Skip to content

Adegan live show ngentot

September 22, 2011

image

pagi setelah aku mendapat tlp dari
seorang teman ku sebut saja dia”A”,dia mengabarkan
bahwa bulan ini dia nengajak bertemu karena ada masalah yang harus dii selesaikan,biasa
dia adalah sohipku karena keretakan rumah tangga yang sering menderunya aku sebagai sarana pelepas penat untuk curhat.Teman ku adalah cewek berumur 24 tahun,ortunya yang sangat diktator
menyebabkan dia kawin muda.Singkat cerita akhirnya aku menolak ajakan bertemu sebab aku ada acara untuk holiday ke surabaya,aku bilang ke dia”lain kali saja,akhirnya aku sepakat dengan tidak mengecewakan dia aku sengaja janji setelah pulang dari surabaya nanti aku pasti menemuinya.Apa kabar sobat ceritadewasaseks.com perkenalkan dulu Namaku Doni, aku tinggal di kota K. Tanggal 22 Mei 1999 yang lalu aku pergi ke
Surabaya untuk liburan, sambil refreshinglah. Setelah
berputar-putar sebentar, sorenya aku menuju rumah temanku yang sudah sangat akrab di kawasan DK. Keluarganya sudah sangat akrab dengan keluargaku, sudah seperti satu keluarga sejak aku lahir. Di rumah ini ada Mas Zani yang umurnya 22 tahun, adiknya (cewek, masih SMU), sepupunya (cewek sudah sekitar 23 tahun), dan tentu saja kedua orang tua mereka. Hari itu biasa saja, tidak ada something spesial yang terjadi.
Keesokan harinya, Mas Zani mengajakku pergi makan dan jalan-jalan di mall. Eh.., ternyata dia mengajak ceweknya.Ternyata ceweknya ini kost cuma sekitar 300 meter dari rumah Mas Zani. Namanya Yeni tapi panggilannya Yeyen. Anaknya cakep juga, masih kuliah, umurnya 21 tahun. Kulitnya putih kekuningan meskipun keturunan Jawa tulen, tingginya sekitar 164 cm, beratnya 46 kg, tapi pinggulnya cukup besar, bodinya asyik juga, dan payudaranya lebih besar dari rata-rata cewek
Indonesia. So, dengan mobil Panther itu Mas Zani dan Yeyen duduk berdua di depan sedangkan aku yang duduk di bagian tengah dicuekin oleh mereka. Kami berputar-putar di
Tunjungan Plaza, makan di sebuah restoran sea food sampai
kenyang lalu kembali lagi ke tempat kos Yeyen.
Lalu setelah mobil diparkir, kami bertiga masuk ke tempat
kosnya dan langsung masuk kamarnya. Hmm.., sempat terpikir
olehku, sebenarnya itu tempat kos cewek atau cowok, soalnya
ada beberapa ciban (banci) yang nongkrong di situ. Di dalam
kamar Yeyen, aku disetelin sebuah VCD porno, sambil diberi
coklat Silver Queen, sementara Mas Zani dan Yeyen
bermesraan berdua, berciuman dan bercumbu. Ah.., aku juga
sempat berkenalan dengan adik Yeyen yang bernama Lenny,
yang mondar-mandir keluar masuk kamar.
Lenny bertubuh lebih pendek dari Yeyen, lebih coklat kulitnya,
dan bodinya lebih langsing, cuma sayangnya payudara dan
pantatnya juga lebih “tidak menantang” dibandingkan Yeyen.
Cuma yang lebih disayangkan lagi Lenny seorang perokok
berat dan hari itu dia sedang sakit tenggorokan. Setelah selesai
menyetel VCD-nya sampai 45 menit non-stop, Aku matikan TV
dan playernya. Eh, tiba-tiba Mas Zani nyeletuk, “Don.., kasih
waktu 5 menit, dong..?”
Aku sudah mulai merasakan gelagat kurang baik dari pasangan
itu. Tapi ya terpaksa, aku melenggang keluar kamar, tapi baru
sampai di pintu, aku lihat di ruang tamu banyak ciban yang lagi
ngobrol dengan Lenny sambil merokok. kemudian akupun
kembali ke kamar Yeyen.
Lalu aku berkata, “Ah tidak usah dech, aku di sini saja, lagi
tidak mood ngobrol sama orang-orang itu. Lakuin saja deh,
aku tidak ngeliat”.
Terus terang saja Mas Zani kaget, “Heh! Kon ‘jik cilik ngono
kok..” (kamu itu masih kecil gitu kok).
Kesel juga aku dibilang masih kecil. Lalu aku berusaha
meyakinkan mereka, “Jangan kuatir lah.., aku sudah biasa kok
ngeliatin ginian..”
Akhirnya setelah beberapa perdebatan ringan dan berkat
kelihaianku berdiplomasi mereka mengijinkan juga aku untuk
di dalam kamar saja, tapi dengan syarat aku tidak boleh
macam-macam apalagi melaporkan ke orang tuanya. Setelah
pintu kukunci, aku cuma bersandar saja di pintu dengan
perasaan gembira.
Mas Zani lalu tidur telentang di ranjang, lalu Yeyen mulai
jongkok di atasnya dan menciumi wajah Mas Zani, sedangkan
Mas Zani cuma diam saja, matanya merem, tangannya
mengusap-usap punggung Yeyen. Sesekali Yeyen melihat ke
arahku, mungkin memeriksa apakah aku mulai terangsang, dan
memang benar aku terangsang. Dan juga melihat gerakan Yeyen
yang kelihatannya sudah “professional” dan ciuman-
ciumannya yang ganas seperti di film BF, sepertinya Yeyen ini
bukan pertama kalinya making love. Yeyen mulai menciumi
Mas Zani langsung ke mulutnya, dan beberapa kali mereka
bersilat lidah dan terlihat jelas karena jarakku dan jarak mereka
berdua cuma sekitar 3 meter.
“Hmmhh.., hmmhh..”, mereka berciuman sambil mendesah-
desah, membuatku yang sejak tadi sudah tegang memikirkan
hal yang tidak-tidak jadi semakin tegang saja. Setelah puas
melumat bibir dan lidah Mas Zani, Yeyen mulai bergerak ke
bawah, menciumi dagunya, lalu lehernya. Mas Zani ketika itu
mengenakan T-Shirt yang di bagian kerahnya cuma ada dua
kancing, so karena Mas Zani terlalu besar badannya (gemuk)
maka Yeyen cuma menyingkapkannya dari bawah lalu
menciumi dadanya yang montok dan putih. Mas Zani ini
memang WNI Keturunan Cina.
“Hmmhh.., aduh Yen nikmat Yen..”, begitu rintihan Mas Zani.
Yeyen menciuminya kadang cepat, lalu lambat, cepat lagi,
memang sepertinya begitu style anak yang satu ini. Sedangkan
aku semakin tidak tahan saja, kepingin juga dadaku diciumin
oleh cewek, uhh.., tapi aku masih menahan diri dan terus
menempel pada pintu.
“Ihh.., hmmh.., hh.., ihh..”, Mas Zani terus mendesah
sementara Yeyen mulai menciumi perutnya, lalu pusarnya,
sesekali Mas Zani berteriak kecil kegelian. Karena aku sangat
terangsang, aku mulai meraba-raba diriku sendiri. “Sialan!”
pikirku, “Ngapain juga gitu ahh..
Akhirnya Yeyen mulai membuka risleting Mas Zani, pertamanya
pelan sekali, namun tiba-tiba “wrett” ditarik dengan cepat
sekali sehingga Mas Zani kaget, matanya terbuka sebentar, lalu
tersenyum dan merem kembali, sedangkan kedua tangannya
mengelus-elus rambut Yeyen. Yeyen langsung memegang-
megang kemaluan Mas Zani dan digosok-gosok dengan
tangannya dari luar, “Ahh.., hh.., Hmmhmh.., Ohh Yenn..”, Mas
Zani cuma bisa mendesah. Lalu setelah puas menggosoknya
dari luar, dia mulai menyingkap celana dalam Mas Zani dan
tersembullah kemaluan Mas Zani yang sudah tegang keluar
dari sarangnya.
“Nylupp!”, Kemaluan Mas Zani langsung dikulum oleh Yeyen.
Stylenya masih seperti tadi, kadang pelan, lalu cepat, kadang
pelan, lalu cepat, bikin kaget saja ini anak main seksnya.
Sementara Mas Zani sibuk meremas-remas rambut Yeyen
saking enaknya, aku yang tidak kuasa menahan nafsu sibuk
meremas-remas kemaluanku sendiri sambil tetap bersadar di
pintu. Ahh.., aku benar-benar merasa serba salah waktu itu,
dan mereka tidak mengacuhkanku sama sekali. Dasar.., Yang
membuataku nyaris tertawa karena kemaluan Mas Zani yang
sepertinya keseretan gara-gara Yeyen tidak melepaskan celana
dalam Mas Zani terlalu ke bawah, jadi seperti tercekik dech.
“Ehmm.., Ehmm..” Mungkin sekitar 5 menit Yeyen mengulum
kemaluan Mas Zani, ternyata selama itu juga dia belum keluar
sama sekali, Yeyen bilang, “Zan.., sekarang giliran kamu yach?”
Mas Zani cuma tersenyum, lalu dia bangkit sambil melepaskan
celana panjang dan celana dalamnya, sedangkan Yeyen
sekarang yang ganti tiduran, lalu memejamkan mata.
Sedangkan aku benar-benar kebingungan dan tidak tahu mau
berbuat apa, aku benar-benar pingin buka baju dan join
dengan mereka tapi ahh.., kacau sekali pikiranku ketika itu.
Mas Zani mulai melakukan persis apa yang dia lakukan ke
Yeyen sebelumnya. Nyaris persis sama, aku sampai heran apa
memang sudah janjian ya mereka. Mas Zani mulai mencium
bibir Yeyen, cuma Mas Zani menciumnya dengan stabil, pelan
terus, berbeda dengan Yeyen yang style seksnya aku akui
lumayan unik. “Hmmh.., mymmynm..”, Sayang Mas Zani
sepertinya tidak profesional, cara menciumnya walau pelan,
terlalu tergesa menuju ke bawah. Yeyen mencoba melepaskan
t-shirt Mas Zani, lalu Mas Zani langsung melepasnya dan
meletakkan di sebelahnya. Mas Zanipun mulai menciumi leher
Yeyen. Sementara tangannya meraba-raba payudara Yeyen
yang aduhai, “Hmhmhhm.., Hmhmhmh..” Mereka berdua terus
mendesah keenakan. Aduh, pemandangan yang cukup
menggelikan sekaligus menggairahkan itu benar-benar
membuatku kewalahan pada diriku sendiri, diam-diam aku
mulai melepaskan t-shirt yang kupakai dan menggerayangi
tubuhku sendiri.
Mas Zani mulai tidak sabar dan langsung mencopoti kancing
demi kancing yang ada di kemeja yang dikenakan Yeyen.
Tersembullah payudara Yeyen yang begitu aduhai, putih mulus
sekali seperti payudara Chinese, Yeyen segera mengangkat
punggungnya, lalu Mas Zani mencopot kancing BH-nya yang
berwarna krem. Wah.., payudara Yeyen benar-benar besar dan
menggairahkan dengan puting susunya yang tebal dan
berwarna coklat tua. “Ahh.., Hmm.., Hmm..”, Mereka berdua
saling melenguh setiap kali Mas Zani memainkan lidahnya di
atas payudara dan puting susu Yeyen.
“Hmmh.., Hmhh..”, Setelah puas melumat puting susu Yeyen
bergantian, Mas Zani akhirnya menjilati perut Yeyen dan ingin
melepaskan roknya. Yeyen mengangkat pantatnya, lalu Mas
Zani membuka risleting roknya dan pelan-pelan melepaskan
rok yang dipakai Yeyen. Setelah sampai di lutut, Mas Zani
berhenti dan langsung menciumi kemaluan Yeyen yang masih
tertutup celana dalam itu dengan cepat dan ganas.
“ Ahh.., Ahh..”, Yeyen mengerang dan mendesah keras
keenakan. Aku yang sejak tadi terangsang menjadi semakin
terangsang mendengar desahan Yeyen yang sangat
menggairahkan, membuatku tidak tahan dan mulai memegangi
kemaluanku sendiri, menggesek-gesekkannya dengan
tanganku.
Akhirnya Mas Zani melepaskan celana dalam Yeyen dan
langsung menciumi kemaluannya dengan ganas sekali. Rambut
di kemaluan Yeyen cukup tipis, sehingga memudahkan Mas
Zani menjilatinya sepuasnya. Sesekali kudengar “Slurrp..,
slurrp..”, sepertinya Mas Zani suka sekali menyedot kemaluan
Yeyen. “Ahh.., Zan.., Ahh.., Zan.., Enak Zan..”, desahan Yeyen
semakin keras saja karena merasa nikmat, seakan tidak peduli
kalau terdengar orang di luar.
Tidak berapa lama kemudian, Mas Zani berhenti lalu bertanya,
“Yen, boleh sekarang?” Sambil tetap merem, Yeyen cuma
tersenyum dan mengangguk.
“ Pelan-pelan yach..”, bisik Yeyen mesra. Kemudian Mas Zani
memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Yeyen, “Uh.., uhh..,
Ahh..”, Sedikit kesulitan yang mereka hadapi, sekarang Mas
Zani sudah mulai asyik menggesek-gesekkan penisnya dalam
vagina Yeyen.
“ Ahh.., ahh.., aduh.., ahh..”, Mereka berdua saling mendesah
sambil terus melanjutkan permainannya. Yeyen masih tetap
dengan stylenya, kadang menarikan pinggulnya pelan-pelan,
lalu cepat, pelan lagi.
“ Ahh.., Ahh.., Ahh..”, Mas Zani memaju-mundurkan badannya
pelan-pelan sedangkan Yeyen asyik menggoyang-goyangkan
pinggulnya dengan tempo yang tidak beraturan. Aku jadi
semakin tidak tahan melihat apa yang mereka lakukan, aku
segera berjalan menuju kamar mandi, langsung kulepas celana
panjang dan celana dalamku dan kugesek-gesek kemaluanku
sendiri cepat-cepat.
“Ahh.., Hmmh.., Ahh..”, Aku mendesah-desah kecil dengan apa
yang kulakukan terhadap diriku sendiri. Lalu.., “aahh..”, Aku
orgasme, spermaku semuanya terjatuh di lantai kamar mandi.
Tubuhku rasanya nikmat sekali beberapa saat, lalu terasa
lemas dan sepertinya aku merasa bersalah telah
melakukannya. Aku segera menyiram ceceran sperma di lantai
kamar mandi, melepas seluruh bajuku dan mandi.
Setelah segar, aku hampir tidak percaya waktu keluar ternyata
mereka masih saja bermesraan bersetubuh. Aku langsung
berjalan keluar kamar, sedangkan mereka tidak
menghiraukanku sama sekali, benar-benar gila..!
Di luar, aku duduk-duduk saja di ruang tamu sambil ngobrol
dengan Lenny dan teman-temannya yang kebetulan ciban
semua. Mereka menawariku rokok tapi aku tolak. Setelah
beberapa menit melakukan percakapan yang membosankan
dan bikin mual, aku cuek saja dan asyik melihat TV, sambil
menunggu Mas Zani dan Yeyen selesai melakukan aktivitasnya.
Menit demi menit berlalu, gila.., lama sekali.
Sekitar satu jam kemudian, muncullah mereka berdua dari
pintu kamar Yeyen.
“ Gilaa..”, pikirku, lama sekali mereka begituan. Mas Zani dan
Yeyen tersenyum geli pertama kali melihatku, mungkin mereka
menganggap tingkahku di dalam kamar tadi lucu, lalu Mas Zani
bertanya.
“ Don, kamu mau ikut renang?”.
“Mau sich.., tapi aku tidak bawa celana renang tuch..”, jawabku
agak kecewa.
“ Tidak pa-pa kok, ntar kita bisa pinjam celana renang di sana..”.
Ya sudah, akhirnya jadi dech.., Setelah berpamitan, Mas Zani
dan aku pulang. Di rumah kami langsung mempersiapkan
segala kebutuhan renangnya.
Jam menunjukkan sekitar pukul 16.30, kami bersiap pergi. Tepat
waktu Mas Zani hendak menyalakan mobil, ada suara teriakan.
Ternyata sepupu Mas Zani, “Mobilnya mau dibawa papanya
lho..”, katanya.
“Sial!” gerutu Mas Zani. Terus akhirnya Mas Zani telepon taksi,
beberapa menit kemudian datang, lalu kami ke tempat kos
Yeyen dulu untuk menjemput Yeyen. Eh, ternyata tidak hanya
Yeyen yang ikut, tapi adiknya, Lenny, diajak serta.
Aku tanya pada Lenny, “Lho, kok kamu ikut, katanya sakit
tenggorokan. Nanti ikut renang?”.
“Iya dong.., tidak Papa, nemenin Yeyen nich..” jawabnya
enteng. Wah, nekat juga ini anak, pikirku.
Taksi kami langsung meluncur ke Graha Residen, di sana ada
kolam renangnya yang cukup besar dan ramai, termasuk para
turis. Yeyen, Lenny, dan aku yang belum bisa berenang cuma
berputar-putar saja di pinggiran, sedangkan Mas Zani
berkelana ke sana ke mari dengan bebasnya.
Waktu ada kesempatan, aku tanya pada Mas Zani soal Yeyen.
Ternyata dia baru kenal Yeyen dua minggu, dan pertemuan
pertamanya di kolam renang. Seminggu kemudian mereka
langsung pacaran, lalu besoknya mereka melakukan hubungan
badan. Mas Zani baru pertama kali itu bersenggama,
sedangkan Yeyen sepertinya sudah berkali-kali, soalnya kata
Mas Zani, Yeyen sudah tidak perawan lagi.
Mas Zani juga bilang, “Kata Yeyen tuh si Lenny masih perawan,
dianya agak menyesal juga pacaran sama Yeyen, bukan sama
Lenny yang masih perawan”.
Aku sempat ngobrol juga sama Lenny, yang sepertinya cuma
bersandar saja di pinggiran. Sekitar jam 19.00 kami selesai
renang dalam keadaan menggigil kedinginan, lalu setelah itu memanggil taksi Zebra, karena entah kenapa, Graha Residen hanya menyediakan taksi Zebra. Tidak kuduga, ternyata taksinya lama sekali datangnya, kami ngobrol-ngobrol lama juga. Mas Zani asyik ngobrol dengan Yeyen, sedangkan Lenny
yang kelihatannya dicuekin mulai kuajak ngobrol.ternyata Lenny ini masih SMU kelas 2. Selain suka rokok,katanya dia juga suka minuman keras. Hmm, aku jadi mikir
apakah dia juga suka obat-obatan dan.., free seks. Tapi aku tidak

From → umum

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: