Skip to content

Kenikmatan dengan suami orang lain

September 26, 2011

image

Aku baru saja selesai mandi saat HP-ku berdering. Dari nada deringnya dapat kuketahui kalau dering itu dari nomor telepon salah seorang klienku. Dengan dalam keadaan masih telanjang bulat aku bergegas keluar dari kamar mandi, yang langsung tembus ke kamarku, kamar mandiku memang terletak di dalam kamar.
Sambil mengeringkan badanku dengan handuk, aku menerima telepon dari rumah Pak Budi, seorang klienku.
“Hallo..! Selamat sore”, sapaku setelah menekan tombol.
“Hallo..! Sore Dok..!” balas suara anak kecil di seberang sana. Aku segera bisa mengenali suara di seberang sana, ini adalah suara Andi putra semata wayang Pak Budi.
“Hai..! Andi ya? Ada apa Ndi?” tanyaku.
“Dok! Carla baru saja melahirkan, cepet dong ke rumah”, pinta Andi kekanak-kanakan. Andi memang baru berusia 6 tahun, dan Carla yang dimaksud adalah nama anjingnya yang berjenis mini pincher, bentuknya seperti anjing doberman namun kecil sekali oleh karena itu disebut mini pincher. “Lahir berapa anaknya Ndi?” tanyaku lagi. “Ndak tau Dok! Papa yang tungguin sekarang, dokter ke sini
dong!” cerocos Andi lagi.
“Baiklah aku langsung ke sana sekarang, tunggu aja ya”
sahutku.
“Terima kasih Dok! Daah..!” sambung Andi sambil menutup
telepon tanpa menunggu jawaban dariku lagi.
Selesai berbicara dengan Andi melalui telepon, aku pun segera
mengenakan pakaian. Aku memakai hem longgar kotak-kotak
warna merah maroon yang serasi warnanya dengan rok miniku
yang juga berwarna merah maroon. Selesai berpakaian aku
bergegas menuju ke rumah Pak Budi di kawasan elite
Margorejo Indah.
Sesampai di rumah Pak Budi ternyata Andi sudah
menungguku di halaman rumahnya bersama seorang baby
sitter. Satpam langsung membuka pintu pagar
mempersilakanku untuk langsung masuk. Rumah Pak budi
memang cukup besar seperti rumah-rumah lainnya di sekitar
perumahan Margorejo Indah, halamannya juga luas. Kuparkir
mobilku di depan garasi di samping mobil mewah milik Pak
Budi, kontras sekali dengan mobilku yang butut keluaran
tahun 90-an.
Begitu turun dari mobil, Andi langsung menggandeng
tanganku mengajakku masuk. Kami masuk lewat garasi yang
langsung tembus ke dapur yang letaknya bersebelahan dengan
ruang makan. Di samping ruang makan ada pintu menuju
halaman belakang. Di salah satu pojok dekat kamar pembantu,
di situlah rupanya tempat yang telah disediakan untuk Carla
melakukan proses kelahiran. Pak Budi tampak sedang
berjongkok di dekat box tempat Carla melahirkan.
“Sore Pak Budi” sapaku.
“Ee.. Lia..! Sore.., aduh maaf sudah bikin repot”, sambut Pak
Budi ramah.
“Ini si Andi yang bingung terus sejak tadi” tambah Pak Budi.
“Sudah lahir berapa ekor Pak?” tanyaku pada Pak Budi.
“Sudah dua ekor dan keduanya betina, sepertinya masih ada
lagi di dalam” jelas Pak Budi padaku.
“Ayo gantian, sekarang ahlinya sudah datang dan aku akan
mandi dulu” Imbuh Pak Budi sambil mempersilakanku
menempati posisinya.
Aku mendekat ke box tempat Carla melahirkan bayi-bayinya
yang mungil, sementara itu Pak Budi naik ke lantai dua
rumahnya, mungkin bersiap-siap untuk mandi. Aku ditemani
Andi tetap menunggui Carla yang tampaknya sudah mulai
gelisah lagi, pertanda anaknya yang ketiga akan lahir.
Saking asyiknya aku menunggui bayi ketiga Carla lahir, rupanya
aku tidak sadar bahwa posisiku sedang berjongkok saat itu
hingga otomatis pahaku bagian belakang terbuka lebar karena
rok miniku bawahannya memang sangat lebar. Memang rok
seperti ini biasanya dipakai oleh para cheerleader hingga
dengan sendirinya kalau dilihat dari depan arahku berjongkok,
semua isi dalam rok miniku dapat terlihat dengan jelas oleh
Andi yang duduk di lantai tepat di hadapanku.
Rupa-rupanya si kecil ini sejak tadi telah tertegun memandang
isi rok miniku. Aku memang memakai CD, namun CD-ku sangat
mini, terbuat dari renda yang ukurannya hanya selebar jari
melingkar di pinggangku, selebihnya juga berupa renda yang
ukurannya sama tersambung dari belakang pinggangku, turun
ke bawah melalui lipatan pantat melingkari selangkanganku.
Hanya bagian depannya saja ada penutup yang ukurannya tak
lebih dari seukuran dua jari berbentuk hati menutupi bagian
depan liang vaginaku, sehingga CD warna merah yang
kukenakan ini tidak mampu menutupi bulu kemaluanku yang
menyeruak keluar dari celah-celah lipatannya. Rupanya bulu-
bulu kemaluanku inilah yang menarik perhatian Andi.
“Dok! Itu kok ada rambutnya?” tanya Andi keheranan sambil
menuding ke arah pangkal pahaku.
Aku cukup terkejut dan langsung mengubah posisiku. Kini aku
berlutut di depan box. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan
Andi, untung saja bersamaan dengan itu dari arah belakang
saat kutengok ternyata Pak Budi datang menghampiri kami.
Pak Budi rupanya sudah selesai mandi. Saat ini dia memakai
celana pendek longgar dan T Shirt. Namun tiba-tiba Andi
berkata pada ayahnya..
“Pa! Bu dokter sininya ada rambutnya” lapor Andi pada Pak
Budi sambil menunjuk ke arah selangkangannya sendiri.
Mukaku langsung memerah karena jengah, untung saja Pak
Andi cukup bijak dan langsung menegur Andi.
“Hush, tidak boleh ngomong begitu”. Andi rupanya masih
belum mengerti mengapa papanya melarangnya bertanya. Tak
lama kemudian Bu Lusi istri Pak Budi muncul dan menyapaku..
“Hey Nat! Sudah lama?” sapa Bu Lusi, Bu Lusi memang biasa
menyapaku “Nat”, kalau Pak Budi lebih suka menyapaku “Lia”,
tidak masalah bagiku.
“Ooh..! Selamat sore Bu!” sahutku pada sapaan Bu Lusi.
“Eeh..! Nat! Kamu di sini dulu ya, nanti makan di sini sekalian
saja, kita makan malam sama-sama, aku sekarang mau ngantar
Andi ke ulang tahun temannya sebentar, kita tidak akan lama
kok, paling cuma kasih kado sebentar terus langsung pulang”
demikian jelas Bu Lusi padaku, rupanya Bu Lusi akan pergi
mengantar Andi yang memang sejak tadi tampak sudah selesai
mandi.
Akhirnya Bu Lusi pergi mengajak Andi yang didampingi baby
sitternya. Tinggallah aku di rumah besar itu bersama Pak Budi
dan beberapa pembantunya, namun saat ini pembantu Pak
Andi sedang sibuk di halaman rumah depan, ada yang
menyapu halaman, ada yang menyiram taman dan yang satu
lagi sedang membersihkan ruang tamu. Ini kuketahui saat aku
datang tadi.
Kini tinggallah aku berdua dengan Pak Budi di teras halaman
belakang yang cukup luas, untung Pak Budi tidak lama berdiri
di dekatku. Pak Budi duduk di sofa teras belakang, yang
letaknya di belakangku, jadi aku memunggunginya tapi
jaraknya agak jauh, karena posisinya yang menghadap ke
arahku maka saat aku sedikit membungkuk sewaktu
membantu proses kelahiran Carla, tanpa kusadari bagian
belakang rok miniku sedikit terangkat.
Karena rok yang kukenakan mini sekali maka begitu terangkat
sedikit bentuk pantatku dapat terlihat dengan jelas oleh Pak
Budi yang duduknya memang agak jauh dariku, namun posisi
ini justru lebih menguntungkan baginya. Dengan jelas sekali
Pak Budi memperhatikan lekuk belahan pantat dan pahaku
bagian atas yang mulus itu. Pemandangan ini rupanya cukup
membuat Pak Budi horny hingga dia sudah tidak tahan lagi,
kemudian berdiri dan berjalan mendekatiku.
“Lia..! Tadi yang dimaksud Andi rambut apa toh?” Tanya Pak
Budi pura-pura ingin tahu. Aku sedikit terkejut dengan
pertanyaannya.
“Aaah..! Pak Budi ini kok ikutan tanya yang bukan-bukan?”
sahutku tersipu malu.
Pak Budi ikut berjongkok di sampingku, tidak lama kemudian
kedua tangannya meraih lenganku dan mengangkatku berdiri,
kami pun berdiri berhadap-hadapan. Seketika itu juga Pak Budi
langsung menciumku. Aku berusaha mengelak, namun Pak
Budi lebih agresif memeluk sambil melumat bibirku.
Usia Pak Budi sekitar 35 tahun, wajahnya lumayan ganteng,
badannya tegap dan gagah. Lumatannya membuatku horny,
terlebih saat tangannya mulai menyusup ke dalam rok miniku,
