Skip to content

Aku selingkuh karna kecewa dengan suami

September 10, 2011

image

Perkenalkan nama saya Nendi umur 29
tahun, saya bekerja di sebuah hotel
berbintang tiga di kota “B”. Seperti
kebanyakan orang bekerja yang kadang
membuat kita jenuh, untuk mengatasinya saya sering membaca cerita panas,sampai
akhirnya saya terobsesi untuk menulis
cerita ini.
Cerita ini berawal dari pulang kemalaman
dengan seorang sekretaris teman
sekantor di bagian lain, namanya Vivi
berperawakan sintal dengan kulit putih
dan tinggi badan yang sedang-sedang
saja sekitar 165 cm. Sebetulnya Vivi
bukanlah tipe orang yang ramah
walaupun dia seorang sekretaris,
mungkin karena om-nyalah dia ada di
posisi tersebut. Oh ya, Vivi juga sudah
menikah kira-kira satu setengah tahun
yang lalu, dan saya pernah beberapa kali
ketemu dengan suaminya.
Pagi itu pada saat jam masuk kantor aku
berpapasan dengannya di pintu masuk,
seperti biasa kita saling tersenyum dan
mengucapkan selamat pagi. Ah lucu juga
kita yang sudah kenal beberapa tahun
masih melakukan kebiasaan seperti itu,
padahal untuk hitungan waktu selama
tiga tahun kita harus lebih akrab dari itu,
tapi mau bagaimana lagi karena Vivi
orangnya memang seperti itu jadi akupun
terbawa-bawa, aku sendiri bertanya-
tanya apakah sifatnya yang seperti itu
hanya untuk menjaga jarak dengan
orang-orang di lingkungan kerja atau
memang dia punya pembawaan seperti
itu sejak lahir.
Mungkin saat itu aku sedang ketiban
mujur, tepat di pintu masuk entah apa
penyebabnya tiba-tiba saja Vivi seperti
akan terjatuh dan refleks aku meraih
tubuhnya dengan maksud untuk
menahan supaya dia tidak benar-benar
terjatuh, tapi tanpa sengaja tanganku
menyentuh sesuatu di bagian dadanya.
Setelah dapat berdiri dengan sempurna
Vivi memandang ke arahku sambil
tersenyum, ya ampun menurutku itu
merupakan sesuatu yang istimewa
mengingat sifatnya yang kuketahui
selama ini.
“Terima kasih Pak nendi, hampir saja aku
terjatuh.”
“Oh, nggak apa-apa, maaf barusan tidak
sengaja.”
“Tidak apa-apa.”
Seperti itulah dialog yang terjadi pagi itu.
Walaupun nggak mau mikirin terus
kejadian tersebut tapi aku tetap merasa
kurang enak karena telah menyentuh
sesuatu pada tubuhnya walaupun nggak
sengaja, waktu kutengok ke arah meja
kerjanya melalui kaca pintu ruanganku
dia juga kelihatannya kepikiran dengan
kejadian tersebut, untung waktu masuk
kerja masih empat puluh lima menit lagi
jadi belum ada orang, seandainya pada
saat itu sudah banyak orang mungkin dia
selain merasa kaget juga akan merasa
malu.
Aku kembali melakukan rutinitas
keseharian menggeluti angka-angka yang
yang nggak ada ujungnya. Sudah
kebiasaanku setiap tiga puluh menit
memandang gambar panorama yang
kutempel dikaca pintu ruanganku untuk
menghindari kelelahan pada mata, tapi
ternyata ada sesuatu yang lain di
seberang pintu ruanganku pada hari itu,
aku melihat Vivi sedang memandang ke
arah yang sama sehingga pandangan
kami bertemu. Lagi, dia tersenyum
kearahku, aku malah jadi bertanya-tanya
ada apa gerangan dengan cewek itu, aku
yang geer atau memang dia jadi lain hari
ini, ah mungkin hanya pikiranku saja yang
ngelantur.
Jam istirahat makan seperti biasa semua
orang ngumpul di EDR untuk makan
siang, dan suatu kebetulan lagi waktu
nyari tempat duduk ternyata kursi yang
kosong ada di sebelah Vivi, akhirnya aku
duduk disana dan menyantap makanan
yang sudah kuambil. Setelah selesai
makan, kebiasaan kami ngobrol ngalor-
ngidul sambil menunggu waktu istirahat
habis, karena aku duduk disebelah dia
jadi aku ngobrol sama dia, padahal
sebelumnya aku males ngobrol sama dia.
“Gimana kabar suaminya vi?” aku
memulai percakapan
“Baik pak.”
“Trus gimana kerjaannya? masih di
tempat yang dulu?”
“Sekarang sedang meneruskan studi di
amerika, baru berangkat satu bulan yang
lalu.”
“Oh begitu, baru tahu aku.”
“Ingin lebih pintar katanya pak.”
“Ya baguslah kalau begitu, kan nantinya
juga untuk mesa depan berdua.”
“Iya pak.”
Setelah jam istirahat habis semua
kembali ke ruangan masing-masing
untuk meneruskan kerjaan yang tadi
terhenti. Akupun kembali hanyut dengan
kerjaanku.
Pukul setengah tujuh aku bermaksud
beres-beres karena penat juga kerja
terus, tanpa sengaja aku nengok ke arah
pintu ruanganku ternyata Vivi masih ada
di mejanya. Setelah semua beres akupun
keluar dari ruangan dan bermaksud
untuk pulang, aku melewati mejanya dan
iseng aku nyapa dia.
“Kok tumben hari gini masih belum
pulang?”
“Iya pak, ini baru mau pulang, baru beres,
banyak kerjaan hari ini”
Aku merasakan gaya bicaranya lain hari
ini, tidak seperti hari-hari sebelumnya
yang kalau bicara selalu kedengaran
resmi, yang menimbulkan rasa tidak
akrab.
“Ya udah kalo begitu kita bareng aja.”
ajakku menawarkan.
“Tidak usah pak, biar aku pulang sendiri
saja.”
“Nggak apa-apa, ayo kita bareng, ini udah
terlalu malam.”
“Baik Pak kalau begitu.”
Sambil berjalan menuju tempat parkir
kembali kutawarkan jasa yang walaupun
sebetulnya niatnya hanya iseng saja.
“Gimana kalo vivi bareng aku, kita kan
searah.”
“Nggak usah pak, biar aku pakai angkutan
umum atau taksi saja.”
“Lho, jangan gitu, ini udah malem, nggak
baik perempuan jalan sendiri malem-
malem.”
“Baik kalau begitu pak.”
Di sepanjang jalan yang dilalui kami tidak
banyak bicara sampai akhirnya aku
perhatikan dia agak lain, dia kelihatan
murung, kenapa ini cewek.
“Lho kok kelihatannya murung, kenapa?”
tanyaku penasaran.
“Nggak apa-apa pak.”
“Nggak apa-apa kok ngelamun begitu,
perlu teman buat ngobrol?” tanyaku
memancing.
“Nggak ah pak, malu.”
“Kok malu sih, nggak apa-apa kok,
ngobrol aja aku dengerin, kalo bisa dan
perlu mungkin aku akan bantu.”
“Susah mulainya pak, soalnya ini terlalu
pribadi.”
“Oh begitu, ya kalo nggak mau ya nggak
usah, aku nggak akan maksa.”
“Tapi sebetulnya memang aku perlu
orang untuk teman ngobrol tentang
masalah ini.”
“Ya udah kalo begitu obrolin aja sama
aku, rahasia dijamin kok.”
“Ini soal suami aku pak.”
“Ada apa dengan suaminya?”
“Itu yang bikin aku malu untuk
meneruskannya.”
“Nggak usah malu, kan udah aku bilang
dijamin kerahasiaannya kalo vivi ngobrol
ke aku.”
“Anu, aku sering baca buku-buku
mengenai hubungan suami istri.”
“Trus kenapa?”
“aku baca, akhir dari hubungan badan
antara suami istri yang bagus adalah
orgasme yang dialami oleh keduanya.”
“Trus letak permasalahannya dimana?”
“Mengenai orgasme, aku sampai dengan
saat ini aku hanya sempat membacanya
tanpa pernah merasakannya.”
Aku sama sekali nggak pernah menduga
kalo pembicaraannya akan mengarah
kesana, dalam hati aku membatin, masa
sih kawin satu setengah tahun sama
sekali belum pernah mengalami
orgasme? timbul niatku untuk beramal:-)
“Masa sih vi, apa betul kamu belum
pernah merasakan orgasme seperti yang
barusan kamu bilang?”
“Betul pak, kebetulan aku ngobrolin
masalah ini dengan bapak, jadi
setidaknya bapak bisa memberi
masukan karena mungkin ini adalah
masalah laki-laki.”
“Ya, gimana ya, sekarang kan suami vivi
lagi nggak ada, seharusnya waktu suami
vivi ada barengan pergi ke ahlinya untuk
konsultasi masalah itu”
“Pernah beberapa kali aku ajak suami
aku, tapi menolak dan akhirnya kalau aku
singgung masalah itu hanya
menimbulkan pertengkaran diantara
kami.”
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan
pukul delapan malam, dan tanpa terasa
pula kami sudah sampai didepan rumah
Vivi, Aku bermaksud mengantar dia
sampai depan pintu rumahnya.
“Tidak usah pak, biar sampai sini saja.”
“Nggak apa-apa, takut ada apa-apa biar
aku antar sampai depan pintu.”
Dasar, kakiku menginjak sesuatu yang
lembek ditanah dan hampir saja
terpeleset karena penerangan di depan
rumahnya agak kurang. Setelah sampai
di teras rumahnya kulihat kakiku, ternya
yang kunjak tadi adalah sesuatu yang
kurang enak untuk disebutkan, sampai-
sampai sepatuku sebelah kiri hampir
setengahnya kena.
“Aduh Pak nendi, gimana dong itu
kakinya.”
“Nggak apa-apa, nanti aku cuci kalo udah
nyampe rumah.”
“Dicuci disini aja pak, nanti nggak enak
sepanjang jalan kecium baunya.”
“Ya udah, kalo begitu aku ikut ke toilet.”
Setelah membersihkan kaki aku
diperliahkan duduk di ruang tamunya,
dan ternyata disana sudah menunggu
segelas kopi hanngat. Sambil menunggu
kakiku kering kami berbincang lagi.
“Oh ya vi, mengenai yang kamu ceritakan
tadi di jalan, gimana cara kamu
mengatasinya?”
“aku sendiri bingung Pak harus
bagaimana.”
Mendengar jawaban seperti itu dalam
otakku timbul pikiran kotor lelaki.
“Gimana kalau besok-besok aku kasih
apa yang kamu pengen?”
“Yang aku mau yang mana pak.”
“Lho, itu yang sepanjang jalan kamu
bilang belum pernah ngalamin.”
“Ah bapak bisa aja.”
“Bener kok, aku bersedia ngasih itu ke
kamu.”
Termenung dia mendengar perkataanku
tadi, melihat dia yang sedang
menerawang aku berpikir kenapa juga
harus besok-besok, kenapa nggak
sekarang aja selagi ada kesempatan.
Kudekati dia dan kupegang tangannya,
tersentak juga dia dari lamunannya
sambil menatap kearahku dengan penuh
tanda tanya. Kudekatkan wajahku ke
wajahnya dan kukecup pipi sebelah
kanannya, dia diam tidak bereaksi. Ku
kecup bibirnya, dia menarik napas dalam
entah apa yang ada dipikirannya dan
tetap diam, kulanjutkan mencium
hidungnya dan dia memejamkan mata.
Ternyata napsu sudah menggerogoti
kepalaku, kulumat bibirnya yang tipis dan
ternyata dia membalas lumatanku, bibir
kami saling berpagut dan kulihat dia
begitu meresapi dan menikmati adegan
itu. Kitarik tangannya untuk duduk
disebelahku di sofa yang lebih panjang,
dia hanya mengikuti sambil menatapku.
Kembali kulumat bibirnya, lagi, dia
membalasnya dengan penuh semangat.
Dengan posisi duduk seperti itu tanganku
bisa mulai bekerja dan bergerilya. Kuraba
bagian dadanya, dia malah bergerak
seolah-olah menyodorkan dadanya untuk
kukerjain. Kuremas dadanya dari luar
bajunya, tangan kirinya membuka
kancing baju bagian atasnya kemudian
membimbing tangan kananku untuk
masuk kedalam BHnya. Ya ampun bener-
bener udah nggak tahan dia rupanya.
Kulepas tangan dan bibirku dari
tubuhnya, aku berpindah posisi
bersandar pada pegangan sofa tempatku
duduk dan membuka kalkiku lebar-lebar.
Kutarik dia untuk duduk
membelakangiku, dari belakang kubuka
baju dan BHnya yang saat itu sudah
nempel nggak karuan, kuciumi leher
bagian belakang Vivi dan tangan kiri
kananku memegang gunung di dadanya
masing-masing satu, dia bersandar
ketubuhku seperti lemas tidak memiliki
tenaga untuk menopang tubuhnya sendiri
dan mulai kuremas payudaranya sambil
terus kuciumi tengkuknya.
Setelah cukup lama meremas buah
dadanya tangan kiriku mulai berpindah
kebawah menyusuri bagian perutnya dan
berhenti di tengah selangkangannya, dia
melenguh waktu kuraba bagian itu.
Kusingkap roknya dan tanganku langsung
masuk ke celana dalamnya, kutemukan
sesuatu yang hangat-hangat lembab
disana, sudah basah rupanya. Kutekan
klitorisnya dengan jari tengah tangan
kiriku.
“Ohh .. ehh ..”
Aku semakin bernapsu mendengan
rintihannya dan kumasukkan jariku ke
vaginanya, suaranya semakin menjadi.
Kukeluar masukkan jariku disana,
tubuhnya semakin melenting seperti
batang plastik kepanasan, terus kukucek-
kucek semakin cepat tubuhnya bergetar
menerima perlakuanku. Dua puluh menit
lamanya kulakukan itu dan akhirnya
keluar suara dari mulutnya.
“Udah dulu pak, aku nggak tahan pengen
pipis.”
“Jangan ditahan, biarkan aja lepas.”
“Aduh pak, nggak tahan, vivi mau pipis ..
ohh .. ahh.”
Badanya semakin bergetar, dan akhirnya.
“Ahh .. uhh.”
Badanya mengejang beberapa saat
sebelum akhirnya dia lunglai bersender
kedadaku.
“Gimana vi rasanya?”
“Enak pak.”
Kulihat air matanya berlinang.
“Kenapa kamu menangis vi.”
Dia diam tidak menyahut.
“Kamu nyesel udah melakukan ini?”
tanyaku.
“Bukan pak.”
“Lantas?”
“aku bahagia, akhirnya aku mendapatkan
apa yang aku idam-idamkan selama ini
yang seharusnya datang dari suami aku.”
“Oh begitu.”
Kami saling terdiam beberapa saat
sampai aku lupa bahwa jari tengah
tangan kiriku masih bersarang didalam
vaginanya dan aku cabut perlahan, dia
menggeliat waktu kutarik jari tanganku,
dan aku masih tercenung dengan kata-
kata terakhir yang terlontar dari mulutnya,
benar rupanya .. dia belum pernah
merasakan orgasme.
“Mau ke kamar mandi pak?”
Tiba-tiba suara itu menyadarkanku dari
lamunan ..
“Oh ya, sebelah mana kamar mandinya?”
“Sebelah sini pak”, sahutnya sambil
menunjukkan jalan menuju kamar
mandi.
Dia kembali ke ruang tamu sementara
aku mencuci bagian tangan yang tadi
sudah melaksanakan tugas sebagai
seorang laki-laki terhadap seorang
perempuan. Tak habisnya aku berpikir,
kenapa orang berumah tangga sudah
sekian lama tapi si perempuan baru
mengalami orgasme satu kali saja dan
itupun bukan oleh suaminya.
Selesai dari kamar mandi aku kembali ke
ruang tamu dan kutemukan dia sedang
melihat acara di televisi, tapi kulihat
dari wajahnya seakan pikirannya sedang
menerawang, entah apa yang ada dalam
pikirannya saat itu.
“Vi, udah malam nih, saya pulang dulu
ya ..”
Terhenyak dia dan menatapku ..
“Emm, pak, mau nggak malam ini
nemanin vivi?”
Kaget juga aku menerima pertanyaan
seperti itu karena memang tidak pikiran
untuk menginap dirumahnya malam ini,
tapi aku tidak mau mengecewakan dia
yang meminta dengan wajah mengharap.
“Waktu kan masih banyak, besok kita
ketemu lagi di kantor, dan kapan-kapan
kita masih bisa ketemu diluar kantor.”
Dia berdiri dan menghampiriku ..
“Terima kasih ya pak, vivi sangat bahagia
malam ini, saya harap bapak tidak bosan
menemani saya.”
“Kita kan kenal sudah lama, saya selalu
bersedia untuk membantu kamu dalam
hal apapun.”
“Sekali lagi terima kasih, boleh kalau mau
pulang sekarang dan tolong sampaikan
salam saya buat ibu.”
Akhirnya aku pulang dengan terus
dihinggapi pertanyaan didalam pikiranku,
kenapa dia bisa begitu, kasihan sekali
dia.
Seperti biasa esoknya aku masuk kantor
pagi-pagi sekali karena memang selalu
banyak pekerjaan yang harus
diselesaikan, kupikir belum ada siapa-
siapa karena biasanya yang sudah ada
saat aku datang adalah office boy, tapi
ternyata pagi itu aku disambut dengan
senyuman vivi yang sudah duduk di meja
kerjanya. Tidak seperti biasa, pada hari-
hari sebelumnya aku selalu melihat vivi
dalam penampilan yang lain dari pagi ini,
sekarang dia terlihat berseri dan terkesan
ramah dan akrab.
“Pagi vi.”
“Pagi pak.”
“Gimana, bisa tidur nyenyak tadi malam?”
“Ah bapak, bisa aja, tadi malam saya
tidur pulas sekali.”
“Ya sudah, saya tinggal dulu ya, selamat
bekerja.”
“Iya pak.”
Aku meneruskan langkahku menuju
ruang kerjaku yang memang tidak jauh
dari meja kerjanya, dari dalam ruangan
kembali aku menengokkan wajah ke
arahnya, ternyata dia masih menatapku
sambil tersenyum.
Tidak seperti biasanya, aku merasakan
hari ini bekerja merupakan sesuatu yang
membosankan, suntuk rasanya
menghadapi pekerjaan yang memang
dari hari ke hari selalu saja ada sesuatu
yang harus diulang, akhirnya aku menulis
cerita ini. HP didalam saku celanaku
berbunyi, ada SMS yang masuk, kubuka
SMS tersebut yang rupanya datang dari
cewek diseberang ruanganku yang tadi
pagi menatapku sampai aku masuk ke
ruangan ini .. ya dia, vivi.
“Pak, nanti mlm ada acara gak? kalo tidak
bisa gak bapak menuhin janji bapak tadi
malam.”
Begitulah isi SMS yang kuterima, aku
berpikir agresif juga nih cewek pada
akhirnya. Kuangkan telepon yang ada
diatas meja kerjaku dan kutekan nomor
extensin dia.
“Kenapa gitu vi, mau ngajak kemana?”
“Eh bapak, kirain siapa, enggak, vivi udah
nyediain makan malam di rumah, bapak
bisa kan makan malam sama vivi nanti
malam?”
“Boleh, kalau gitu nanti pulang saya
tunggu di ruang parkir ya.”
“Iya pak, ma kasih.”
Sore hari aku terkejut karena waktu
pulang sudah terlewat sepuluh menit,
bergegas kubereskan ruanganku dan
berlari menuju ruang parkir. Disana vivi
sudah menungguku, tapi dia tersenyum
waktu melihatku datang, tadinya kupikir
dia akan kecewa, tapi syukurlah
kelihatanyya dia tidak kecewa.
“Maaf jadi nunggu ya vi, harus beres-
beres sesuatu dulu.”
“Nggak apa-apa pak, vivi juga barusan
ada yang harus diselesaikan dulu dengan
neni.”
“Yo.” kataku sambil membukkan pintu
untuk dia, dan dia masuk kedalam mobil
kemudian duduk disebelahku.
Diperjalanan kami ngobrol kesana
kemari, dan tanpa terasa akhirnya kami
masuk ke komplek perumahan dimana
vivi tinggal lalu kami turun menuju ke
rumahnya. Dia membuka pintu depan
rumahnya dengan susah, rupanya ada
masalah dengan kunci pintu tersebut.
Aku tidak berusaha membantunya,
karena dari belakang baru kuperhatikan
kali ini kalau bagian tengah belakang
milik vivi menarik sekali, lingkarannya
tidak terlalu besar, tapi aku yakin laki-laki
akan suka bila melihatnya dalam
keadaan setengah berjongkok seperti itu.
Akhirnya pintu terbuka juga dan dia
mempersilakan aku masuk, dan kamipun
masuk. Setelah mempersilakan aku
untuk duduk, dia pergi ke kamarnya,
setelah itu dia kembali lagi dengan
pakaian yang sudah digantinya, dia tidak
langsung menghampiriku tapi terus
melangkah ke arah dapur dan kembali
dengan segelas air putih dan segelas
kopi, lalu dia menyodorkan kopi tersebut
kepadaku.
“Wah enak sekali nih hari gini minum
kopi, kamu kok nggak minum kopi juga
vi?”
“Saya nggak pernah minum kopi pak,
nggak boleh sama si mas.”
“Oh gitu.”
“Pak mobilnya dimasukin garasi aja ya,
biar vivi yang mindahin.”
“Bolah, sekalian saya mau ikut ke kamar
mandi dulu, badan rasanya nggak enak
kalau masih ada keringatnya.”
“Handuknya ada di kamar mandi pak.”
Dia berdiri sambil menerima kunci mobil
yang kuserahkan sedangkan aku ngeloyor
ke kamar mandi untuk terus
membersihkan badan yang memang
rasanya agak nggak enak setelah
barusan diperjalanan dihadapkan ke
kondisi jalan yang cukup macet tidak
seperti biasa.
Keluar dari kamar mandi kudapati vivi
kelihatan sedikit bingung, kutanya dia,
“Kenapa vi, kok seperti yang bingung
begitu ..”
“Anu pak, barusan ada telepon dari
restoran yang saya pesani untuk makan
malam, katanya nggak bisa nganter
makanan yang dipesan karena
kendaraannya nggak ada.”
“Ya sudah nggak apa-apa, kita kan bisa
bikin makanan sendiri, punya apa yang
bisa dimasak?”
“Adu pa, vivi jadi malu.”
“Udah nggak apa-apa kok, malah jadi
bagus kita bisa masak barengan.”
Kataku sambil tersenyum, vivi
melangkahkan kakinya menuju dapur
dan kuikuti, sampai didapur dia
membuka lemari es yang ternyata hanya
ada sedikit makanan yang siap masak
disana. Akhirnya kami masak masakan
seadanya sambil berbincang kesana
kemari.
Tanpa sengaja aku perhatikan postur
tubuh vivi yang terlihat lain dengan
pakaian yang dikenakan sekarang,
pakaian yang sedikir agak ketat
menyebabkan lekuk-lekuk tubuhnya
terlihat jelas, sungguh bentuk tubuh yang
sempurna untuk wanita seusia dia.
Tanpa sadar kuhampiri dia dan dari
belakang kupeluk dia yang sedang
melakukan tugasnya sebagai ibu rumah
tangga, dia menoleh kearahku dan
tersenyum, kudekatkan bibirku ke
bibirnya dan dia menyambutnya, awalnya
hanya ciuman biasa sampai akhirnya
kami saling berpagutan disini, ya di dapur
miliknya.
Berlanjut terus pergulatan bibir tersebut,
kuraba buah dadanya dan kuremas dari
luar bajunya. Tangan vivi bergerak
membuka kancing baju bagian depan
dilanjutkan dengan menyingkapkan BH
yang dia pakai, dengan demikian
tanganku kiri kanan lebih leluasa
meremasnya. Beberapa saat kemudian
kulepaskan bibirku dari bibirnya dan
kuarahkan ke buah dadanya yang terlihat
sungguh indah dengan warna puting yang
kemerahan, kujilat puting yang sebelah
kanan dan dia menarik nafas dalam
menerima perlakuan itu, akhirnya
kukulum puting itu dan kuhisap dalam-
dalam sambil tangan kananku tetap
meremas dadanya yang sebelah kiri.
Tangan kiriku kugerakkan ke arah
pantatnya, dan kuremas pantat yang
kenyal itu. Kumasukkan tangan itu ke
dalam rok yang dia pakai dan disana
kuraba ada sesuatu yang hangat dan
sedikit basah dan kuraba-raba bagian itu
terus menerus. Rupanya dia tidak tahan
menerima sikapku itu, tangannya
bergerak membuka resleting roknya dan
melorotkannya kebawah. Aku hentikan
kegiatan bibirku di buah dadanya lalu
bubuka celana dalamnya dan kutemukan
bulu indah yang tidak terlalu banyak
disana kusingkapkan sedikit dan
kuarahkan bibirku kesana dan kujilat
bagian kecil yang menonjol disana.
Suara lenguhan dari bibirnya sudah tidak
terbayangkan lagi, akan memperpanjang
cerita kalau saya tuliskan disini.
“Oh, pak, saya belum pernah merasakan
ini, oh ..”
Aku terus melanjutkan kegiatan lidahku
diselangkangannya sambil terus
memasukkan lidah ini kedalam gua
lembab yang berbau khas milik wanita.
Lenguhan demi lenguhan terus keluar
dari mulutnya sampai akhirnya kurasakan
tubuhnya mengejang dan bergetar
dengan mengeluarkan teriakan yang
tidak bisa ditahan dari mulutnya, dia
sudah sampai ke puncak kenikmatan
sentuhan seorang lelaku seperti aku ini,
dan akhirnya kuhentikan kegiatanku itu
lalu berdiri menghadap dia, danpa
kuduga dia mencium bibirku.
“Pak kita ke kamar ya.”
Dia menuntunku masuk ke kamar
tidurnya, kamar itu terlihat rapi, lalu kami
duduk dipinggir tempat tidur dan kembali
saling berpagutan disana. Dia bangkit
berdiri dihadapanku seraya bertanya.
“Boleh saya buka pakaian bapak?”
Aku hanya tersenyum menanggapi
pertanyaan tersebut, lalu dia membuka
seluruh pakaian yang kukenakan sampai
ke celana dalamku. Dia memegang
senjataku yang dia dapati dibalik celana
dalam yang baru saja terbuka, lalu dia
menciumnya dan menjilatinya, nikmat
sekali rasanya.
“Dari dulu saya ingin melakukan ini, tapi
suami saya nggak pernah mau
diperlakukan begini.”
Dia berkata begitu sambil kembali
meneruskan kegiatannya menjilati
senjata milikku, tanpa kuduga dia
lanjutkan kegiatannya tadi dengan
mengulum dan menyedot batang
kemaluanku, dan rasanya lebih nikmat
dari yang tadi kurasakan. Akhirnya dia
berhenti berlaku seperti itu dan berkata.
“Pak, tidurin vivi ya.”
Tanpa menunggu permintaan itu terulang
aku baringkan tubuhnya diatas tempat
tidur, aku ciumi sekujur tubuhnya yang
dibalas dengan gelinjangan tubuh mulus
itu, akhirnya setelah sekian lama kucoba
masukkan kemaluanku kedalam lubang
senggama yang memang sudah basah
dari sejak tadi, dan “Ahh ..” itulah yang
keluar dari mulut vivi, sungguh nikmat
sekali rasanya memasuki tubuh yang
telanjang ini, dan satu lagi, lubang
kemaluannya masih terasa cukup sempit
dan menggigit, terbersit lam pikiranku
sebuah pertanyaan, sebesar apa milik
suaminya sampai lubang ini masih terasa
sempit seperti ini.
Kuperhatikan jam yang ada di dinding
kamarnya menunjukkan bahwa aku
sudah mengeluar masukkan kemaluanku
kedalam tubuhnya selama dua puluh
menit dan akhirnya kembali kurasakan
tubuhnya mengejang sambil
mengeluarkan suara-suara aneh dari
mulutnya, akhirnya dia menggelepar
sambil memeluk tubuhku erat-erat
seolah tidak ingin lepas dari tubuhnya,
karena pelukannya itu aku jadi terhenti
dari kegiatanku.
Beberapa saat kemudian vivi melepaskan
pelukannya dan terkulai lemas, tapi aku
melihat sebuah senyuman puas
diwajahnya dan itu membuat aku merasa
puas karena malam ini dia sudah dua
kali mendapatkan apa yang selama ini
belum pernah dia dapatkan dari
suaminya.
“Gimana vi?”
“Aduh, vivi lemas tapi tadi itu nikmat
sekali ..”
“Vivi mau coba gaya yang lain?”
“Emm ..”
Kubangunkan tubuhnya dan kugerakkan
untuk membelakangiku, kudorong
pundaknya dengan pelan sampai dia
menungging dihadapanku, kumasukkan
kejantananku kedalam lubang
senggamanya dan dia mengeluarkan
teriakan kecil.
“Aduh .. Pak enak sekali, dorong terus
pak, vivi belum pernah merasakan
kenikmatan seperti ini ..”
Aku keluar masukkan kemaluanku ini
kedalam tubuhnya dengan irama yang
semakin lama semakin kupercepat, lama
juga aku melakukan itu sampai akhirnya
dia berkata “Pak vivi mau pipis lagi ..”,
semakin kupercepat gerakanku karena
kurasakan ada sesuatu yang mendorong
ingin keluar dari dalam tubuhku.
Dalam kondisi lemas dan masih
menungging vivi menerima gerakan maju
mundur dariku, mungkin dia tahu kalau
aku sebentar lagi mencapai klimaks, dan
akhirnya menyemburlah cairan dari
kemaluanku masuk semua kedalam
tubuhnya. Beberapa saat kemudian aku
merasakan tubuhku lemas bagai tak
bertulang dan kucabut senjataku dari
lubang milik vivi.
Aku terbaring disampingnya setelah
melepaskan nikmat yang diada tara, dia
tersenyum puas sambil menatapku dan
memelukku, lalu kami tertidur dengan
perasaan masing-masing. Dalam tidur
aku memimpikan kegiatan yang barusan
kami lakukan dan waktu hampir pagi aku
terbangun kudapati vivi masih terpejam
dengan wajah yang damai sambil masih
memelukku, kulepaskan pelukkannya
dan dia terbangun, lalu kami meneruskan
kegiatan yang tadi malam terpotong oleh
tidur sampai akhirnya kami berdua
bangun dan menuju kamar mandi dalam
keadaan masing-masing telanjang bulat
tanpa sehelai benangpun menutupi
tubuh kami.
Dikamar mandi kami melakukannya lagi,
dan kembali dia mengucapkan kata-kata
yang tidak habis aku bisa mengerti “Vivi
belum pernah melakukan seperti ini
sebelumnya ..”.
Akhirnya kami berangkat kerja dari rumah
vivi, sengaja masih pagi agar tidak ada
orang di kantor yang melihat kedatangan
kami berdua untuk menghindari sesuatu
yang kami berdua tidak inginkan.
Sampai saya menulis cerita ini, masih
tetap terngiang kata-katanya yang sering
mengucapkan kata-kata “Vivi belum
pernah melakukan seperti ini
sebelumnya ..” setiap saya berhubungan
dengan dia dengan gaya yang lain.
Berawal dari situlah kami sering
melakukan hubungan suami istri, dan itu
selalu kami lakukan atas permintaan dari
dia, aku sendiri tidak pernah memintanya
karena aku tidak mau dia punya pikiran
seolah-olah aku mengeksploitir dia. Dan
sekarang vivi yang kukenal jauh berbeda
dari vivi yang dulu, dia menjadi orang yang
ramah dan selalu tersenyum kepada
semua orang dilingkungannya.

From → selingkuh

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: