Skip to content

Pengalaman indah di bali

September 9, 2011

image

Dalam sebuahpembicaran
dengan kawan-kawan bulan ini direncanakan
akan mengikuti tour wisata,itung-itung kegiatan
tour ini diperuntukkan untukpara karyawan supaya bisa melepas
kejenuhan sebentar yang
menghinggapinya oleh pekerjaan-pekerjaan kantor yang menumpuk.Kesempatan ini tentunya
tidak aku sia-siakan untuk sekalian ikut toh sebagian biaya kan ditanggung kantor”enak juga kan?”Itung sambil lihat liaht cewek cantik dan bule yang marak di kota bali,apalagi dipantai Kuta yang tak sepi oleh pemndangan Bule BerBikini kin kontholku tegang,planning dah selesai akhirnya keesokan
harinya melencur kelokasi rencananya.Smapek lupa,lansung aja Perkenalkan dulu namaku Tony pegawai Bank swasta di
kota Malang. Yah yang belum tau kota amlang,jangan lupa mampir ya nikmati juga wisata di malang seperti jatim Park,Oleh-oleh juga tak ketinggalan Apel,oke aku lanjutkan perkenalanku aku mengikuti tour jasa wisata umum di kotaku
untuk menuju ke pulau Bali. Bis direncanakan berangkat pukul 17.00 dari tempat jasa wisata tersebut. Peserta berkumpul dan mulai masuk bis yang disediakan dengan nomor kursi yang telah ditetapkan.Peserta kebanyakan kaum muda yang sedang lelah bekerja dan ingin santai menikmati suasana lain di luarkantor.”Permisi, di sini tempat duduk Nomor 6B?”, tanyaku pada seorang wanita yang duduk di sebelah jendela dengan kaca mata hitam yang tetap terpasang di matanya.“ Oh iya benar, mari silakan”, jawabnya seraya melepas kacamata serta mengemasi barang-barangnya yang menempati tempat dudukku.Aku taksir, dia berusia sekitar 26 tahun dengan tinggi badan
berkisar 165, cukup tinggi tentunya, rambut hitam pekat, kulit putih mulus serta memakai baju yang cukup ketat dengan kancing terbuka sebiji dan warna kontras dengan kulitnya yang putih,alis matanya cukup tebal dan..,ukuran dadanya kuperkirakan 34 dengan cup B seolah akan menyembul keluar,aku menarik nafas dalam-dalam. Aku duduk dengan sedikit basa-basi menanyakan sudah berapa kali dia mengikuti acara seperti ini, dia jawab sering tetapi melalui biro jasa ini masih
sekali.Bis berjalan perlahan meninggalkan kota Malang, kami masih
asyik berbincang sambil sesekali aku melirik bagian dada yang cukup menantang tersebut,kubayangkan seandainya dada tersebut dapat kuraih, ahh.., Gaya bicaranya yang lugas dan
tanpa ditutup-tutupi membuatku betah untuk terus bercakap mulai masalah ringan sampai masalah yang spesifik. Dia
bernama Eni.“En.., Sorry ya kamu udah married ya”, tanyaku seenaknya.“Lho kog nanyanya ke situ, emangnya kenapa sih Mas Ton”,rengeknya manja.
“ Terus kalo aku udah merried kenapa dan kalo belum kenapa kog serius banget sih”, sambungnya sambil tersenyum.“Eh nggak kog cuman nanya aja biar aku tahu siapa kamu, ntar kalo kita akrab aku takut ada yang marah”, jawabku pura-pura bingung.“ Aku cerita ya, nanti ganti kamu ya”, aku cuma mengangguk
mendengarkan.“ Aku kawin muda 18 tahun karena kecelakaan Ton, dan setelah anakku lahir suamiku tidak bertanggung jawab terhadap keluarga,akhirnya aku bercerai dan melanjutkan kuliah sampai
selesai dan berusaha sendiri dengan modal yang diberikan orang tuaku,aku bergerak dibidang percetakan, anakku berusia 7 tahun tinggal bersama orang tuaku hanya sesekali
saja aku menjenguknya jika rindu, ah.., udah ah jangan diterusin, aku ke sini ini bukan untuk bagi cerita lho, aku pengin santai abis kerja gitu aja.., nah akupun juga demikian
nggak pengin tahu kamu lebih jauh yang pentingsaat ini kita
satu bis bersama kan,jawabnya lugas.
“Iya deh sorry aku nggak nanya lagi”, sambil kutoleh wajahnya
dan tak lupa kucuri pandang ke arah dada yang montok itu.Malam semakin larut aku semakin akrab saja sama Eni,kusodorkan jaketku melihat dia merasa kedinginan karena AC
di bis cukup kencang, sedangkan dia memakai pakaian yang cukup minim.Dia menerima dan menutupkan pada bagian
depan dadanya. Eni kelihatan mulai mengantuk. Tanpa terasa
Eni mulai terlelap dan bersandar di bahuku. Terasa hangat,dengan sedikit keberanian kujulurkan tanganku untuk
memeluknya,aku beruntung karena dia tidak menghindariku
bahkan semakin menempatkan diri dalam rengkuhanku.Bis sudah memasuki kota Situbondo dan Eni semakin terlelap
dalam tidurnya. Sebagai lelaki normal melihat hal seperti ini timbul rasa isengku setelah menyadari bahwa benda lunak di dada Eni menempel pada kulitku, lunak dan lembut apalagi
pada waktu bis melewati jalan berliku dan bergelombang
gesekan dadanya semakin kuat terasa, aku mulai merasakan ada yang bergerak di dalam celanaku, semakin keras dan keras.lampu bis dipadamkan dan kulihat bangku disebelah kiriku
sudah terlelap juga. Aku mulai mengadakan kegiatan gerilya,dengan perlahan namun pasti kujulurkan tangan kananku yang sedang memeluk ke arah bawah ketiaknya,kusentuh dengan lembut gumpalan daging yang sejak tadi kuincar. Ah..,kenyal dan lembut, Eni menggeliat namun tetap diam, aksiku
makin berani melihat kondisi ini, kusingkap perlahan kaosnya dari bawah melalui pinggangnya yang ramping, dengan berani
kuraih payudaranya sebelah kanan dengan menyingkap BH-nya, kurasakan ujung payudaranya mengeras, kuusap lembut dan semakin mengeras, dia menggeliat terbangun sedikit mengerang dan berbisik, “Mas.., kamu nakal.., Jangan ah”,pintanya tanpa berusaha melarang lebih lanjut. Kenakalanku semakin menjadi, kucium wajahnya sekilas dia malu dan merunduk, menempelkan wajahnya di dadaku dan merunduk,
kulanjutkan usahaku mengusap terus payudaranya yang
kenyal.Batang kemaluanku semakin mengeras tampaknya dan dia mengetahui, perlahan dia sentuhkan tangannya ke kemaluanku dan dia menatapku. “Aku.., Aku..”, belum sempat dia bicara, kusorongkan bibirku dan disahutnya dengan mesra. Kulihat sekelilingku masih tetap terlelap dan aku terus meremas payudaranya sambil mempermainkan puting
susunya yang semakin mengeras tersebut. Aku semakin menjadi dan merasa aman saja karena bagian dada Eni tertutup dengan jaket hangatku, dan tangan Eni juga tidak
diam dengan cekatan dan terampil tanpa komando dielusnya penisku dari luar yang semakin mengeras itu dan aku semakin tak tahan karena geli.Waktu menunjukkan pukul 04.00 sat bis memasuki hotel di
Bali, sesuai dengan kamar yang dipersiapkan aku bersebehan dengan kamar Eni, kubantu dia menurunkan barang- barangnya untuk dimasukkan dalam kamarnya.Pada pengangkatan barang yang terakhir dipersilakannya aku
duduk dulu, tapi aku sudah tidak sabar lagi, pintu kututup dan kuraih pinggang rampingnya, kusorongkan bibirku dan
diraihnya dengan ganas. Aku dan dia saling melumat, tanganku
mulai bergerak menangkap gumpalan di dadanya,sambil berjalan kududukkan dia di spring bed sambil kupeluk dan
kuraba punggungnya, kini sampailah pada pengait BH, kutarik pengaitnya dan lepas, aku semakin bebas memegang buah
dadanya dan dia menggeliat liar sambil mendesis, kancing T-shirt yang dikenakan kutarik sampai lepas dan dengan segera kulepas T-shirtnya. Aku terkagum, kulihat pemandangan yang
sungguh menakjubkan gadis berbody bagus dengan dada terbuka tergolek indah, seperti gunung kecil yang mencuat
dengan puncak coklat kemerahan manantang, kulit putih mulus dengan memakai celana panjang dia terpejam, mulutku
mulai menyusuri wajah turun ke leher dan akhirnya menancap
pada ujung payudaranya.., Kuhisap.., terus sambil tak henti-hentinya tanganku meraba pada bagian lain.