tangannya mengelus bagian depan pahaku hingga membuatku
terangsang dan sedikit tak berdaya.
Akhirnya aku pun mulai berani membalas lumatan bibirnya.
Kami berpagutan sambil berdiri, sementara tangan Pak Budi
menyusup semakin ke atas pahaku, kurasakan jari-jari
tangannya mulai menyentuh ujung CD-ku. Aku merasakan
sebuah rangsangan yang cukup dahsyat, terlebih saat jari-jari
tangan Pak Budi mulai menjelajah di selangkanganku. Vaginaku
diremas-remas dari luar CD-ku, bibirnya tetap tidak berhenti
melumat bibirku, lidahnya dijulurkan ke dalam mulutku, aku
pun membalas dengan menghisapnya, demikian pula
sebaliknya, kujulurkan lidahku ke dalam mulut Pak Budi dan
Pak Budi langsung melumat dan menghisap lidahku.
Merasa tempat kami saat ini kurang aman dan bisa tiba-tiba
kepergok oleh pembantunya, maka Pak Budi membisiki
telingaku sambil mengajakku masuk ke dalam. Pak Budi
rupanya juga tahu kalau posisiku saat ini sudah tidak mungkin
lagi menolak, karena aku sudah benar-benar terangsang
olehnya hingga ujung CD-ku juga sudah lembab oleh elusan
jari-jarinya. Maka aku pun mengikuti Pak Budi dari belakang
saat ia masuk menuju ruang keluarga dan kami menyelinap ke
sebuah kamar tidur yang biasa mereka pakai kalau ada tamu
atau kerabat yang datang menginap.
Setelah menutup dan mengunci pintu dari dalam, Pak Budi
langsung menciumku kembali sambil merebahkan tubuhku ke
tempat tidur. Kakiku masih terjuntai ke bawah sehingga
posisiku yang telentang begini membuat bagian depan rok
miniku terangkat sampai pangkal paha.
Tangan Pak Budi langsung mengelus selangkanganku yang
tersembul keluar, jari tangannya segera disusupkan ke dalam
CD-ku melalui ujung lipatannya. Ujung jari Pak Budi langsung
dapat menyentuh bibir vaginaku dengan mudahnya. Dielus
dan digesek-gesekkannya bibir vaginaku dengan jarinya,
sementara jari telunjuknya mengorek-ngorek klitorisku.
Tangan kirinya mulai membuka kancing hem-ku satu persatu
hingga buah dadaku langsung terpampang dengan jelas karena
aku tidak memakai BH. Seperti kisahku terdahulu, aku memang
sejak kecil tidak suka dan tidak terbiasa mengenakan BH
hingga hingga kini usiaku sudah 28 tahun, aku tetap tidak
pernah memakai BH, jadi tak heranlah kalau aku juga tidak
tahu berapa besar ukuran payudaraku.
Yang jelas payudaraku tidak terlalu besar bentuknya, namun
sangat indah dan berwarna sedikit merah muda agak
kecoklatan di puting dan sekitarnya. Kini payudaraku pun
sudah mulai mengeras, dan giliran mulut Pak Budi turun
mengulum kedua payudaraku secara bergantian. Dihisapnya
puting susuku sambil memainkan ujung lidahnya di ujung
puting susuku.
Tangan kanan Pak Budi mencari dan melepas pengait rok
miniku dan kubiarkan saja bahkan kuangkat sedikit
pinggangku agar dia lebih mudah melepas pengait rok-ku,
kemudian ditarik dan dilemparkannya begitu saja ke lantai.
Langsung saja sisa penutup alat vitalku ditariknya ke bawah,
kakiku pun membantu melepas CD yang kukenakan.
Serta merta Pak budi langsung saja membenamkan wajahnya
di selangkanganku sambil tangannya membuka kedua pahaku
lebar-lebar. Posisinya sekarang berjongkok di tepian tempat
tidur dan wajahnya berada tepat di pangkal pahaku, bibirnya
mengulum bibir kemaluanku dengan lembut, lidahnya
dijulurkannya di antara lipatan bibir vaginaku.
“Ayo masukin dong Pak!” pintaku pada Pak Budi.
Mungkin karena Pak Budi juga tak ingin ketahuan istrinya yang
mungkin saja tiba-tiba pulang, maka ia pun begegas melepas
celananya. Batang kemaluannya yang tidak terlalu besar,
ukurannya biasa saja, langsung ditancapkannya ke dalam liang
vaginaku.
Kami bermain tidak terlalu lama karena takut istrinya tiba-tiba
muncul, namun kami merasakan orgasme secara bersama-
sama saat itu. Sungguh sangat berkesan sekali kejadian itu.
Enak juga ML sambil curi-curi karena takut ketahuan.
E N D

From → selingkuh

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: