Skip to content

Kontol perkasa kuli bangunan

September 15, 2011

image

cerita Dewasa yang akan saya sajikan kali ini di
ceritadewasaseks adalah mengenai indahnya seks bersama
dengan beberapa orang memebuat perasaanku lain dari pada
lain.Biasanya di entot satu orang rasa gairah yang terpancar
dalam hubungan diranjang biasa-biasa aja’tidak ada tantangan
sama sekali,kali ini beda sekali Rasanya ada rekasi yang begitu
menggoda dari seorang lelaki perkasa.Bikin memekku yang
dientot oleh para kuli bangunan. jadi begini ceritanya, Sang
surya sudah mulai tengelam,langitpun mulai gelap.Sore yang
penuh ceria dan menyenangkan,Seperti biasa aktifitasku yang
tak pernah aku lewatkan adalah pergi tennis dengan
temanku.Maklum Ini merupakan hobby ku dari kecil yang
tidak pernah absen ku lakukan.Aku ditemani vernaa,dia
merupakan teman tennis ku sebaya dengan ku.Setelah pulang
main dari tennis aku mengantarkann verna ke rumah,tapi
keadaan yang membuatku sangat jengkel,sepanjang jalan
menuju rumah verna selalu macet.Jarak yang biasa bisa
ditempuh 10 menit,kalau sore hari bisa-bisa  30 menit mungkin
karena sore hari banyak pekerja yang mau pulang kerumah
masing-masing.Akhirnya,, tiba juga setelah 20 menit aku
mengendarai mobil,Tampaknya rumah verna sedang ada
banyak orang”akupun bertanya”verna?rumah kamu ada apa
sih kok banyak lalu lalang angkat-angkat bahan bangunan?
Oh.itu itu para kuli bangunan yang sedangmerenofasi
rumahku,rencana mamaku sich katanya mau dibuat kolam
renang dan tempat untuk santai atau sejenis taman gitu dech
kayaknya”saut verna.Kedua gadis itu akhirnya turun dari
mobil,Luar biasa semua orang bangunan yang berada dirumah
itu matanya terbelalak tajam menatap kedua gadis cantik itu,ya
dibarengi dengan keringat yang masih basah di dada mereka
membuat lelaki disitu menelan ludah.Siapa yang tidak tergiur
melihatnya balutan busana tennis dengan rok pendek,Uh,,
paha yang benar-benar mulus dan bokong semok yang begitu
menggoda.Dengan muka yang sopan dan wajah yang ramah
mereka menyapa semua kuli dengan ucapan”selamat
sore”,sontak mereka juga menjawab”sore nona manis.Lankah
mereka pun menuju ke sebuah ruang tamu,seperti biasa aku
mesti disuruh mampir sebentar oleh ibunya virna walau hanya
menyedu secangkir kopi.
Setengah jam pertama kami lewati dengan ngerumpi tentang
masalah kuliah, cowok, dan seks sambil menikmati snack dan
menonton TV. Lalu Mama Verna keluar dari kamarnya dengan
dandanan rapi menandakan dia akan keluar rumah.
“ Ver, Mama titip bayarannya tukang-tukang itu ke kamu ya,
Mama sekarang mau ke arisan,” katanya seraya menyerahkan
amplop pada Verna.
“Yah Mama jangan lama-lama, ntar kalau Citra pulang, Verna
sendirian dong, kan takut,” ujarnya dengan manja (waktu itu
papanya sedang di luar kota, adik laki-lakinya, Very sudah 2
tahun kuliah di US dan pembantunya, Mbok Par masih mudik).
Akhirnya kami ditinggal berdua di rumah Verna yang besar itu.
Aku sih sebenarnya sudah mau pulang dan mandi sehabis
bermain tenis, tapi Verna masih menahanku untuk
menemaninya. Sebagai sobat dekat terpaksa deh aku
menurutinya, lagian aku kan tidak bawa mobil. Di halaman
depan tampak para tukang itu sudah beres-beres, ada pula
yang sudah membersihkan badan di kamar mandi belakang.
Melihat mereka sudah bersih-bersih, akupun jadi kepingin
menyegarkan badanku yang sudah tidak nyaman ini. Akupun
mengajak Verna mandi bareng, tapi dia menyuruhku mandi
saja duluan di kamar mandi di kamarnya, nanti dia akan
menyusul sesudah para tukang selesai dan membayar uang
titipan Mamanya pada mereka, sekalian menghabiskan
rokoknya yang tinggal setengah. Akupun meninggalkannya dia
yang sedang menonton TV di ruang tengah menuju ke
kamarnya. Di kamar mandi aku langsung menanggalkan
pakaianku lalu kuputar kran shower yang langsung
mengucurkan airnya mengguyur tubuh bugilku. Air hangat
memberiku kesegaran kembali setelah seharian berkeringat
karena olahraga, rasa nyaman itu kuekspresikan dengan
bersenandung kecil sambil menggosokkan sabun ke sekujur
tubuhku. 15 menit kemudian aku sudah selesai mandi,
kukeringkan tubuhku lalu kulilitkan handuk di tubuhku. Aku
sudah beres, tapi anehnya Verna kok belum muncul juga,
bahkan pintu kamarpun tidak terdengar dibuka, padahal dia
bilang sebentar saja.