“ Oh.., Mas.., Maass”,erangnya.Tanganku mulai turun ke bawah, kubuka kancing celananya dan perlahan kumasukkan tanganku pada bagian lunak berbulu lebat dan mulai basah. Kuusap dengan lembut, dia
tidak menolak bahkan memegang tanganku untuk lebih lama tinggal di tempat basah tersebut. Kumasukkan perlahan jari
tanganku.., basah dan semakin basah, dia semakin liar bergerak dan kulihat wajahnya memerah. Tanganku berhenti pada benda kecil yang ada diantara bukit berbulu tersebut,dengan lincahnya kuputar-putar benda kecil yang bernama
clitoris dan kudapatkan vaginanya semakin berair.
” Aku nggak tahan Mas.., ah.., aahh”, dipeluknya aku erat-erat dan mulutku masih tetap menghisap ujung buah dadanya.
Dengan gerak gemulai dia menurunkan seluruh kain yang menempel di tubuhnya, kini semuanya nyata, gadis dengan
kulit mulus tanpa cela tergolek mesra di ranjang. Dengan ada bagian hitam legam penuh bulu menarik sekali nampaknya.Ditariknya dengan keras tanganku untuk menjauh dari
kemaluannya, dan dengan tiba-tiba dia terbangun,
didorongnya perlahan tubuhku sampai telentang dan dia mulai merabaku dengan ganas, ditariknya kancing bajuku,celanaku, semuanya terlepas tinggal celana dalamku saja, kami
tersenyum dan dengan perlahan Eni mulai melakukan aksinya,dihisapnya dadaku dan dikecupnya perlahan, dia meraba celana dalamku dari luar pelan dan terasa nikmat, tangannya yang lentik mulai merambah ke dalam celana dalamku dan
“Breet”, ditariknya keluar batang kemaluanku yang sudah tegak berdiri. “Woow”, serunya berdesah, “Belum pernah aku melihat benda yang seperti ini”.Kulirik kemaluaku dengan ujung yang membonggol memerah dan berdenyut keras.“ Ini punya manusia apa kuda?”, tanyanya manja.“Punya manusia dengan ukuran kuda”, jawabku terpejam dan
pada saat itu pula kulihat ujung kemaluanku sudah masuk dalam mulut Eni. Memang kabarnya sih (nggak GR lho, pada
waktu luang aku mencoba mengukur kemaluanku ternyata memiliki panjang 17,5 cm dan lingkarnya cukup segenggaman
tangan normal) disedotnya kemaluanku sampai pipinya kelihatan cekung. Mataku terpejam merasakan nikmatnya
sedotan Eni. Tanganku meremas rambutnya sambil sesekali kutarik rambutnya. Tidak berhenti sampai di situ saja biji
kemaluanku tidak luput dari keganasan mulut Eni, terasa bergerinjal dan licin.Aku mengerang dan Eni semakin gila memasukkan kemaluanku
ke dalam mulutnya yang mungil dengan cepat keluar masuk sampai terlihat otot kemaluanku semakin memerah dan
tanganku juga tidak mau diam dengan meraih kemaluan Eni,kukucek dengan jemariku memelintir clitorisnya. Dia mulai memuncak, dipegangnya gagang kemaluanku dan ditutunnya ke dalam liang vaginanya, dia mendudukiku.
” Sekarang ya Maass aku nggak kuat.., hoo”,erangnya.Aku diam saja dan, “Brreess”, ditekannya kuat-kuat vaginanya
menutupi kemaluanku. Aku geli bukan kepalang, tapi kulirik masih kepala kemaluanku saja yang tenggelam dalam vaginanya, digoyangnya lagi vaginanya perlahan, centi demi centi kemaluanku amblas dilahap vaginanya. Dia menjerit danmengerang begitu merasakan vaginanya penuh dengan
kemaluanku, sesak rasanya kemaluanku tidak dapat bergerak di dalam vaginanya.Kami diam sejenak, aku rasakan kemaluanku seperti dipijat-pijat dan berdenyut, “aahh”,erangku. Eni mulai bergerak maju mundur dan naik turun. Semakin lama semakin cepat disertai erangan manja yang membuat aku semakin terangsang.Kupegang pinggangnya untuk membantu lancarnya gerak kemaluanku mengucek kemaluannya. Dan,“Ooohh.., dengan kuat sekali dia memelukku dengan kaku sambil berteriak histeris.
“ Ampuun aku nggak kuat mau keluar Ton”,erangnya.
Kurasakan semakin licin kemaluanku mengocek kemaluannya.dipeluknya aku erat-erat dan kurasakan adanya kuku yang menancap di punggungku.“Jangan gerak dulu Ton aku nggaak kuat..”, pintanya.Kudiamkan kemaluanku tetap bersembunyi di vaginanya. Tidak lama kemudian dia lemas dan telentang, kulihat kemaluanku
masih tegak berdiri dan siap menghunjam.Kuambil handuk dan kuusapkan pada vaginanya yang basah.Setelah kering kucoba memberikan rangsangan dengan membiarkan mulutku menjilatinya. Dan ajaib, Eni mulai terangsang lagi, Eni
menggeliat begitu lidahku mempermainkan clitorisnya, kugigit
kecil dan kudengarkan suara teriakannya semakin menjadi.Disorongkan pantatnya dan hidungku ambles ke lubangnya,tercium bau segar vaginanya dan batang kemlauanku semakin keras memerah. Aku berdiri dengan memegang batang
kemaluanku, kusibak rambut di seputar kemaluan Eni dan
kugesek-gesekkan kepala kemaluanku menyodok clitorisnya,dia semakin menggila. Kutuntun pelan-pelan dan tidak seperti
pertama tadi, batang kemaluanku lebih mudah menerobos vagina Eni yang sudah mulai membanjir itu.Dengan lancar mulai kugerakkan keluar masuk ke vaginanya,Eni menggoyangkan pantatnya mengimbangi permainanku sembari tangannya menggapai punggungku dan sesekali
desisan suaranya menambah rangsanganku.
“ Teruus.., Toon,.. aahh”.
“Yaahh.”Ahh.Semakin lama semakin kurasakan mudah menggoyang
kemaluanku dan terasa berkecipak suara beradunya vagina Eni
dan kemaluanku. Kepalaku mulai hangat dan kemaluanku mulai meregang.“ Enn.., aahh.
“Apa Ton.“Aku nggak kuat En.., Mau keluar.“Aku sudah tiga kali Ton..,Tapi sebentar Ton.Tiba-tiba ditariknya batang kemaluanku dan dikocok sambil mulutnya menghisap ujung kemaluanku, dengan rakusnya ditarik dan dimasukkan secara cepat kemaluanku pada mulutnya yang mungil dan tak henti-hentinya dia berguman,aku semakin geli dan geli, “aahh”, sesaat kemudian, “Srreett”,
kurasakan ada sesuatu zat yang keluar dari kemaluanku dan
tidak disia-siakan oleh mulut Eni, dihisap dan hisap terus, tak
terasa mulut Eni penuh dengan tumpahan air maniku bahkan ada beberapa yang sampai ke pipinya. Dia tersenyum,
dibersihkannya kemaluanku dengan mulutnya sambil terus
diciumi tanpa henti dan pecah rasanya kepalaku menahan geli yang tidak terkira.aku tergeletak tak berdaya dengan keringat mengucur dari setiap centi tubuhku. Dipeluk,dikecupnya tubuhku oleh Eni.Dipegangnya kemaluanku yang mulai mengecil dan diciumnya
kembali.“ Aahh.., sudah dulu ah.., aku masih payah”, pintaku manja.
“Enggak kog aku cuma membersiin yang tadi saja, ini masih ada sisanya kog”, sambil terus melumat kemaluanku dan menghisapnya hingga bersih.“ Terima kasih ya Ton.., kamu hebat”.
Kuusap rambut dan tubuhnya yang polos, “Ah.., sama saja,aku belum pernah merasakan hal yang heboh seperti ini”.
Paginya rombongan melanjutkan perjalanan ke obyek wisata dan aku tidak lepas-lepas mengamit lengan Eni dan dia bergelayut dengan manja.Sepulang dari wisata Bali petualangan seks-ku dengan Eni
terus berlanjut sampai Eni melangsungkan pernikahan. Sejak
menikah kami tidak pernah lagi bertemu, karena Eni sekarang
tidak lagi ada di kotaku..

From → umum

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: