robby. Aku memiliki adik ipar yang masih kuliah di salah satu
universitas swasta top di jakarta. Namanya Novyanti. Ini
adalah kisah perselingkuhanku dgn Novy. Novy tingginya
160cm dgn berat 50kg, berambut panjang dgn warna kulit
putih. Payudaranya 34B, tidak besar, tetapi sekel. Dan
selangkangannya berdaging dengan bau vagina yang sangat
aku sukai. Cerita ini adalah pengalaman pribadi, tetapi nama,
situasi dan tempat sudah diubah untuk melindungi para
pelakunya.
Cerita Seks – Suatu saat, aku sedang sendirian di Jakarta karena
istriku sedang keluar kota. Aku mengajak Novy berlibur ke
sebuah resort di dekat Anyer. Tempat yang indah. Seolah kita
sedang berbulan madu. Setelah check-in aku mengajak Novy
masuk ke kamar yang indah dan menghadap ke arah pantai.
Koper aku letakkan dan kupeluk Novy dengan mesra. Novy
menatapku dengan tersenyum. Dan kucium bibir tipis Novy.
Novy membalas dengan lembut dan setelah beberapa saat,
ciumannya menjadi ganas. Seolah ingin menelan bibirku.
Kumainkan lidahku masuk ke dalam mulut Novy dan napasnya
mulai memburu. Kemudian kucium lehernya mulai dari bawah
telinga turun ke pundak. Novy merasa geli dan mendorong
wajahku menjauh.
Kemudian kupeluk dia erat2 dan kurasakan payudara Novy
menempel di dadaku. Novy menempelkan payudarany dan
selangkangannya padaku.
Pelan2 kuangkat kaos yang dipakainya dan kusisipkan
tanganku ke pinggang dan pundak Novy. Kuelus2
punggungnya dan Novy bergumam keenakan. Tanganku terus
bergerak naik ke atas ke arah pengait BHnya. Kaitan BH kulepas
dan Novy merasakan payudaranya terasa longgar. Putting
payudaranya mulai membesar merasakan terbebasnya BH dari
tubuhnya. Dalam keadaan masih berbaju lengkap hanya saja
kaitan BH terlepas, tanganku mulai bergerilya ke arah payudara
Novy. Kucecup lagi bibirnya dan tanganku mulai menyenggol
payudara dan sesekali melintas di atas putingnya. Setiap kali
melintas, Novy mengeluarkan suara kaget dan lenguhan tanda
sudah terangsang. Novy merasakan vaginanya mulai lembab
dan basah dan mulai diserap oleh celana dalamnya.
Kuangkat kedua lengan Novy dan menarik seluruh kaos dan
BHnya melewati kepala dan melemparkan pakaian tersebut ke
atas ranjang besar di tengah ruangan. Novy memandang
wajahku dengan mata nanar tanda nafsu mulai menguasai
dirinya. Mulutku langsung mencari puting susunya yang sdh
membesar. Areola Novy sdh melebar melebihi normal. Pertama
kukecup lembut di seputar putingnya memberikan sensasi
menggoda. Novy mendesah ‘iiihh.. gak boleh. Sudah ah!’ tetapi
ia tdk menghindar, bahkan terkesan menyodorkan putingnya
ke mulutku.
Dengan lembut dan lincah, kujilat puncak puting payudara
Novy sebelah kanan dan Novy mendesah ‘aaa…hhh’. Kemudian
beralih ke puting kirinya sambil tangan kiriku mengelus
payudara kanan Novy. Tubuhnya yang sudah setengah
telanjang, menggelinjang2. Kubuka kaosku dan sekarang sama2
bertelanjang dada. Kuangkat kedua lengan Novy dan
kuletakkan di pundakku sementara aku memeluk dan
mengusap2 punggungnya. Kedua dada kami bersentuhan dan
memberikan loncatan2 listrik. Areola Novy semakin
membengkak dan seolah menelan putingnya. Yang keluar dari
mulutnya hanyalah desahan tidak beraturan. Ia merasakan
celana dalamnya bagaikan tercelup air karena derasnya cairan
vagina Novy mengalir keluar. Novy merasakan cairan vaginanya
mengalir dari lubang kenikmatannya dan berjalan sepanjang
bibir mulut vagina. Spot di celana dalamnya mulai muncul dan
membesar. Novy menutup mata dan membiarkanku
merangsangnya habis2an.
Kancing celana pendek putih Novy mulai kubuka pelan-pelan.
Ketika aku terlalu lama membukanya, Novy dengan tidak sabar
membuka seluruh kancing celananya. Terlihatlah celana dalam
katun warna merahnya. Tanganku masuk dan mengusap2
pantat dan pelan2 menurunkan celana putihnya ke bawah dan
kubiarkan jatuh ke lantai. Celana dalam Novy terlihat basah
dari bagian bawah hingga depan pertanda cairan cintanya sdh
meluap bagaikan keran bocor. Celana dalamnya lengket
dengan gundukan bibir kemaluan Novy dan menampilkan
lekukan bibir mayoranya. Novy merasa lubang kenikmatannya
menjadi lebih rileks dan membengkak.
Kubuka seluruh celanaku dan aku berdiri telanjang di depan
Novy. Ia melihat penisku yang berdiri tegak dengan penuh
nafsu. Aku ambil tangan Novy dan menuntunnya ke penisku.
Ia mulai memegang dan memainkan penisku dengan lembut.
Kemudian, aku mulai mencium dan sesekali menjilat perut
Novy dan pelan2 mulai jongkok hingga mulutku berada pada
ketinggian gundukan cinta Novy. Bau kewanitaan Novy serasa
memenuhi ruangan hotel. Bau yang sungguh merangsang dan
membuat kamar seperti penuh dengan listrik nafsu seks. Di
tengah gundukan selangkangan Novy, aku mulai mencium
lembut mengelilingi gundukan tersebut. Novy merem melek
dan kedua tangannya memegang kepalaku. Jari2nya masuk ke
rambutku dan sesekali menariknya.
Gundukan selangkangannya semakin basah oleh lendir
kenikmatan dan jilatanku. Novy mulai mengangkat satu
kakinya agar selangkangannya menjadi lebih terbuka. Ia mulai
merasa gamang dan ingin duduk. Tetapi aku memaksanya
tetap berdiri dan mulai menurunkan celana dalamnya.
Terlihatlah gundukan putih dengan rambut kemaluan yang
halus tetapi menutupi bagian bawah bibir mayora hingga
sedikit di ujung gundukan cintanya. Aroma vagina yang
terangsang sudah sedemikian kuat dan aku harus menahan
diri utk tdk langsung meniduri Novy. Aku ingin memberikan
yang terbaik yang belum pernah Novy alami sebelumnya.
Kemudian aku tuntun Novy ke arah ranjang dan
menelungkupkannya dalam keadaan telanjang bulat.
Aku mengambil madu asli yang sudah aku persiapkan
seblumnya dan kuoleskan ke punggung hingga pantatnya.
Dengan lidahku, aku mulai menjilat madu tersebut dan
membuat Novy melenguh keenakan. Jilatan2 dan kecupan2
lembut sepanjang tubuh Novy membuatnya sangat
terangsang dan mulai bernapas ngos2an. Kakinya mulai
digerakkan dan paha dibuka dengan harapan aku akan mulai
menyetubuhinya. Sesekali aku sentuh lubang kenikmatannya
dan dia berteriak kaget bercampur penuh harap. Tapi aku
masih menahan diri dan membuat Novy makin blingsatan.
Kemudian kusuruh dia balik badan dan kulihat gundukan
selangkangannya. Gundukannya sungguh besar dan terlihat
memerah berkilat tanda basah kuyup. Aku mulai menjilat
seluruh tubuh Novy. Pahanya mulai dibuka lebar2 dan
diangkat ke atas menunjukkan lubang kelaminnya yang
kemerahan dipenuhi cairan kenikmatan. Aku bergeser di atas
tubuhnya dengan sengaja menempelkan penisku yang berdiri
tegak. Aku cium bibir Novy sambil sesekali penisku menyentuh
selangkangannya. Novy memegang pinggulku dan berusaha
menekan pantatku agar penisku bisa masuk ke memiawnya.
Tapi, meski kukulum mulut dan dadaku kugesekkan ke
payudaranya, penisku tetap tidak kumasukan. Sesekali kepala
penisku yang sdh memerah tua dan berkilat kutempelkan ke
bibir memiawnya. Novy memohon dengan sangat, ‘beib,
masukkan donk.. Aku sdh ga tahan nih.. iiihhh.. ayo
masukin..diitung sampai tiga kalau ga mau masuk, ga usah
lho..’ sambil mendesah2. Kubiarkan kepala penisku bergeser
membuka bibir memiawnya hingga masuk bagian kepalanya
saja dan Novy berteriak kecil. Tapi kemudian kutahan lagi.
Kepala penisku sdh dipenuhi cairan lendir Novy.
Kemudian aku turun ke selangkangannya dan mulai menjilat
klitoris dan membuka bibir memiaw Novy dng lidah. Setiap
sapuan lidahku membuat Novy kelojotan dan akhirnya aku
memasukkan lidahku ke permukaan lubang vagina Novy.
Kusedot, jilat, cium dengan ganas, dan seluruh tubuh Novy
mulai menegang dan akhirnya berteriak keras sekali mencapai
orgasme. ‘Beib! Beib! Aduh enak pisan!! Sayang.. Aku sayang ma
kamu.. Enak beib… AAAHAHHAHHHH’ dan keluarlah cairan
kenikmatannya membasahi ranjang dan mulutku. Novy terus
menekan kepalaku ke selangkangannya sambil menahan
napas, memburu, ‘AAAA…HH!’ Setelah beberapa detik, tubuh
Novy mulai rileks kembali.
Aku tidak berhenti tetapi justru meneruskan jilatan2 ku
sepanjang bibir mayoranya. Klitorisnya sdh kemerahan dan
bengkak dan sangat2 sensitif. Aku mulai menjilat dan
menyedot klitorisnya dengan hati2 agar Novy tdk merasa
kesakitan. Dalam waktu beberapa saat, Novy mulai ON lagi.
Napasnya mulai memburu dan kakinya digerak2an keluar.
Pantatnya diangkat agar lidahku bisa makin memainkannya.
Aku berhenti sejenak dan melihat puting susu Novy membesar
dan mengeras berwarna merah muda.
Sekarang kedua paha Novy aku angkat dan pelan2 penisku
mulai kutempelkan ke selangkangan Novy. Kepala penisku
mulai membelah bibir memiawnya dan mengarah langsung ke
lubang kenikmatannya. Novy mendesah pasrah ketika penisku
mulai memasuki lubang vaginanya. Betapa nikmatnya
memasuki lubang yang basah kuyup oleh lendir cintanya. Aku
memasukkan dengan mudah sampai setengah penis dan Novy
mulai mendengus. Dengan cepat aku memasukkan penisku
masuk ke dalam vagina Novy and ia menjerit kecil. AAH!
Akhirnya kita bersatu menjadi satu tubuh. memiaw Novy
makin becek dan keliatan cairan yang berwarna agak putih.
Terdengar bunyi srep srep srep dan cek cek cek.
Novy menutup mata dan merasakan rangsangan dan
kenikmatan yg luar biasa. Baru kali ini, ia memberikan tubuh
dan hatinya seutuhnya dalam permainan cinta ini. Sambil
memompa vaginanya dengan kekuatan penuh, aku mencumbu
bibir tipisnya. Tetapi lama2 ia tidak bisa bercumbu dan
menghindar dari ciumanku karena yg keluar hanyalah AH AH
AH… Novy menutup matanya dan berkonsentrasi pada
sensasi vaginanya.
Aku mengangkat kedua kakinya ke atas pundakku dan
membuatnya merasakan seluruh penisku di dalam vaginanya.
Aku semakin dalam masuk dan Novy makin kehilangan
kontrol. Ia mendadak berteriak2, ‘SAYANG! AAAA AHHHH!’ dan
kali ini mengalami orgasme yang lebih hebat dari sebelumnya.
Seluruh vaginanya mengejang dan memeras penisku di
dalamnya. Kepalanya terangkat dan matanya melihat mataku
dengan penuh nafsu membara… Sungguh pemandangan yang
indah. Novy yang cantik dan polos dengan tubuh agak
semoknya, tetapi sangat berbau seks, berada di bawah
tubuhku dan penisku sedang menikmati setiap relung liang
sanggamanya. Akhirnya aku biarkan penisku mengeras sekeras
kayu dan bisa kurasakan membesar 120% dan akhirnya aku
merasakan seluruh tubuhku menegang degn buah zakarku
menjadi bergetar dan tanpa bisa kutahan kusemprotkan
spermaku ke dalam rahim Novy dengan deras. Novy merasakn
siraman spermaku dan mengalami kenikmatan lagi. Novy
meracau, ‘beib.. aku pengin punya anak dari kamu.. Beib
terus… AAAHHH!’ Dan setelah orgasmeku yng luar biasa di
dalam rahim Novy, kita berdua istirahat dan keadaan penisku
di dalam vaginanya. Pelan2 dari liangnya keluar cairan
spermaku dan lendir cinta Novy membasahi ranjang hotel.
Kukecup pelan puting Novy dan aku rebah di atas tubuhnya.
Setelah penisku mengecil dan keluar dgn sendirinya dari vagina
Novy, aku menarik Novy ke kamar mandi. Permainan belum
berakhir. ‘Sekarang kita mandi sama yuk.’ Kemudian kita berdua
berdiri telanjang di bawah shower. Setelah distel air hangat
yang mengucur keluar, aku mulai membasahi seluruh badan
telanjang Novy. Dengan sabun di tangan, aku mulai menyabuni
tubuh indahnya. Dari atas, turun ke payudaranya dan aku
mulai mengusap2 kembali payudara dan putingnya. Novy
memprotes,’Iihhh.. sudah deh…’ ‘Kenapa? Gak mau? Bener nih
sdh cukup? Nanti kita stop lho…’ ‘hmmm.. iya’.. tetapi aku tetap
meremas dan mengelus2 puncak payudaranya. Novy berusaha
menghindar dan aku meneruskan menyabuninya ke bawah. Di
bagian selangkangan, cairan lendirnya masih mengalir
membasahi permukaan vaginanya. Aku mulai menyabuni dan
bermain di klitorisnya. ‘Aaahhh.. sdh deh…’ sambil merem
melek. Ketika mulutnya terbuka, langsung aku kecup dia.
Melihat Novy begitu bernafsu, aku mulai terangsang lagi dan
penisku mulai mengeras kembali. Kali ini, aku menyuruh Novy
berbalik dan di bawah pancuran shower satu tanganku
mengusap dadanya dan satu lagi memegangi dan memelintir
klitorsnya. Novy mengejang dan aku suruh dia agak merunduk.
Kubuka pantatnya dan terlihat lubang anus dan vaginanya.
Aku memasukkan jariku ke vaginanya yg masih licin. Seluruh
jariku kumasukkan. Satu jari, dua jari dan kutemukan G-
spotnya dan mulai memijatnya. Novy mendongak sambil
mengerang2. Kedua tanganya menempel ke kaca shower box.
Kumasukkan penisku ke dalam vagina Novy dari belakang dan
Novy menjerit gembira. Mulailah kupompa dari belakang
sambil kedua tangan tetap memegang puting dan klitorisnya.
Novy berteriak2 ‘aaaaahhhhhh…. ahaaaaaaahhhhhh…..
aaaahhhh…’ seluruh tubuh mengejang dan sekali lagi Novy
berteriak’Beib.. aku sayang ka….aaaaahhh!!!’ dan Novy
menggerinjal2 tubuhnya dan bergetar seperti orang ayan.
Penisku masih tegak berdiri dan aku beristirahat sejenak.
Kemudian aku mulai memompanya dan setelah Novy hampir
mencapai orgasme, aku cabut penisku dan duduk di ats
closet. Aku menarik Novy dan mendudukkannya di atas
penisku. Novy tdk sabar dan menuntun penisku diarahkan ke
lubang memiawnya. Novy menduduki penisku sambil
menghadap diriku dan mulailah dia berganti memompa diriku.
Lama2 aku tdk bisa menahan lagi dan aku bersuara ‘Sayang,
aku sdh hampir keluar.. aku semprot lagi ya…’ Novy
mendengus ‘hhhhhhh…’ Akhirnya penisku menyemprot ke
dalam vagina Novy bersamaan dengan dia menjerit kencang
‘AAAAAAHHHHH!!!’ dan cairan spermaku masuk ke relung2
rahim Novy . Kemudian Novy tetap duduk di pangkuanku dan
memelukku sambil mencium bibirku… ‘Aku suka banget…
Semoga bisa tiap ari kayak gini..’ Penisku keluar dr vaginanya
dan cairan kenikmatan yg sdh bercampur sperma mulai
mengalir keluar membasahi pahanya.
Setelah beberapa saat istirahat, kita meneruskan mandi dan
berbaring tidur di ranjang berpelukan selama setengah jam
dalam keadaan bugil.
Sore itu, kami jalan2 sepanjang pantai depan hotel. Ketika
malam tiba, kami makan candle light dinner di restoran hotel
tsb. Stl makan, sambil bergandengan tangan kami menyusuri
pantai mendengar deburan ombak. Pantai tdk banyak orang
lalu lalang. Semakin jauh kami melangkah dan tdk seorangpun
yg tampak. Di belakang cahaya terlihat samar2. Kami
berpelukan dgn Novy menyandarkan dirinya padaku.
Kemudian pada bagian yg agak menjorok ke dalam dgn satu
sisi ada batu, kami duduk. Aku memeluk Novy dan mulai
mencium bibirnya lagi. ‘Sudah ah..’ sambil tersenyum Novy
menghindar. Tetapi ketika tanganku mulai menyentuh
payudaranya, Novy membiarkan saja. Kemudian tanganku
mengusap2 paha Novy dan menuju ke selangkangan. ‘Nanti
ketauhan orang loh..’ ‘Gak pa2. Sepi kok. Lebih seru kan.. di
udara terbuka. Kamu belum pernah kan?’
Aku mulai mengarahkan ke selangkangan Novy. Kemudian aku
membuka paha Novy dan mulai mencium dan menjilat2
pahanya hingga ke selangkangan. Kemudian aku mulai
mendorong Novy berbaring dan mencumbunya. ‘Jangan di
sini..’ ‘sstt.. jangan ribut. Nanti ketahuan.’ Tanganku mulai
memainkan susu Novy dari luar kaosnya. Kuangkat kaosnya
dan terlihat behanya. Beha yang menutupi payudara kenyalnya
kuangkat dan langsung kujilat puting susunya. Novy
mendesah. Tanganku kemudian ke leher Novy dan melepaskan
ikatan beha bikininya. Seketka itu juga, Novy merasa bebas.
Payudaranya tdk ada yg menopang. Dengan sekali tarik aku
melepas behanya dan melepaskan kaosnya. Novy berusaha
menutupi kedua susunya dgn kedua tangan. Langsung aku
lepaskan kancing celana hot pants nya dan menarik ke arah
kaki. Novy berusaha mempertahankan, tp itu berarti ia
melepaskan pegangan payudaranya. Mulutku segera menyosor
kedua puting bergantian dan Novy langsung melenguh. ‘Nanti
ketahuan lho.. di kamar aja’ Tapi ketegangan ini menyebabkan
Novy sangat terangsang. Celana dalam bikininya terasa basah
oleh lendir yang mulai muncul lagi. Dgn cepat hot pants dan
celana dalamnya aku tarik hingga lepas dari pahanya. Novy
bugil telentang di atas hamparan pasir sambil menatap
wajahku dgn nanar. Aku segera membuka celanaku semua
hingga bugil dan membuka paha Novy lebar2. terlihat di
cahaya bulan yg temaram liang vagina Novy berkilat oleh
cairan. Penisku yang sdh tdk sabar dan berdiri tegak mulai
mendekat ke lobang Novy. Aku langsung mencium bibir Novy
dan kepala penisku mulai membelah bibir vaginanya. Begitu
ketemu lubang kenikmatannya, aku langsung memasukkan
dgn cepat dan Novy berteriak etapi tertahan oleh mulutku yg
french kiss dia. Kembali aku dan Novy menjadi satu tubuh.
Kita menikmati persetubuhan ini dan merasakan jantung kita
menjadi satu. Penisku bersarang di liang sanggama Novy dan
gua kenikmatannya bagaikan banjir bandang dgn
mengharapkan persatuan dalam cinta dan seksual. Novy mulai
ngos2an dan aku memompa vaginanya makin lama makin
cepat. Kemudian seluruh tubuh Novy menegang dan
napasnya tdk beraturan. Kadng berhenti kadang napas cepat
lagi. Novy merasakan puncak kenikmatan tinggal sebentar lagi,
ia menutup mata dan mencengkeram tubuhku dan
mencakarku. Kedua kakinya menjepit paha dan kakiku dan
berusaha menekan makin masuk seolah ingin menelan seluruh
diriku masuk ke dalam rahimnya. Dan mendadak, Novy
berteriak2 karena orgasme yang panjang bagaikan gelombang
menghantam Novy mulai dari vaginanya, naik ke rahimnya,
perut, payudara, tangan dan kaki dan Novy menancapkan
kukunya ke punggungku dan akhirnya mendesis seolah
kesakitan dan melotot…’hhhhhhhhhh…..’ otot2 vaginanya
terasa mengeras dan menaham penisku di dalamnya dgn
cairan yg luar biasa banyak. Setelah beberapa saat, Novy
tenang kembali dan melepaskan jepitan vagina dan pahanya.
Penisku masih tegak berdiri dgn bangga di dalam saluran
sanggama Novy. Kulepaskan penisku dgn cepat, dan Novy
merasa geli ,’aaahh’
Aku langsung gantian berbaring dan menarik Novy ke arahku.
Aku suruh Novy berbalik arah membelakangi diriku dan
kududukan dia di atas penisku. Penisku segera masuk dgn
mudah dan Novy berjongkok dgn memunggungiku. Aku
menarik Novy mendekat, satu tanganku memainkan
payudaranya, satu lagi memainkan klitorisnya. Novy menahan
tubuhnya dgn kedua tangannya. Kemudian kita mulai lagi
irama seksual cinta kita. Kali ini Novy yg memegang kendali
naik turunnya memiawnya ke penisku. Tetapi kedua tanganku
tetap memainkan klitoris dan dan puting susunya. Novy dgn
cepat mencapai orgasme lagi. ‘aaaaaaaaahahhahhhhhh….. say
…say … say…. hhhhhh…. iiihihhhh sdh ah!!’ cairannya
merembes keluar membasahi seluruh selangkanganku. Tetapi
aku bilang, ‘bentar lagi, sayang aku sdh hampir keluar…’ dan
kedua tubuh kita bagaikan irama keluar masuk penis dalam
memiawnya. Tdk lama kemudian, Novy merasakan orgasme
akan dtg lagi dan aku juga merasa penisku mengeras 150%
pertanda beberapa detik lagi aku akan orgasme. ‘bentar lagi,
beb.. AAAAHHH!’ dan dari penisku muncratlah sperma yg
banyak dan Novy berteriak krn orgasme pd saat yg
bersamaan… Aku masih memompa dgn penis yg sdh
menunaikan tugasnya dan Novy berusaha mengambil sisa2
kekerasan penisku di dalam mekinya. Akhirnya kita selesai dan
segera beres2 utk kembali ke hotel. Novy tdk memakai bh dan
celana dalamnya. Ia memakai kaos dan hot pants nya. Dan
cairan kenikmatannya menetes membasahi pahanya. Dari kaos
terlihat tonjolan puting Novy yg menantang. Ketika di hotel,
beberapa org memperhatikan kita dan Novy sengaja berjalan
dgn seksi. Begitu masuk kamar, Novy langsung bugil dan
melepaskan semua bajuku. Kita berdua bugil dan Novy
langsung menjilat penisku memasukkan ke mulutnya sehingga
berdiri lagi. Aku sdh capai ttp tetap bisa berdiri lagi. Novy
berkata, ‘ini barang kesukaanku. Aku mau tiap ari kayak gini.
Aku milikmu beib. Kapanpun kamu mau ml, aku pasti mau…’
Itulah kisah pengalaman kita di Anyer selama liburan 3 hari di
mana setiap harinya Novy mengalami orgasme hampir 10x dan
kecanduan penisku. Di usianya yang baru 21 tahun, Novy dan
aku berusaha mencari waktu utk bersanggama sesering
mungkin.

Momokku di sodok 2 kontol

image

Aku, seorang model yunior,diperkenalkan
oleh temanku pada seorang fotografer ternama supaya aku bisa diorbitkan menjadi model terkenal.Temanku ngasi tau bahwa om
Andi, demikian dia biasanya dipanggil, doyan
daun muda.Bagiku gak masalah, asal benar2 dia bisa mendongkrak ratingku sehingga
menjadi ternama. Om Andi membuat janjian untuk sesi pemotretan di vilanya di daerah Puncak. Pagi2 sekali, pada hari yang telah ditentukan, om andi menjemputku. Bersama dia ikut juga asistennya, Joko, seorang anak muda yang cukup ganteng, kira2 seumuran denganku. Tugas Joko adalah membantu om Andi pada sesi pemotretan. Mempersiapkan
peralatan, pencahayaan, sampe pakaian yang akan dikenakan model. Om And sangat profesional mengatur pemotretan,mula2 dengan pakaian santai yang seksi, yang menonjolkan lekuk liku tubuhku yang memang bahenol. Pemotretan dilakukan di luar. Bajunya dengan potongan dada yang
rendah, sehingga toketku yang besar montok seakan2 mau meloncat keluar. Joko terlihat menelan air liurnya melihat
toketku yang montok. Pasti dia ngaceng keras, karena kulihat di selangkangan jins nya menggembung. Aku hanya membayangkan berapa besar kontolnya, itu membuat aku jadi
blingsatan sendiri.Setelah itu, om Andi mengajakku melihat hasil pemotretan di
laptopnya, dia memberiku arahan bagaimana berpose seindah mungkin. Kemudian sesi ke2, dia minta aku mengenakan lingeri
yang juga seksi, minim dan tipis, sehingga aku seakan2 telanjang saja mengenakannya. Pentil dan jembutku yang lebat membayang di kain lingerie yang tipis. Jokopun kayanya gak
bisa konsentrasi melihat tubuhku. Aku yakin kontolnya sudah ngaceng sekeras2nya. Om And mengatur gayaku dan mengambil poseku dengan macam2 gaya tersebut. Tengkurap,
telentang, ngangkang dan macem2 pose yang seksi2. Kembali om Joko memberiku arahan setelah membahas hasil pemotretannya. Sekarang sekitar jam 12 siang, om Andi minta
Joko untuk membeli makan siang. Sementara itu aku minta ijin untuk istirahat dikolam renang aja. Om Andi memberiku bikini
yang so pasti seksi dan minim untuk dikenakan. Tanpa malu2 segera aku mengenakan bikini itu. Benar saja, bikininya minim sehingga hanya sedikit bagian tubuhku yang tertutupinya. Aku berbaring di dipan dibawah payung. Karena lelah akibat sesi
pemotretan yang padat dan angin sepoi2, aku tertidur.Ditengah tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus pahaku lalu merambat ke
dadaku. Ketika tangan itu menyentuh selangkanganku tiba-tiba mataku terbuka, aku melihat om Andi sedang menggerayangi tubuhku. “Nes, kamu seksi sekali, om jadi
napsu deh ngeliatnya. Om jadi pengen ngentotin Ines, boleh gak Nes. Nanti om bantu kamu untuk jadi model profesional”,
katanya. Karena sudah diberi tahu temanku, aku tidak terlalu kaget mendengar permintaannya yang to the point. “Ines sih
mau aja om, tapi nanti Joko kalo dateng gimana”, tanyaku. Om and segera meremas2 toketku begitu mendengar bahwa aku
gak keberatan dientot. “Kamu kan udah sering dientot kan Nes, nanti kalo Joko mau kita main ber 3 aja, asik kan
kamunya”, katanya sambil tersenyum.
Aku diam saja, om Andi berbaring di dipan disebelahku. Segera
aku dipeluknya, langsung dia menciumku dengan ganas.
Tangannya tetap aktif meremas2 toketku, malah kemudian
mulai mengurai tali bra bikiniku yang ada ditengkuk dan
dipunggung sehingga toketku pun bebas dari penutup. Dia
semakin bernapsu meremas toketku. “Nes, toket kamu besar
dan kenceng, kamu udah napsu ya Nes. Mana pentilnya gede
keras begini, pasti sering diisep ya Nes”.
Dia duduk di pinggir dipan dan mulai menyedot toketku,
sementara aku meraih kontolnya serta kukocok hingga
kurasakan kontol itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat
waktu tangannya membelai selangkanganku dan menggosok-
gosok nonokku dari luar. “Eenghh.. terus om.. oohh!” desahku
sambil meremasi rambut om Andi yang sedang mengisap
toketku. Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan
berhenti di puserku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika
lidahnya bermain-main di sana ditambah lagi dengan jarinya
yang bergerak keluar masuk nonokku dari samping cd bikini
ku. Aku sampai meremas-remas toket dan menggigit jariku
sendiri karena tidak kuat menahan rasanya yang geli-geli enak
itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan nonokku
mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku
menjambak rambut om andi. Segera tangannya pun mengurai
pengikat cd bikiniku sehingga aku sudah telanjang bulat
terbaring dihadapannya, siap untuk digarap sepuasnya. Dia
segera menyeruput nonokku sampai kurasakan cairanku tidak
keluar lagi, barulah om Andi melepaskan kepalanya dari situ,
nampak mulutnya basah oleh cairan cintaku. “Jembut kamu
lebat ya Nes, pasti napsu kamu besar. Kamu gak puas kan kalo
cuma dientot satu ronde”, katanya.
Belum beres aku mengatur nafasku yang memburu, mulutku
sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma cairan
cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku
agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga
mulutku. Setelah beberapa menit baru aku bisa beradapatasi,
kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit
dan mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga
menjilati wajahku sampai wajahku basah oleh liurnya. “Ines ga
tahan lagi om, Ines emut kontol om ya” kataku. Om Andi
langsung bangkit dan berdiri di sampingku, melepaskan semua
yang nempel dibadanya dan menyodorkan kontolnya.
kontolnya sudah keras sekali, besar dan panjang. Tipe kontol
yang menjadi kegemaranku. Masih dalam posisi berbaring di
dipan, kugenggam kontolnya, kukocok dan kujilati sejenak
sebelum kumasukkan ke mulut.
Mulutku terisi penuh oleh kontolnya, itu pun tidak
menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya saja. Aku
memainkan lidahku mengitari kepala kontolnya, terkadang juga
aku menjilati lubang kencingnya sehingga om andi bergetar
dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi
kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku
gelagapan. “Eemmpp.. nngg..!” aku mendesah tertahan karena
nyaris kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala
kontol itu berkali-kali menyentuh dinding kerongkonganku.
Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi mulutku. Aku
berusaha menelan pejunya itu, tapi karena banyaknya pejunya
meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia
menarik keluar kontolnya, sehingga semburan berikut
mendarat disekujur wajahku. Kuseka wajahku dengan
tanganku. Sisa-sisa peju yang menempel di jariku kujilati
sampai habis. Saat itu mendadak pintu pager terbuka dan Joko
muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua yang
sedang bugil. “Jok, mau ikutan gak”, tanya om Andi sambil
tersenyum. “Kita makan dulu ya”. Segera kita menyantap
makanan yang dibawa Joko sampai habis. Sambil makan,
kulihat jakunnya Joko turun naik melihat kepolosan tubuhku,
meskipun agak gugup matanya terus tertuju ke toketku. Aku
mengelus-elus kontolnya dari luar celananya, membuatnya
terangsang.
Akhirnya Joko mulai berani memegang toketku, bahkan
meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya
dan meraba-raba dadanya. “Nes, toketnya gede juga ya..
enaknya diapain ya”, katanya sambil terus meremasi toketku.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka
pakaiannya. Nampaklah kontolnya cukup besar, walaupun
tidak sebesar kontol om Andi, tapi kelihatannya lebih panjang.
Kugenggam kontolnya, kurasakan kontolnya bergetar dan
mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai menurun hingga
berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan
kontolnya ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga Joko
mengerang keenakan. “Enak, Jok”, tanya om Andi yang
memperhatikan Joko agak grogi menikmati emutanku.
Om andi lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk
mengocok kontolnya. Secara bergantian mulut dan tanganku
melayani kedua kontol yang sudah menegang itu. Tidak puas
hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian om andi pindah
ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan
kedua tanganku. Aku mulai merasakan kontolnya menyeruak
masuk ke dalam nonokku. Seperti biasa, mulutku menganga
mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci kontolnya
memasuki nonokku. Aku dientotnya dari belakang, sambil
menyodok, kepalanya merayap ke balik ketiak hingga mulutnya
hinggap pada toketku. Aku menggelinjang tak karuan waktu
pentil kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku pada
kontol Joko makin bersemangat.
Rupanya aku telah membuat Joko ketagihan, dia jadi begitu
bernafsu memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang
ngentot. Kepalaku pun dipeganginya dengan erat sampai
kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja dientot dari dua arah oleh
mereka, sodokan dari salah satunya menyebabkan kontol yang
lain makin menghujam ke tubuhku. kontol Om Andi
menyentuh bagian terdalam dari nonokku dan ketika kontol
Joko menyentuh kerongkonganku, belum lagi mereka
terkadang memainkan toket atau meremasi pantatku. Aku
serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya
tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit
tapi teredam oleh kontol Joko. Bersamaan dengan itu pula
gentotan Om Andi terasa makin bertenaga. Kami pun nyampe
bersamaan, aku dapat merasakan pejunya yang menyembur
deras di dalamku, kemudian meleleh keluar lewat
selangkanganku.
Setelah nyampe, tubuhku berkeringat, mereka agaknya
mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya. “Nes, aku
pengen ngentotin nonok kamu juga”, kata Joko. Aku cuma
mengangguk, lalu dia bilang lagi, “Tapi Ines istirahat aja dulu,
kayanya masih cape deh”. Aku turun ke kolam, dan duduk
berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diriku.
Mereka berdua juga ikut turun ke kolam, om andi duduk di
sebelah kiriku dan Joko di kananku. Kami mengobrol sambil
memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja
meremas atau mengelus dada, paha, dan bagian sensitif
lainnya.
“Nes, aku masukin sekarang aja ya, udah ga tahan daritadi
belum rasain nonok kamu” kata Joko mengambil posisi
berlutut di depanku. Dia kemudian membuka pahaku setelah
kuanggukan kepala,dia mengarahkan kontolnya yang panjang
dan keras itu ke nonokku, tapi dia tidak langsung menusuknya
tapi menggesekannya pada bibir nonokku sehingga aku
berkelejotan kegelian dan meremas kontol om andi yang
sedang menjilati leher di bawah telingaku. “Aahh.. Jok, cepet
masukin dong, udah kebelet nih!” desahku tak tertahankan.
Aku meringis saat dia mulai menekan masuk kontolnya. Kini
nonokku telah terisi oleh kontolnya yang keras dan panjang
itu, yang lalu digerakkan keluar masuk nonokku. “Wah.. seret
banget nonok kamu Nes”, erangnya. Setelah 15 menit dia
gentot aku dalam posisi itu, dia melepas kontolnya lalu duduk
berselonjor dan manaikkan tubuhku ke kontolnya. Dengan
refleks akupun menggenggam kontol itu sambil menurunkan
tubuhku hingga kontolnya amblas ke dalam nonokku. Dia
memegangi kedua bongkahan pantatku, secara bersamaan
kami mulai menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami
bercampur baur dengan bunyi kecipak air kolam, tubuhku
tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan kesana-
kemari, kedua toketku yang terguncang-guncang tidak luput
dari tangan dan mulut mereka. Joko memperhatikan kontolnya
sedang keluar masuk di nonokku.
Goyangan kami terhenti sejenak ketika om andi tiba-tiba
mendorong punggungku sehingga pantatku semakin
menungging dan toketku makin tertekan ke wajah Joko. om
andi membuka pantatku dan mengarahkan kontolnya ke sana.
“Aduuh.. pelan-pelan om, sakit ” rintihku waktu dia
mendorong masuk kontolnya. Bagian bawahku rasanya sesak
sekali karena dijejali dua kontol kontol besar. Kami kembali
bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan berubah
menjadi rasa nikmat. Aku menjerit sejadi-jadinya ketika om
andi menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih
lembut dikit. Bukannya mendengar, om andi malah makin
buas menggentotku. Joko melumat bibirku dan memainkan
lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut. Hal itu
berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan
tubuhku seperti mau meledak, yang dapat kulakukan hanya
menjerit panjang dan memeluk Joko erat-erat sampai kukuku
mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku
menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan
Joko. Namun mereka masih saja memompaku tanpa peduli
padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang keluar dari
mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan
mereka terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas,
serangan mereka juga makin dahsyat, pentilku disedot kuat-
kuat oleh Joko, dan om andi menjambak rambutku. Aku lalu
merasakan peju hangat menyembur di dalam nonok dan
pantatku, di air nampak sedikit cairan peju itu melayang-
layang. Mereka berdua pun terkulai lemas diantara tubuhku
dengan kontol masih tertancap.
Setelah sisa-sisa kenikmatan tadi mereda, akupun mengajak
mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang basah
kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Mereka mengikutiku
dan ikut mandi bersama. Disana aku cuma duduk, merekalah
yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku tentunya
sambil menggerayangi. nonok dan toketku paling lama mereka
sabuni sampai aku menyindir “Lho.. kok yang disabun disitu-
situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih”
disambut gelak tawa kami. Setelah itu, giliran akulah yang
memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi,
akupun mengemut kontol mereka secara bergantian sehingga
langsung saja napsu mereka memuncak. aku segera diseret ke
ranjang.
Om andi mendapat giliran pertama, kelihatannya mereka dia
main berdua aja dengan ku. Jembutku yang lebat langsung
menjadi sasaran, kemudian salah satu jarinya sudah
mengelus2 nonokku. Otomatis aku mengangkangkan pahaku
sehingga dia mudah mengakses nonokku lebih lanjut. Segera
kontolnya yang besar, panjang dan sangat keras aku genggam
dan kocok2. “Nes, diisep dong”, pintanya. Kepalanya kujilat2
sebentar kemudian kumasukkan ke mulutku. Segera kekenyot
pelan2, dan kepalaku mengangguk2 memasukkan kontolnya
keluar masuk mulutku, kenyotanku jalan terus. “Ah, enak Nes,
baru diisep mulut atas aja udah nikmat ya, apalagi kalo yg
ngisep mulut bawah”, erangnya keenakan. Tangannya terus
saja mengelus2 nonokku yang sudah basah karena napsuku
sudah memuncak. “Nes, kamu udah napsu banget ya, nonok
kamu udah basah begini”, katanya lagi. kontolnya makin seru
kuisep2nya. Kulihat Joko sedang mengelus2 kontolnya yang
sudah ngaceng berat melihat om Andi menggarap aku.
Tiba2 dia mencabut kontolnya dari mulutku dan segera
menelungkup diatas badanku. kontolnya diarahkan ke
nonokku, ditekannya kepalanya masuk ke nonokku. terasa
banget nonokku meregang kemasukan kepala kontol yang
besar, dia mulai mengenjotkan kontolnya pelan, keluar masuk
nonokku. Tambah lama tambah cepat sehingga akhirnya
seluruh kontolnya yang panjang ambles di nonokku. “Enak
om , kontol om bikin nonok Ines sesek, dienjot yang keras om
“, rengekku keenakan. enjotan kontolnya makin cepat dan
keras, aku juga makin sering melenguh kenikmatan, apalagi
kalo dia mengenjotkan kontolnya masuk dengan keras, nikmat
banget rasanya. Gak lama dientot aku udah merasa mau
nyampe, “om lebih cepet ngenjotnya dong, Ines udah mau
nyampe”, rengekku. “Cepat banget Nes, om belum apa2″
jawabnya sambil mempercepat lagi enjotan kontolnya.
Akhirnya aku menjerit keenakan “Om, Ines nyampe mas , aah”,
aku menggelepar kenikmatan. Dia masih terus saja
mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat dan
keras. Tiba2 dia mencabut kontolnya dari nonokku. “Kok
dicabut om, kan belum ngecret”, protesku. Dia diem saja tapi
menyuruh aku menungging di pinggir ranjang, rupanya dia
mau gaya anjing. “Om, masukkin dinonok Ines aja ya, kalo
dipantat gak asik”, pintaku. Dia diam saja. Segera kontolnya
ambles lagi di nonokku dengan gaya baru ini. Dia berdiri sambil
memegang pinggulku. Karena berdiri, enjotan kontolnya keras
dan cepat, lebih cepat dari yang tadi, gesekannya makin kerasa
di nonokku dan masuknya rasanya lebih dalem lagi, “Om ,
nikmat”, erangku lagi. Jarinya terasa mengelus2 pantatku, tiba2
salah satu jarinya disodokkan ke lubang pantatku, aku kaget
sehingga mengejan. Rupanya nonokku ikut berkontraksi
meremas kontol besar panjang yang sedang keluar masuk,
“Aah Nes, nikmat banget, empotan nonok kamu kerasa
banget”, erangnya sambil terus saja mengenjot nonokku.
Sementara itu sambil mengenjot dia agak menelungkup di
punggungku dan tangannya meremas2 toketku, kemudian
tangannya menjalar lagi ke itilku, sambil dientot itilku
dikilik2nya dengan tangannya. Nikmat banget dientot dengan
cara seperti itu. “Om , nikmat banget ngentot sama om , Ines
udah mau nyampe lagi. Cepetan enjotannya om ,” erangku
saking nikmatnya. Dia sepertinya juga udah mau ngecret,
segera dia memegang pinggulku lagi dan mempercepat enjotan
kontolnya. Tak lama kemudian, “Om, Ines mau nyampe lagi,
om , cepetan dong enjotannya, aah”, akhirnya aku mengejang
lagi keenakan. Gak lama kemudian dia mengentotkan
kontolnya dalem2 di nonokku dan terasa pejunya ngecret.
“Aah Nes, nikmat banget”, diapun agak menelungkup diatas
punggungku. Karena lemas, aku telungkup diranjang dan dia
masih menindihku, kontolnya tercabut dari nonokku. “Om ,
nikmat deh, sekali entot aja Ines bisa nyampe 2 kali. Abis ini
giliran Joko ya”, kataku. “Iya”, jawabnya sambil berbaring
disebelahku. Aku memeluknya dan dia mengusap2 rambutku.
“Kamu pinter banget muasin lelaki ya Nes”, katanya lagi. Aku
hanya tersenyum, “Om, Ines mau ke kamar mandi, lengket
badan rasanya”, aku pun bangkit dari ranjang dan menuju ke
kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi
telanjang bulat, kulihat om Andi sudah tidak ada dikamar. Joko
sudah berbaring diranjang. Aku tersenyum saja dan berbaring
disebelahnya. Dia segera mencium bibirku dengan penuh
napsu. kontolnya keelus2. Lidahku dan lidahnya saling
membelit dan kecupan bibir berbunyi saking hotnya
berciuman. Tangannya juga mengarah kepahaku. Aku segera
saja mengangkangkan pahaku, sehingga dia bisa dengan
mudah mengobok2 nonokku. Sambil terus mencium bibirku,
tangannya kemudian naik meremas2 toketku. Pentilku
diplintir2nya, “Jok enak, Ines udah napsu lagi nih”, erangku.
Tanganku masih mengocok kontolnya yang sudah keras
banget. Kemudian ciumannya beralih ke toketku. Pentilku yang
sudah mengeras segera diemutnya dengan penuh napsu, “Jok ,
nikmat banget “, erangku. Diapun menindihku sambil terus
menjilati pentilku. Jilatannya turun keperutku, kepahaku dan
akhirnya mendarat di nonokku. “Aah Jok , enak banget, belum
dientot aja udah nikmat banget”, erangku. Aku menggeliat2
keenakan, tanganku meremas2 sprei ketika dia mulai menjilati
nonok dan itilku. Pahaku tanpa sengaja mengepit kepalanya
dan rambutnya kujambak, aku mengejang lagi, aku nyampe
sebelum dientot. Dia pinter banget merangsang napsuku. Aku
telentang terengah2, sementara dia terus menjilati nonoku
yang basah berlendir itu. Dia bangun dan kembali mencium
bibirku, dia menarik tanganku minta dikocok kontolnya. Dia
merebahkan dirinya, aku bangkit menuju selangkangannya dan
mulai mengemut kontolnya. “Nes, kamu pinter banget sih”, dia
memuji. Cukup lama aku mengemut kontolnya. Sambil
mengeluar masukkan di mulutku, kontolnya kuisep kuat2. Dia
merem melek keenakan.
Kemudian aku ditelentangkan dan dia segera menindihku. Aku
sudah mengangkangkan pahaku lebar2. Dia menggesek2kan
kepala kontolnya di bibir nonokku, lalu dienjotkan masuk,
“Jok , enak”, erangku.Dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar
masuk pelan2 sampai akhirnya blees, kontolnya nancep semua
di nonokku. “Nes, nonokmu sempit banget, padahal barusan
kemasukan kontol berkali2ya”, katnya. “Tapi enak kan, abis
kontol kamu gede dan panjang sampe nonok Ines kerasa
sempit”, jawabku terengah. Dia mulai mengenjotkan kontolnya
keluar masuk dengan cepat, bibirku diciumnya. “Enak Jok, aah”,
erangku keenakan. enjotannya makin cepat dan keras,
pinggulku sampe bergetar karenanya. Terasa nonokku mulai
berkedut2, “Jok lebih cepet dong, enak banget, Ines udah mau
nyampe”, erangku. “Cepet banget Nes, aku belum apa2″,
jawabnya. “Abisnya kontol kamu enak banget sih gesekannya”,
jawabku lagi. enjotannya makin keras, setiap ditekan masuk
amblesnya dalem banget rasanya. Itu menambah nikmat buat
aku “Terus Jok , enak”. Toketku diremas2 sambil terus
mengenjotkan kontolnya keluar masuk. “Terus Jok , lebih
cepat, aah, enak Jok, jangan brenti, aakh…” akhirnya aku
mengejang, aku nyampe, nikmat banget rasanya. Padahal
dengan om Andi, aku udah nyampe 2 kali, nyampe kali ini
masih
terasa nikmat banget. Aku memeluk pinggangnya dengan
kakiku, sehingga rasanya makin dalem kontolnya nancep.
nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya sehingga dia
melenguh, “Enak Nes, empotan nonok kamu hebat banget, aku
udah mau ngecret, terus diempot Nes”, erangnya sambil terus
mengenjot nonokku. Akhirnya bentengnya jebol juga. Pejunya
ngecret didalam nonokku, banyak banget kerasa nyemburnya
“Nes, aakh, aku ngecret Nes, nikmatnya nonok kamu”,
erangnya. Dia menelungkup diatas badanku, bibirku
diciumnya. “Trima kasih ya Nes, kamu bikin aku nikmat
banget”. Setelah kontolnya mengecil, dicabutnya dari nonokku
dan dia berbaring
disebelahku. Aku lemes banget walaupun nikmat sekali. Tanpa
terasa aku tertidur disebelahnya.
Aku terbangun karena merasa ada jilatan di nonokku, ternyata
om andi yang masih pengen ngentotin aku lagi. kulihat
kontolnya sudah ngaceng lagi. nonokku dijilatinya dengan
penuh napsu. Pahaku diangkatnya keatas supaya nonoku
makin terbuka. “Om , nikmat banget mas jilatannya”, erangku.
Ngantukku sudah hilang karena rasa nikmat itu. Aku meremas2
toketku sendiri untuk menambah nikmatnya jilatan di
nonokku. Pentilku kuplintir2 juga. Kemudian itilku diisep2nya
sambil sesekali menjilati nonokku, menyebabkan nonokku
sudah banjir lagi. Aku menggelepar2 ketika itilku diemutnya.
Cukup lama itilku diemutnya sampai akhirnya kakiku
dikangkangkan. “Om,
masukin dong om , Ines udah pengen dientot”, rengekku. Dia
langsung menindih tubuhku, kontolnya diarahkan ke
nonokku. Begitu kepala kontolnya menerobos masuk, “Yang
dalem om , masukin aja semuanya sekaligus, ayo dong om “,
rengekku karena napsuku yang sudah muncak. Dia langsung
mengenjotkan kontolnya dengan keras sehingga sebentar saja
kontolnya sudah nancap semuanya dinonokku. Kakiku segera
melingkari pinggangnya sehingga kontolnya terasa masuk lebih
dalem lagi. “Ayo om , dienjot dong”, rengekku lagi. Dia mulai
mengenjot nonokku dengan cepat dan keras, uuh nikmat
banget rasanya. enjotannya makin cepat dan keras, ini
membuat aku menggeliat2 saking nikmatnya, “Om , enak om ,
terus om , Ines udah mau nyampe rasanya”, erangku. Dia tidak
menjawab malah mempercepat lagi enjotan kontolnya.
Toketku diremas2nya, sampe akhirnya aku mengejang lagi, “om
enak, Ines nyampe om , aah”, erangku lemes.
Kakiku yang tadinya melingkari pinggangnya aku turunkan ke
ranjang. Dia tidak memperdulikan keadaanku, kontolnya terus
saja dienjotkan keluar masuk dengan cepat, napasnya sudah
mendengus2. nonokku kudenyut2kan meremas kontolnya. Dia
meringis keenakan. “Nes, terus diempot Nes, nikmat banget
rasanya. Terus empotannya biar om bisa ngecret Nes”,
pintanya. Sementara itu enjotan kontolnya masih terus gencar
merojok nonokku. Toketku kembali diremas2nya, pentilnya
diplintir2nya. “Om , Ines kepengin ngerasain lagi disemprot
peju om “, kataku. Terus saja kontolnya dienjotkan keluar
masuk nonokku dengan cepat dan keras, sampai akhirnya,
“Nes, aku mau ngecret Nes, aah”, erangnya dan terasa
semburan pejunya mengisi bagian terdalam nonokku. Nikmat
banget rasanya disemprot peju anget. Dia ambruk dan
memelukku erat2, “Nes, nikmat banget deh ngentot ama
kamu”, katanya.
Setelah beristirahat sebentar, aku segera membersihkan diri
dan berpakaian. Kami kembali ke Jakarta. Diperjalanan pulang
aku hanya terkapar saja dikursi mobil. Lemes banget abis
dientot 2 cowok berkali2. “Om, jangan lupa orbitin Ines ya”,
kataku. “Jangan kawatir, selama om masih bisa ngerasain
empotan nonok kamu, pasti kamu melejit keatas deh. Bener
gak Jok”, jawabnya. Joko hanya tersenyum saja. Gak lama
setelah mobil jalan, akupun tertidur.

Pembantuku mantan pelacur

image

Setelah sekian lama gue mengikuti cerita seru di homepage ini, rasanya saya juga ingin berbagi pengalaman antara sesama pencinta cerita seru, mungkin pegalaman ini layak di ketahui para pembaca cerita seru. Gue tinggal sama nyokap, bokap, adek, dan juga kakak gue. Dirumah gue juga ada seorang pembantu yang baru diambil nyokap untuk bantu-bantu dirumah, pembantu ini nginep dan tidur dikamar belakang. Mukanya lumayan cakep, dan juga bentuk body-nya wooiii sexsi sekali, rasanya tidak layak menjadi seorang pembantu, setidaknya sekertaris di kantorlah. Biasanya sebelum tidur gue baca buku porno sambil nyoli dan ngebayangin yang nggak-nggak, kadang-kadang gue banyangin main sama Desy Ratnasari, Krisdayanti, dll. Kalau mut gue kambuh gue langsung setel tuh VCD di komputer gue yang gue pinjem dari tempat sewa, disitu gue mulai nyoli dan nyoli sampe kadang-kadang gue kagak bisa tidur lagi, jadi bawaannya mau nyoli melulu, gue bisa sampe 10 kali dalam sehari, kalau memang nafsu gue memuncak. Waktu itu nafsu itu memuncak, gue pelan-pelan bangun jam 12 malem, dan buka komputer langsung stel VCD porno, tapi bertepatan dengan itu si pembantu gue (namanya: Dewi), itu keluar mau minum, lalu si Dewi melihat ada lampu bohlam menyala di atas, dan si Dewi beranjak ke atas, selangkah demi selangkah tanpa gue sadari. Dan melihat gue lagi megang kontol gue dan lagi serunya lihat VCD, lalu Dewi mendekati gue dan ngomong: “blom tidur, mas Philip?”, sambil medekat ke arah gue “nggak bisa tidur” jawab gue sambil gue melihat toket besar itu. “itu film porno ya, jorok ihk”, ujarnya sambil duduk disamping gue. “bener, tapi suka khan?”, sambut gue sambil melihat ke arah mukanya. “ih nggak lha yau?”, jawabnya dengan tanpa basa basi. Lalu gue sama dia terus bercanda-canda sambil nonton film porno, gue mulai pegang tangannya, dan juga langsung gue rembet ke piggul langsung ke toket, tapi herannya ini orang malah senang, cuma berkata “ihk genit amat sih”, sambil tersenyum. Kontol gue udah tegang dan toket yang besar itu juga udah makin memberas serta memek yang basah kayak air terjun. Lalu gue mendekati dia memegang mukanya dan perlahan-lahan gue cium pipinya lalu merembet ke bibirnya yang seksi itu, setelah gue memasukin mulut gue ke bibir dia, dengan kerasnya dia menarik pala gue, masih ke dalam supaya ciumnya lebih enak dan lebih dalam. Dalam hati gue ini orang bener-bener udah professional padahal seorang pembantu?, lalu sambil ciuman gue pegang buah dada yang segede pala gue sendiri, setelah itu mulai gue mau buka baju, tapi langsung tangan nya menahan gue, dan bilang “jangan disini nanti ketahuan sama ibu”. Lalu sambil ciuman gue beranjax ke kamar gue, dan perlahan-lahan sambil gue cipokan sama dia gue juga buat cupangan dilehernya dan perlahan-lahan langsung dibuka bajunya dan roknya, sekarang tinggal BH dan celana dalamnya, diam-diam langsung gue cium dan kecup BHnya dan gue lihat wah betapa indah nya pentilnya yang hitam itu langsung gue isap dan dia menrintih “ahh… seiisss… enak …. akh …, sambil memegang kontol, yang masih pake celana yang udah tegang. Langsung gue buka celana, baju dan semunaya begitu juga dengan dia, dan gue lihat oh betapa indahnya tubuh dari orang ini, bener-bener ini hari yang menyenangkan bagi gue. Langsung gue ajak dia tiduran sambil mencium toketnya yang sekal itu dan gue perlahan-lahan memasukan jari ke memeknya dan dia menjerit kesakitan tapi enak, dan dia berkata “jangan pake tangan pake kontol lebih enak”, lalu tanpa basa basi gue mulai masukin tuh kontol ke memeknya yang udah basah itu, tapi sayangnya gue suka banget sama nyoli jadi terpaksa permainan itu sebentar dan tidak lama, tapi dia juga menikmatinya. Selesai dari itu dia tiduran di bahu gue dan berkata, “suka main dimana?”, lalu gue menjawab “baru pertama sama situ”, dia kagak percaya, dan gue bilang “iya bener selama ini mau main tapi takut HIV, tapi sekarang mah nggak takut lagi”. Lalu dia berkata “saya sebenarnya kesini ingin bekerja, karena kerja saya yang dulu kotor”, dengan polosnya dia berbicara. Gue tanya ” kotor bagaimana?”, “iya saya pernah menjadi seorang pelacur di diskotik TOPONE”, lalu gue belai rambutnya sambil mengatakan dalam hati, pantes kayaknya kok professional sekali ini orang. Lalu gue setiap hari trus main dan main terus, sampe gue konsultasi sama temen-temen gue yang doyan sex bagaimana supaya gue tahan lama, dan mereka memberikan solusinya, sampai sekarang dia sangat menikmati kepedihan kontol gue yang begitu dashyat. Sampai saat ini gue melakukannya setiap malam, cuma pada waktu dia haid gue kagak melakukannya. Pokoknya gue makin betah dirumah dan ngewe trus sama ini orang, udah GRATIS enak lagi