Aku ingin meminjam bajunya, karena bajuku sudah kotor dan
bau keringat, maka aku harus bilang dulu padanya.
“ Ver..Ver, sudah belum, saya mau pinjam baju kamu nih!!,”
teriakku dari kamar.
Tidak terdengar jawaban dari seruanku itu, ada apa ya pikirku,
apakah dia sedang di luar meninjau para tukang jadi suaraku
tidak terdengar? Waktu aku lagi bingung sendirian begitu
terdengarlah pintu diketuk.
“ Nah, ini dia baru datang,” kataku dalam hati.
Akupun menuju ke pintu dan membukanya sambil berkata
“ Huuh.. lama banget sih Ver, lagian ngapain pake ngetok..!!,”
rasa kaget memotong kata-kataku begitu melihat beberapa
orang pria sudah berdiri diambang pintu. Dua diantaranya
langsung menangkap lenganku dan yang sebelah kanan
membekap mulutku dengan tangannya yang besar.
Belum hilang rasa kagetku mereka dengan sigap menyeretku
kembali ke dalam kamar. Aku mulai dapat mengenali wajah-
wajah mereka, ternyata mereka adalah para kuli bangunan di
bawah tadi, semuanya ada 4 orang.
“ Apa-apaan ini, lepasin saya.. tolong..!!,” teriakku dengan
meronta-ronta.
Tapi salah seorang dari mereka yang lengannya bertato dengan
tenangnya berkata, “Teriak aja sepuasnya neng, di rumah ini
sudah nggak bakal ada yang denger kok.”
Mendengar itu dalam pikiranku langsung terbesit ‘Verna’, ya
mana dia, jangan-jangan terjadi hal yang tidak diinginkan
padanya sehingga aku pun makin meronta dan menjerit
memanggil namanya. Tak lama kemudian masuklah Verna,
tangannya memegang sebuah handycam Sony model terbaru.
Sejenak aku merasa lega karena dia baik-baik saja, tapi
perasaanku lalu menjadi aneh melihat Verna menyeringai
seram.
“Ver.. apa-apaan nih, mau ngapain sih kamu?,” tanyaku
padanya.
Tanpa mempedulikan pertanyaanku, dia berkata pada para kuli
bangunan itu,
“ Nah, bapak-bapak kenalin ini temen saya Citra namanya, dia
seneng banget dientot, apalagi kalau dikeroyok, jadi silakan
dinikmati tanpa malu-malu, gratis kok!,”
Dia juga memperkenalkan para kuli itu padaku satu-persatu.
Yang lengannya bertato adalah mandornya bernama Imron,
usianya sekitar 40-an, dia dipanggil bos oleh teman-temannya.
Di sebelah kiriku yang berambut gondrong sebahu dan kurus
tinggi bernama Kirno, usianya sekitar 30-an. Yang berbadan
paling besar diantara mereka sedang memegangi lengan
kananku bernama Tarman, sebaya dengan Imron, sedangkan
yang paling muda kira-kira 25-an bernama Dodo, wajahnya
paling jelek diantara mereka dengan bibir agak monyong dan
mata besar. Keempatnya berbicara dengan logat daerah
Madura.
“Gila kamu Ver.. lepasin saya ah, edan ini sih!,” aku berontak
tapi dalam hatiku aku justru ingin melanjutkan kegilaan ini.
“ Tenang Ci, ini baru namanya surprise, sekali-kali coba produk
kampung dong,” katanya menirukan ucapanku waktu
mengerjainya di vila dulu. Habis berkata bibirnya dengan cepat
memagut bibirku, kami berciuman beberapa detik sebelum dia
menarik lepas mulutnya yang bersamaan dengan
menghentakkan handuk yang melilit tubuhku. Mereka
bersorak kegirangan melihat tubuh bugilku, mereka sudah
tidak sabar lagi untuk menikmatiku
“ Wah.. nih tetek montok banget, bikin gemes aja!,” seru si
Tarman sambil meremas payudara kananku.
“ Ini jembut nggak pernah dicukur yah lebat banget!,” timpal si
Kirno yang mengelusi kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu
lebat itu, dengan terus mengelus Kirno lalu merundukkan
kepalanya untuk melumat payudaraku yang kiri. Sementara di
belakangku, si Dodo berjongkok dan asyik menciumi pantatku
yang sekal, tangannya yang tadinya cuma merabai paha mulus
dan bongkahan pantatku mulai menyusup ke belahan
pantatku dan mencucuk-cucukkan jarinya di sana.
Di hadapanku Pak Imron melepaskan pakaiannya, kulihat
tubuhnya cukup berisi tapi perutnya agak berlemak, penisnya
sudah mengacung tegak karena nafsunya. Dia meraba-raba
kemaluanku, si Kirno yang sebelumnya menguasai daerah itu
bersikap mengalah, dia melepaskan tangannya dari sana agar
mandornya itu lebih leluasa. Wajahnya mendekati wajahku, dia
menghirup bau harum dari tubuhku.
“ Hhmmhh.. si non ini sudah wangi, cantik lagi!,” pujinya sambil
membelai wajahku.
“ Iya bos, emang di sini juga wangi loh!,” timpal si Dodo di
tengah aktivitasnya menciumi daerah pantatku.
Diperlakukan seperti itu bulu kudukku merinding, sentuhan-
sentuhan nakal pada bagian-bagian terlarangku membuatku
serasa hilang kendali. Gerak tubuhku seolah-olah mau
berontak namun walau dilepas sekalipun saya tidak akan
berusaha melarikan diri karena tanggung sudah terangsang
berat. Merasa sudah menaklukkanku, kedua kuli di samping
melonggarkan pegangannya pada lenganku.
Adegan panas ini terus direkam Verna dengan handycamnya
sambil menyoraki kami.
“ Aahh.. jangan.. Ver, jangan disyuting.. ngghh.. matiin handy..
hhmmhh..!!,” kata-kataku terpotong oleh Pak Imron yang
melumat bibirku dengan bernafsu. Aku yang sudah horny
membalas ciumannya dengan penuh gairah.
“ Acchh.. ahhkk.. cckk” bunyi mulut dan lidah kami beradu. Aku
makin menggeliat kegelian ketika si Kirno menaikkan lenganku
dan menciumi ketiakku yang tak berbulu.
“ Ayo Ci, gaya kamu ok banget, pasti lebih heboh dari bokepnya
Itenas nih,” Verna menyemangati sambil mencari sudut-sudut
pengambilan gambar yang bagus. Dia fokuskan kameranya
ketika aku sedang diciumi Pak Imron, saat bersilat lidah hingga
liur kami menetes-netes. Badanku bergetar sepeti kesetrum
dan tanpa sadar kubuka kedua pahaku lebih lebar sehingga
membuka lahan lebih luas bagi lidah Dodo bermain main di
lubang anusku, juga jari-jari yang mengocok-ngocok vaginaku,
aku tidak dapat melihat jelas lagi jari-jari siapa yang mengelus
ataupun keluar-masuk di sana saking hanyutnya dalam birahi.
Mereka menggiring dan mendudukkanku di tepi ranjang. Kirno
dan Tarman mulai melepas pakaian mereka, sedangkan Dodo
entah sejak kapan dia melepaskan pakaiannya, karena begitu
kulihat dia sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kini mereka
berempat yang sudah bugil berdiri mengerubungiku dengan
keempat senjatanya ditodongkan di depan wajahku. Aku
sempat terperangah melihat penis mereka yang sudah
mengeras itu, semuanya hitam dan besar, rata-rata berukuran
17-20cm.
“ Ayo non, tinggal pilih mau yang mana duluan,” kata Pak
Imron.
Aku meraih penis Pak Tarman yang paling panjang, kubelai dan
kujilati sekujur permukaannya termasuk pelirnya, kemudian
kumasukkan ke mulut dan kuemut-emut.
“ Heh, jangan cuma si Tarman aja dong non, saya kan juga mau
nih,” tegur si Kirno seraya menarik tanganku dan
menempelkannya pada penisnya .
“ Iya nih, saya juga,” sambung si Dodo menarik tanganku yang
lain.
“Mmhh.. eenngg..!,” gumamku saat menyepong Pak Tarman
sambil kedua tanganku menggenggam dan mengocok penis
Dodo dan Kirno. Sambil menikmati penis-penis itu, mendadak
kurasakan kakiku direnggangkan dan ada sesuatu di bawah
sana. Oh, ternyata Pak Imron berjongkok di hadapan
selangakanku. Tangannya membelai paha mulusku dan
berhenti di vaginaku dimana dia membuka bibirnya lalu
mendekatkan wajahnya kesana. Kurasakan lidahnya mulai
menyentuh dinding vaginaku dan menari-nari disana. Sungguh
luar biasa kenikmatan itu, aku pun semakin liar, aku membuka
pahaku lebih lebar agar Pak Imron lebih leluasa menikmati
vaginaku. Hal itu juga berpengaruh pada kocokan dan
kulumanku yang makin intens terhadap ketiga pria yang
sedang kulayani penisnya. Mereka mengerang-ngerang
merasakan nikmatnya pelayanan mulutku secara bergantian.
Saking sibuknya aku sampai tidak tahu lagi tangan-tangan
siapa saja yang tak henti-hentinya menggerayangi payudaraku.
Setelah cukup dengan pemanasan, mereka membaringkan
tubuhku di tengah ranjang. Pak Imron langsung mengambil
posisi diantara kedua pahaku siap untuk memasukkan
penisnya kepadaku, tanpa ba-bi-bu lagi dia mulai
menancapkan miliknya padaku. Ukurannya sih tidak sebesar
milik Pak Tarman, tapi diameternya cukup lebar sesuai bentuk
tubuhnya sehingga vaginaku terkuak lebar-lebar dan agak
perih. Verna mendekatkan kameranya pada daerah itu saat
proses penetrasi yang membuatku merintih-rintih. Pak Imron
mulai menghentak-hentakkan pinggulnya, mulanya pelan tapi
semakin lama goyangannya semakin kencang membuat
tubuhku tersentak-sentak. Teman-temannya juga tidak tinggal
diam, mereka menjilati, mengulum, dan menggerayangi sekujur
tubuhku. Si Dodo sedang asyik menjilat dan mengeyot
payudaraku, terkadang dia juga menggigit putingku. Pak
Tarman menggelikitik telingaku dengan lidahnya sambil
tangannya meremasi payudaraku yang satunya. Sementara
tangan kananku sedang mengocok penis si Kirno. Pokoknya
bener-bener rame rasanya deh, ya geli, ya nikmat, ya perih,
semua bercampur jadi satu.
Aku mengerang-ngerang sambil mengomeli Verna yang terus
merekamku
“ Awww.. awas kamu Ver ntar.. saya.. aahh.. liat aja.. oohh..
ntar!,”
“Yaah, kamu masa kalah sama Indah Ci, dia aja sudah ada
bokepnya, sekarang saya juga mo bikin yang kamu nih,”
ujarnya dengan santai “Hmm.. judulnya apa yah, Citra cewek
A*****, wah pasti seru deh!”
Kini sampailah aku pada saat yang menentukan, tubuhku
mengejang hebat sampai menekuk ke atas disusul dengan
mengucurnya cairan cintaku seperti pipis. Si Kirno juga jadi
ikut mengerang karena genggamanku pada penisnya jadi
mengencang dan kocokanku makin bersemangat. Pak Imron
sendiri belum memperlihatkan tanda-tanda akan klimaks, kini
dia malah membalikkan tubuhku dalam posisi dogy tanpa
melepas penisnya. Dia melanjutkan genjotannya dari belakang.
Waktu aku masih lemas dan kepalaku tertunduk, tiba-tiba si
Dodo menarik rambutku dan penisnya sudah mengacung di
depan wajahku. Akupun melakukan apa yang harus kulakukan,
benda itu kumasukkan dalam mulutku. Kumulai dengan
mengitari kepalanya yang seperti jamur itu dengan lidahku,
serta menyapukan ujung lidahku di lubang kencingnya,
selanjutnya kumasukkan benda itu lebih dalam lagi ke mulut
dan kukulum dengan nikmatnya. Tentu saja hal ini membuat si
Dodo blingsatan keenakan, penisnya ditekan makin dalam
sampai menyentuh kerongkonganku, bukan cuma itu dia juga
memaju-mundurkan penisnya sehingga aku agak kelabakan.
Setiap kali Pak Imron menghujamkan penisnya penis Dodo
semakin masuk ke mulutku sampai wajahku terbenam di
selangkangannya, begitupun sebaliknya ketika Dodo
menyentakkan penisnya di mulutku, penis Pak Imron semakin
melesak ke dalamku. Pak Tarman yang menunggu giliran
berlutut di sampingku sambil meremas payudaraku yang
menggantung. Pak Imron mendekati puncak, dia mencengkam
pinggulku erat-erat sambil melenguh nikmat, genjotannya
semakin cepat sampai akhirnya menyemburkan cairan putih
pekat di rahimku.
Sesudah Pak Imron mencabut penisnya, si Dodo mengambil
alih posisinya. Namun sebelum sempat memulai, si Kirno
menyela:
“ Kamu dari bawah aja Do, masak dari tadi aku ngerasain
tangannya aja sih, aku pengen ininya nih!,” katanya sambil
mencucukkan jarinya ke anusku sehingga aku menjerit kecil.
Merekapun sepakat, akhirnya aku menaiki penis si Dodo yang
berbaring telentang, benda itu masuk dengan lancarnya karena
vaginaku sudah licin oleh cairan kewanitaanku ditambah lagi
mani Pak Imron yang banyak itu. Kemudian dari belakang
Kirno mendorong punggungku ke depan sehingga pinggulku
terangkat. Aku merintih-rintih ketika penisnya melakukan
penetrasi pada anusku.
“ Uuhh.. waduhh.. sempit banget nih lubang!,” desahnya
menikmati sempitnya anusku.
Kedua penis ini mulai berpacu keluar-masuk vagina dan
anusku seperti mesin. Dodo yang berada dibawah menciumi
leher depanku dan meninggalkan bekas merah.
“Ooohh.. aahh.. eenngghh,” suara lirih keluar dari mulutku
setiap kali kedua penis itu menekan kedua liang senggamaku
dengan kuat.
Disebelahku kulihat Verna sudah mulai dikerjai Pak Imron dan
Tarman yang sudah tidak sabar karena penisnya belum
kebagian jatah lubang dari tadi. Verna terus mensyutingku
walaupun tangan-tangan jahil itu terus menggerayanginya,
sesekali dia mendesah. Tangan Pak Tarman menyusup lewat
bawah rok tenisnya dan kaos putihnya sudah disingkap oleh
Pak Imron. Dengan cekatan, Pak Imron membuka kait BH-nya
menyebabkan BH yang melingkar di dadanya itu jatuh, dan
terlihatlah buah dada montok Verna dengan puting
kemerahan yang mencuat. Pak Tarman langsung melumat yang
sebelah kiri sambil tangannya menggosok-gosok kemaluannya
dari luar, yang sebelah kiri diremas Pak Imron sambil
menciumi lehernya. Ikat rambut Verna ditariknya hingga
rambut indahnya tergerai sampai punggung.
“ Aaahh.. jangan sekarang Pak.. sshh,” desah Verna dengan
suara bergetar.
Pak Imron mengambil handycam dari tangan Verna dan
meletakkannya di rak kecil pada ujung ranjang, diaturnya
sedemikian rupa agar alat itu menangkap gambar kami semua.
Desahan Verna makin seru saat jari-jari Pak Tarman keluar
masuk vaginanya lewat samping celana dalamnya. Kedua
payudaranya menjadi bulan-bulanan mereka berdua,
keduanya dengan gemas meremas, menjilat, mengulum, juga
memain-mainkan putingnya, seperti yang pernah kukatakan,
payudara Verna memang paling menggemaskan diantara kami
berempat. Pak Imron duduk berselonjor dengan bersandar
pada ujung ranjang, disuruhnya Verna melakukan oral seks.
Tanpa disuruh lagi Verna pun menunduk hingga pantatnya
nungging. Digenggamnya penis yang hitam berurat itu, dikocok
sejenak lalu dimasukkan ke mulutnya. Dari belakang, Pak
Tarman menarik lepas celana dalamnya, lalu dia sendiri mulai
menjilati kemaluan Verna yang sudah becek, posisi Verna yang
menungging membuatnya sangat leluasa menjelajahi
kemaluannya sampai anusnya dengan lidah. Mereka
melakukan oral seks berantai.
Pak Imron memegang handycam dan mengarahkannya pada
Verna yang sedang mengulum penisnya, terkadang alat itu juga
diarahkan padaku yang sedang disenggamai Kirno dan Dodo.
Sudah cukup lama aku bertahan dalam posisi ini, payudaraku
rasanya panas dan memerah karena terus dikenyot dan
diremas Dodo yang di bawahku, lalu Dodo menarik wajahku,
bibir mungilku bertemu mulutnya yang monyong, lidahnya
bermain liar dalam mulutku, wajahku juga dijilati sampai basah
oleh ludahnya. Si Kirno yang sedang menyodomiku tangannya
bergerilya mengelusi punggung dan pantatku. Mungkin karena
sempitnya, Kirno orgasme duluan, dia mengerang dan
mempercepat genjotannya hingga akhirnya dia melepas
penisnya lalu buru-buru pindah ke depan untuk menyiramkan
spermanya di wajahku. Pak Imron mendekatkan handycam itu
saat sperma Kirno muncrat membasahi wajahku. Wajahku
basah bukan saja oleh keringat, juga oleh ludah Dodo dan
sperma Kirno yang kental dan banyak itu. Si Dodo bilang aku
jadi lebih cantik dan menggairahkan dengan kondisi demikian,
maka aku biarkan saja wajahku belepotan seperti itu, bahkan
kujilati cairan yang menempel di pinggiran mulutku.
Lepas dari Kirno, aku masih harus bergumul dengan Dodo
dalam posisi woman on top. Aku menggoyangkan pinggulku
dengan liar diatas penisnya, aku makin terangsang melihat
ekspresi kenikmatan di wajahnya, dia meringis dan mengerang,
terutama saat aku membuat gerakan meliuk yang membuat
penisnya seolah-olah dipelintir. Kamar ini bertambah gaduh
dengan desahan Verna yang sedang disodoki Pak Tarman dari
belakang, dari depannya Pak Imron menopang tubuhnya
sambil menyusu dari payudaranya. Si Kirno yang sedang
beristirahat diserahi tugas mensyuting adegan kami dengan
handycam itu. Gila memang, kalau dilihat sekilas seperti
sedang terjadi perkosaan massal di rumah ini, karena kalau
dilihat dari fisik, mereka kasar dan hitam, selain itu mereka
cuma kuli bangunan. Sedangkan tubuh kami terawat dan putih
mulus bak pualam dengan wajah yang sedap dipandang
karena kami dari golongan borju dan terpelajar. Pasti mereka
ibarat kejatuhan bintang berkesempatan menikmati tubuh
mulus kami.
Tidak sampai 10 menit setelah Kirno melepaskanku, tubuhku
pun mulai mengejang dan kugoyangkan tubuhku lebih gencar.
Akhirnya akupun kembali mencapai orgasme bersamaan
dengan Dodo. Tubuhku ambruk telentang, si Dodo
menyiramkan spermanya bukan hanya di wajahku, tapi juga di
leher dan dadaku.
“ Hei.. sialan lu, aku belum ngentot sama tuh cewek, udah lu
mandiin pakai peju lu,” tegur Pak Tarman yang sedang
menggenjot Verna dalam logat daerah yang kental.
“ Huehehe.. tenang dong bos, suruh aja si non ini yang
bersihin,” jawab Dodo sambil menarik kepala Verna mendekati
wajahku, “Ayo non, minum tuh peju!”
Tanpa merasa jijik, Verna yang sudah setengah sadar itu mulai
menjilati wajahku yang basah, lidahnya terus menyapu cairan
putih itu hingga mulut kami bertemu. Beberapa saat kami
berpagutan lalu lidah Verna merambat turun lagi, ke leher dan
payudara, selain menjilati ceceran spema, dia juga mengulum
buah dadaku, putingku digigitnya pelan dan diemut. Sebuah
tangan lain mendarat di payudaraku yang satu. Aku melihat si
Kirno sudah berlutut di sebelahku mengarahkan handycam ke
arah kami.
Aku merasakan kedua pahaku dibuka, lalu kemaluanku yang
sudah basah dilap dengan tisu. Si Dodo telah memposisikan
kepalanya diantara pangkal pahaku dan lidahnya mulai
menjilati pahaku. Diperlakukan demikian aku jadi kegelian
sehingga paha mulusku makin mengapit kepala si Dodo.
Lidahnya semakin mengarah ke vaginaku dan badanku
menggeliat diiringi desahan ketika lidahnya yang basah itu
bersentuhan dengan bibir vaginaku lalu menyapunya dengan
jilatan panjang menyusuri belahannya. Lidah itu juga
memasuki vaginaku lebih dalam lagi menyentuh klitorisku.
Ooohh.. aku serasa terbang tinggi dengan perlakuan mereka,
belum lagi si Kirno yang terus memilin-milin putingku dan
Verna yang menjilati tubuhku. Dalam waktu singkat
selangkanganku mulai basah lagi. Dodo mengisap vaginaku
dalam-dalam sehingga mulutnya terlihat semakin monyong
saja, sesekali dia mengapitkan klitorisku dengan bibirnya. Aku
mengerang keras, kakiku mengapit erat kepalanya
melampiaskan perasaan yang tak terlukiskan itu.
Aku mendengar Pak Tarman menjerit tertahan, tubuhnya
mengejang dan genjotannya terhadap Verna makin kencang,
ranjang ini semakin bergetar karenanya. Verna sendiri tidak
kalah serunya, dia menjerit-jerit seperti hewan mau disembelih
karena payudaranya yang montok itu digerayangi dengan
brutal oleh Pak Tarman, selain itu agaknya dia pun sudah mau
orgasme. Akhirnya jeritan panjang mereka membahana di
kamar ini, mereka mengejang hebat selama beberapa saat.
Keringat di wajah Verna menetes-netes di dada dan perutku
dan dia jatuhkan kepalanya di perutku setelah Pak Tarman
melepasnya. Pak Imron yang menunggu giliran mencicipi
Verna langsung meraih tubuhnya yang masih lemas itu dan
dinaikkan ke pangkuannya dengan posisi membelakangi.
Tangannya yang kekar itu membentangkan lebar-lebar paha
Verna dan menurunkannya hingga penis yang terarah ke
vagina Verna tertancap. Penis itu melesak masuk disertai
lelehan sperma Pak Tarman yang tertampung di rongga itu.
Sejenak kemudian tubuh Verna sudah naik turun di pangkuan
Pak Imron.
Puas menjilati vaginaku, kini si Dodo membalik tubuhku dalam
posisi doggy. Penisnya diarahkan ke vaginaku dan dengan
sekali hentakkan masuklah penis itu ke dalamku. Dodo
memompakan penisnya padaku dengan cepat sekali sampai
aku kesulitan mengambil nafas, kenikmatan yang luar biasa ini
kuekspresikan dengan erangan dan geliat tubuhku. Kemudian
Pak Tarman yang sudah pulih menarik kepalaku yang
tertunduk lantas menjejali mulutku dengan penisnya. Jadilah
aku disenggamai dari dua arah, selain itu payudaraku pun
tidak lepas dari tangan-tangan kasar mereka, putingku
dipencet, ditarik, dan dipelintir. Selama 15 menit diigempur
dari belakang-depan akhirnya aku tidak tahan lagi, lolongan
panjang keluar dari mulutku bersamaan dengan Verna yang
juga telah orgasme di pangkuan Pak Imron, tak sampai 5 menit
Dodo juga menyemburkan maninya di dalam rahimku.
Pak Tarman menggantikan posisi Dodo, aku dibaringkan
menyamping dan diangkatnya kaki kananku ke bahunya. Dia
mendorong penisnya ke vaginaku, oucchh.. rasanya sedikit
nyeri karena ukurannya yang besar itu aku sampai merintih
dan meremas kain sprei, padahal itu belum masuk
sepenuhnya. Beberapa kali dia melakukan gerakan tarik-
dorong untuk melicinkan jalan masuk bagi penisnya, hingga
dorongan yang kesekian kali akhirnya benda itu masuk
seluruhnya.
“ Aakkhh.. sakit Pak.. aduh,” aku mengerang kesakitan karena
dia melakukannya dengan agak paksa.
Dia berhenti sejenak untuk membiarkanku beradaptasi, baru
kemudian dia mulai menggenjotku, frekuensinya terasa
semakin meningkat sedikit demi sedikit. Urat-urat penisnya
terasa sekali bergesekan dengan dinding vaginaku. Aku
dibuatnya mengerang-ngerang tak karuan, mataku menatap
kosong ke arah handycam yang sekarang sudah berpindah ke
tangan Pak Imron.
Verna kini sedang digumuli oleh Kirno dalam posisi yang sama
dan saling berhadapan denganku. Kuraih tangannya sehingga
telapak tangan kami saling genggam. Kucoba berbicara
dengannya dengan nafas tersenggal-senggal,
“ Ahh.. Ver, yang ini.. ngghh.. gede.. amat”
“Iyah.. yang ini juga.. ahh.. gila.. nyodoknya mantap!” jawabnya
Kemudian aku merasa sebuah lidah menggelitik telingaku,
ternyata itu si Dodo, tangannya tidak tinggal diam ikut
bergerilya di payudaraku. Bulu kudukku merinding ketika
lidahnya menyapu telak tengkuk dan belakang telingaku yang
cukup sensitif. Pak Tarman menyodokku demikian keras
sambil tangannya meremasi pantatku, untung saja aku sudah
terbiasa dengan permainan kasar seperti ini, kalau tidak tentu
aku sudah pingsan sejak tadi.
Tiba-tiba Verna mendesah lebih panjang dan menggenggam
tanganku lebih erat, tubuhnya bergetar hebat, nampaknya dia
mau orgasme.
“ Iyah.. terus mas.. ahh.. ahh.. Ci.. gua keluar.. akkhh!” desahnya
bersamaan dengan tubuhnya menegang selama beberapa saat
lalu melemas kembali.
Ternyata Kirno masih belum selesai dengan Verna, kini dia
telentangkan tubuhnya, kaos tenisnya yang tersingkap
dilepaskan dan dilemparnya, maka yang tersisa di tubuh Verna
tinggal rok tenis yang mini, seuntai kalung di lehernya, dan
sebuah arloji ‘Guess’ di lengannya. Kemudian dia menaiki dada
Verna dan menyelipkan penisnya diantara kedua gunung itu
dan mengocoknya dengan himpitan daging kenyal itu. Tak
lama spermanya berhamburan ke wajah dan dada Verna, lalu
Kirno mengusap sperma di dadanya sampai merata sehingga
payudara Verna jadi basah dan berkilauan oleh sperma. Si
Dodo yang sebelumnya menggerayangiku sekarang sudah
pindah ke selangkangan Verna dimana dia memasukkan dua
jari untuk mengobok-obok vaginanya dan mengelus-elus paha
dan pantatnya.
Aku tinggal melayani Pak Tarman seorang saja, tapi tenaganya
seperti tiga orang, bagaimana tidak sudah tiga kali aku dengan
dia ganti posisi tapi masih saja belum menunjukkan tanda-
tanda sudahan, padahal badanku sudah basah kuyup baik
oleh keringat maupun sperma, suaraku juga sudah mau habis
untuk mengerang. Sekarang dia sedang genjot aku dengan
posisi selangkangan terangkat ke atas dan dia menyodokiku
dari atas dengan setengah berdiri. Belasan menit dalam posisi
ini barulah dia mencabut penisnya dan badanku langsung
ambruk ke ranjang. Belum sempat aku mengatur nafas, dia
sudah menempelkan penisnya ke bibirku dan menyuruhku
membuka mulut, cairan putih kental langsung menyembur ke
wajahku, tapi karena semprotannya kuat cairan itu bukan
cuma muncrat ke mulut, tapi juga hidung, pipi, dan sekujur
wajahku. Yang masuk mulut langsung kutelan agar tidak terlalu
berasa karena baunya cukup menyengat.
Verna masih sibuk menggoyang-goyangkan tubuhnya diatas
penis Dodo, kedua tangannya menggenggam penis Pak Imron
dan Kirno yang masing-masing berdiri di sebelah kiri dan
kanannya. Secara bergantian dia mengocok dan menjilati
penis-penis di genggamannya itu. Kedua pria itu dalam waktu
hampir bersamaan menyemburkan spermanya ke tubuh
Verna. Seperti shower, cairan putih itu menyemprot dengan
derasnya membasahi muka, rambut, leher dan dada Verna.
Mereka nampak puas sekali melihat keadaan temanku seperti
itu, Pak Imron yang memegang handycam mendekatkan benda
itu ke arahnya.
“ Mandi peju, tengah malam.. aahh..!” demikian senandung Pak
Tarman menirukan irama sebuah lagu dangdut saat
mengomentari adegan itu.
Setelah orang terakhir yaitu si Dodo orgasme, kami semua
terbaring di ranjang spring bed itu. Kamar ini hening sejenak,
yang terdengar hanya deru nafas terengah-engah. Verna
telentang di atas badan Dodo, wajahnya nampak lelah dengan
tubuh bersimbah peluh dan sperma, namun tangannya masih
dapat menggosok-gosokkan sperma di tubuhnya serta
menjilati yang menempel di jarinya.
Pak Tarman yang pulih paling awal, melepaskan dekapannya
padaku dan berjalan ke kamar mandi, sebentar saja dia sudah
keluar dengan muka basah lalu memunguti bajunya. Ketika kuli
lainnya pun mulai beres-beres untuk pulang. Mereka
mengomentari bahwa kami hebat dan berterima kasih diberi
kesempatan menikmati ‘hidangan’ seperti ini dengan gratis.
Verna memakai kembali bajunya untuk mengantar mereka ke
pintu gerbang. Mereka berpamitan padaku dengan mencium
atau meremas organ-organ kewanitaanku. Verna baru kembali
ke sini 15 menit kemudian karena katanya dia diperkosa lagi di
taman sebelum mereka pulang. Terpaksa deh aku harus mandi
lagi, habis badanku jadi keringatan dan lengket lagi sih. Kami
berendam bersama di bathtub Verna yang indah sambil
menonton ‘film porno’ yang kami bintangi sendiri melalui
handycam itu. Lumayan juga hasilnya meskipun kadang
gambarnya goyang karena yang men-syuting ikut
berpartisipasi. Rekaman itu kami transfer menjadi VCD hanya
untuk koleksi pribadi geng kami. Kami sempat beradegan
sesama wanita sebentar di bathtub karena terangsang dengan
rekaman itu.
Malam itu aku menginap di rumah Verna karena sudah
kemalaman dan juga lelah. Kami terlebih dulu mengganti sprei
yang bekas bersenggama itu dengan yang baru agar enak tidur.
Pagi harinya setelah sarapan dan pamitan pada mamanya
Verna, kami menuju ke halaman depan dan naik ke mobil. Di
sana kami berpapasan dengan keempat tukang bangunan yang
senyum-senyum ke arah kami, kami pun membalas tersenyum,
lalu Verna mulai menjalankan mobil. Kami keluar dari
rumahnya dengan kenangan gila dan mengasyikkan. Beberapa
hari ke depan sampai pembangunan selesai, mereka beberapa
kali memperkosa Verna kalau ada waktu dan kesempatan,
kadang kalau sedang tidak mood Verna keluar rumah sampai
jam kerja mereka berakhir.

From → umum

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: